Suku Baduy : Mengenal Penduduk Desa Kanekes

Suku Baduy
Suku Baduy : Mengenal Penduduk Desa Kanekes

Kembali lagi di situs ilmu pengetahuan ID. Seperti judul yang kita lihat bersama diatas, kali ini materi yang akan kita hadirkan adalah mengenai Suku Baduy. Bagi kamu yang bertanya tanya apa itu suku baduy, dan ingin mengetahui lebih dalam siapa dan bagaimana kehidupan orang orang suku baduy simak penjelasan berikut ini.

1. Apa Itu Suku Baduy ?

Suku Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda yang berada di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para penelitiBelanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.

Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.

Baca Juga : Fakta Menarik Hutan Aokigahara

 

2. Pembagian Suku Baduy

a. Suku Baduy Dalam

Suku Baduy Dalam mempertahankan budaya mereka yaitu mengisolasi diri dari segala pengaruh luar. Suku Baduy Dalam menganggap bahwa pengaruh budaya lain dapat merusak budaya mereka. Berikut di bawah ini adalah ciri-ciri suku baduy dalam.

  • Adanya larangan keras untuk menggunakan alas kaki.
  • Pintu rumah harus menghadap ke utara atau selatan (kecuali rumah Pu’un/Ketua Adat)
  • Tidak membolehkan penggunaan alat listrik atau teknologi.
  • Larangan menggunakan kendaraan sebagai alat transportasi.
  • Berpakaian serba putih/hitam yang ditenun dan dijahit sendiri, tidak boleh menggunakan pakaian modern, mengenakan ikat kepala berwarna putih.
  • Tidak membolehkan segala jenis penggunaan bahan kimia.
  • Setiap rumah penduduk Baduy Dalam memiliki peraturan dalam membangun rumah (hukum dan adat larangannya) yaitu tidak boleh menggeser apapun benda alam, seperti : batu.
  • Rumah hanya terdiri dari satu pintu tanpa ada jendela.

b. Suku Baduy Luar

Perbedaan antara suku Baduy Dalam dan suku Baduy Luar sebenarnya tidak terlalu Signifikan. Hanya saja Suku Baduy Luar cenderung lebih terbuka dan masih mau menerima budaya-budaya dari luar tanpa melupakan budaya aslinya. Berikut ini adalah ciri-ciri dari suku baduy luar.

  • Sudah mengenal teknologi.
  • Menggunakan pakaian adat berwarna hitam atau biru tua (laki-laki) sebagai simbol bahwa mereka tidak suci bahkan menggunakan pakaian modern seperti T-shirt, kemeja maupun celana jeans, berikat kepala hitam.
  • Proses pembangunan rumah telah menggunakan alat bantu seperti gergaji, paku dan lainnya
  • Telah menggunakan peralatan rumah tangga modern seperti kasur, bantal, piring dan lainnya.
  • Tinggal di luar wilayah Suku Baduy Dalam.
  • Sisi religinya sudah terpengaruh sehingga ada di antara mereka yang telah memeluk agama selain kepercayaan animisme yang masih tetap ada.
  • Proses pembangunan rumah boleh memindahkan batu maupun meratakan tanah, sehingga panggung yang digunakan tidak terlalu tinggi.

 

3. Asupan Makanan Suku Baduy

Masyarakat Suku Baduy mendapatkan asupan protein yang berasal dari ikan dengan cara memancingnya di sungai. Dalam beberapa kondisi, masyarakat suku baduy mendapatan asupan protein dari ayam sebagai hadiah jika menyelenggarakan hajatan. Adapun untuk sumber karbohidrat, mereka mengkonsumsi beras yang mereka tanam sendiri melalui sistem ladang. Jumlah padi yang melimpah membuat penduduk suku baduy “terpaksa” membuat gubug untuk menyimpan padi selama 50 tahun lamanya.

Meskipun secara umum Suku Baduy tidak terjamah oleh teknologi terkini, namun mereka memiliki pengetahuan yang cukup bagaimana agar gubuk padi mereka aman dari serangan hama. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah gubug yang memiliki panggung, sehingga tikus tidak bisa masuk kedalam. Setelah itu mereka pun menambahkan dedaunan khusus, yang berguna untuk mengusir serangga atau hama padi yang disimpan. Dengan menerapkan sistem ladang, masyarakat suku baduy pun dapat memperoleh karbohidrat dari padi. Setelah mereka membuat sistem ladang dan kesuburan tanah mulai berkurang, mereka kemudian melakukan pembakaran hutan setelah panen raya, agar kesuburan tanah kembali muncul. Dan apabila kesuburan dirasa berkurang, mereka menggunakan sejumlah sampah rumah tangga dan membakarnya untuk dijadika pupuk.

 

4. Lokasi Wilayah Suku Baduy

Lokasi geografi wilayah Suku Baduy terletak pada 60 27’ 27” – 60 30’ LU dan 1080 3’ 9” – 1060 4’ 55” BT, di desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Rangkasbitung Banten. Terdiri dari kampung Gajebo, Cikeusik, Cibeo, dan Cikertawana. Serta terbagi atas Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar. Daerahnya memiliki luas sekitar 138 ha, dan terdiri atas 117 kk yang menempati 99 rumah yang dinamakan Culah Nyanda atau rumah panggung. Sedangkan rumah kokolot atau duku dinamakan Dangka, yang menghadap ke arah selatan. Jumlah penduduk masyarakat suku baduy kurang lebih sekitar 10.000 jiwa. Umumnya, mereka para penduduk suku baduy tinggal di wilayah yang berbukit-bukit, dan berhutan-hutan, dengan memilki lembah yang curam, sedang, dan curam sekali. Berdasarkan hasil pengukuran langsung di lapangan, wilayah-wilayah pemukiman suku baduy rata-rata terletak pada ketinggian 250 meter diatas permukaan laut. Adapun wilayah pemukiman penduduk di daerah yang cukup rendah biasanya terletak 150 m diatas permukaan laut. Sedangkan pemukiman penduduk yang cukup tinggi umumnya berada pada ketinggian 400 meter diatas permukaaan laut (DPL).

 

5. Pemimpin Desa Suku Baduy

Desa Suku Baduy, yakni Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang dikenal dengan sebutan Jaro Pamarentah yang berada di bawah camat. Namun untuk urusan adat istiadat, masyarakat penduduk suku baduy tunduk kepada kepala pemerintahan tradisional yang dikenal dengan sebutan Puun. Adapun yang membedakan kepala desa Kanekes dengan kepala desa lainnya ialah kepala desa Kanekes tidak dipilih oleh warga atau masyarakat, melainkan ditunjuk langsung oleh puun. Kemudian orang yang ditunjuk oleh puun tersebut diajukan kepada bupati melalui camat, untuk dikukuhkan sebagai kepala desa Kanekes.

Adapun mengenai pemimpin tertinggi di masyarakat suku baduy, yakni Puun. Terdapat tiga orang puun di wilayah baduy, mereka adalah Puun Cikeusik, Puun Cibeo dan Puun Cikertawana. Puun-Puun tersebut adalah “tri tunggal”. selain berkuasa di wilayahnya masing-masing, mereka secara bersama-sama juga memegang kekuasaan pemerintahan tradisional masyarakat suku baduy.

 

Penutup

Demikianlah uraian materi singkat kali ini mengenai Suku Baduy, semoga bermanfaat dan membantu para pembaca dimana pun berada. Terima kasih atas perhatiannya dan sampai jumpa di rubrik pengetahuan kita lainnya.

 

Daftar Pustaka

  • Garna, J.K. 1993. “Orang Baduy di Jawa: Sebuah Studi Kasus mengenai Adaptasi Suku Asli terhadap Pembangunan” dalam Lim Teck Ghee & Alberto G. Gomes (peny.). Suku Asli dan Pembangunan di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Academia.edu

Editor : Owner Fungsi.net, Mantan Guru SDIT Alhanif Cilegon Banten dan Madrasah Ibtidaiyah Jamilurrahman Assalafy