Belajar dari Sejarah FIS, Demokerasi yang Terkhianati

Sejarah FIS
Sejarah FIS


Islam masuk ke Aljazair pada saat Daulah Khilafah Bani Umayah, sekitar tahun 682 M. Bermula dari Tunisia, tentara Islam terus berdakwah dan berjihad, bergerak ke arah barat. Sejumlah bangsa Barbar seperti Aljazair, Libya, Maroko (wilayah Magribi) dibebaskan dari penjajahan Romawi, dan hidup di bawah naungan Islam yang damai. Islam mendapat sambutan yang luar biasa di daerah ini. Di samping membebaskan mereka dari penindasan Romawi, Islam menyeru mereka pada kalimat tauhid yang menyatukan seluruh suku bangsa di bawah ukhuwah Islamiyah. Mereka bergabung dengan tentara Islam dari Arab, yang kemudian secara gemilang menaklukkan Spanyol lewat Maroko.


Bersamaan dengan kemunduran Dunia Islam, penjajah Prancis masuk ke wilayah ini. Genderang jihad pun diserukan untuk mengusir penjajah. Perlawanan demi perlawanan terus berlanjut sampai kemudian Prancis harus mengakui kemerdekaan Aljazair pada tahun 1962. Namun, seperti negeri-negeri Islam lain, kemerdekaan ini menjadi semu, karena kemudian yang berkuasa di Aljazair adalah agen-agen Prancis sendiri. Aljazair kemudian menjadi negara sekuler dengan sistem republik yang dipimpin oleh penguasa boneka dan kader-kader binaan Prancis.


Boneka-boneka Prancis ini kemudian menjadi penguasa-penguasa zalim yang menindas rakyatnya sendiri. Aljazair menjadi negara otoriter dengan partai tunggal FLN berkuasa dan mendominasi perpolitikan. Pergantian pemimpinan pun terjadi lewat berbagai gejolak dan insiden berdarah. Sebagian besar pemimpin Aljazair berasal dari militer.


Sebagai negara sekuler, Aljazair menjadi negara yang sangat bergantung pada Prancis; terjerat dalam sistem sekuler yang hanya menguntungkan negara asing dan elit penguasa. Penjajahan masih berlangsung. Aljazair kemudian menjadi negara yang berutang pada Prancis dan IMF. Tentu saja, sama dengan negeri-negeri Islam lainnya, IMF memaksa Aljazair melakukan liberalisasi radikal. Sebagai dampaknya, data tahun 1989, misalnya, menyebutkan bahwa 50% penduduk Aljazair usia produktif (sekitar 25 tahun) adalah pengangguran. Kebobrokan terjadi di hampir segala aspek. Korupsi terjadi di mana-mana.


Kondisi menyedihkan akibat sistem sekuler ini mendorong munculnya gerakan-gerakan Islam yang menyerukan kembali ke jalan Islam. Sistem sekuler dianggap telah gagal dan jalan yang menyelamatkan hanyalah Islam. “Islam adalah solusi,” demikian opini yang dibangun oleh gerakan-gerakan Islam di Aljazair. Rakyat pun menyambutnya karena mereka menyaksikan dan merasakan sendiri, betapa sistem sekuler telah gagal mensejahterakan rakyat. Tidak hanya itu, dengan sistem sekuler ini, mereka dipaksa untuk melepaskan ketaatan yang diperintahkan oleh Allah Swt., yakni menjalankan syariat Islam. Padahal, Islam yang demikian mengakar dalam masyarakat Aljazair selama ini dengan tegas menuntut setiap Muslim untuk menerapkan syariat Islam sebagai bukti keimanan mereka. Apalagi negeri ini pernah merasakan bagaimana indah dan sejahteranya hidup di bawah naungan Islam, yakni saat mereka menjadi bagian dari Khilafah Islamiyah selama berabad-abad.


Bersamaan dengan perubahan konstelasi internasional, setelah runtuhnya Rusia, terjadi pula perubahan peta politik di Aljazair. Pemerintah Benjedid akhir tahun 1980-an menjanjikan kebebasan politik yang lebih luas dan menawarkan demokrasi untuk menanggapi ketidakpuasan rakyat. Beberapa reformasi politik yang dilakukan oleh Benjedid antara lain referandum nasional, revisi konstitusi pada tahun 1989 yang menghapuskan sosialisme Aljazair, mengakhiri monopoli FLN sebagai partai tunggal, dan menawarkan sistem multipartai. Puncaknya, pada 26 Desember 1991, Aljazair menyelenggarakan pemilu nasional multipartai pertama kali sepanjang 33 tahun sejarahnya.


Reformasi politik ini dianggap peluang oleh beberapa gerakan Islam, antara lain FIS, yang kemudian terjun ikut pemilu. Hasilnya mengejutkan banyak pihak. Meskipun sudah merekayasa pembagian distrik dan menahan pimpinan FIS, partai pemerintah FLN tetap saja kalah. FIS berhasil menang pada pemilu nasional putaran pertama. FIS berhasil memenangkan 80% suara atau mendapat 188 dari 231 kursi. Sisa kursi kemudian akan ditentukan dalam pemilu putaran kedua yang diyakini banyak pihak kembali akan dimenangkan oleh FIS.


Kemenangan FIS ini tentu saja disambut sukacita oleh banyak kaum Muslim, terutama yang selama ini percaya pada jalan demokrasi untuk meraih kekuasaan. Bisa disebut, inilah kemenangan pertama gerakan Islam di seluruh dunia lewat sistem demokrasi. Di beberapa negara, gerakan-gerakan Islam yang ikut pemilu hanya mendapat suara yang kecil. Di sisi lain kemenangan FIS ini menimbulkan kontroversi di kalangan kelompok sekuler dan Dunia Barat. Mereka menganggap kemenangan FIS mengancam sistem sekuler mereka. Mulailah muncul upaya-upaya untuk menggoyang kemenangan FIS. Lawan-lawan politik FIS menuduh FIS telah membajak demokrasi untuk membangun pemerintahan fundamentalis Islam yang anti demokrasi. Barat sendiri menunjukkan sikap standar gandanya. Tidak peduli bahwa FIS menang secara demokratis, pihak Barat mengecam kemenangan FIS sebagai ancaman terhadap demokrasi dan menunjukkan kekhawatiran mereka.


Tidak berhenti di situ, untuk mencegah kemenangan FIS, militer kemudian campur tangan. Dengan alasan mempertahankan keamanan dan stabilitas negara, militer mengambil alih kekuasaan dan menurunkan Presiden Benjedid. Suatu badan boneka militer kemudian dibentuk yang disebut Dewan Negara atau Dewan Keamanan Tertinggi. Mulailah terjadi penindasan terhadap FIS dan pihak-pihak yang dekat dengan FIS. Setelah memberlakukan keadaan darurat, hasil pemilu dianulir. Terakhir, FIS pun dinyatakan sebagai partai terlarang. Para pemimpin, anggota, dan orang-orang yang dicurigai sebagai anggota atau simpatisan FIS ditahan dan disiksa. Lebih dari 10.000 tokkoh Islam ditahan di kamp-kamp konsentrasi di Sahara; masjid-masjid serta pusat-pusat sosial FIS ditutup; aset-aset mereka disita; dan ulama-ulama yang kritis diganti dengan ulama-ulama binaan pemerintah.


Sementara itu, pemerintah Barat memilih diam seribu bahasa atau sedikit memberikan komentar. Jelas, mereka mendukung upaya pemberangusan FIS meskipun FIS nyata-nyata menang secara demokratis. Bagi Barat, demokrasi hanya berlaku kalau menguntungkan kepentingan mereka. Sebaliknya, kalau mengancam, demokrasi pun diberangus. Tidak hanya itu, pemerintah diktator yang otoriter pun didukung habis-habisan asal bisa mencegah munculnya kemenangan Islam. Hal ini merupakan bukti nyata kebohongan demokrasi yang dikampanyekan oleh Barat. Kebebasan yang diberikan demokrasi tetap memiliki syarat tunggal, yakni tidak menghancurkan sistem demokrasi dan kepentingan Barat!

Akhbar Sanusi
Akhbar Sanusi Pendiri SEO Kilat, penulis e-book SEO Storm Resistant, desainer, dan kontributor konten SEO.

Tidak ada komentar untuk "Belajar dari Sejarah FIS, Demokerasi yang Terkhianati"