Orang Utan – Primata Yang Terancam Punah

Orang Utan
Orang Utan – Primata Yang Terancam Punah

Klasifikasi Orang Utan

KingdomAnimalia
FilumChordata
KelasMamalia
OrdoPrimata
FamilyHominidae
Sub FamilyPonginae (Elliot, 1912)
GenusPongo (Lacépède, 1799)

a. Pengertian Orang Utan

Orang utan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia, sementara tiga kerabatnya, yaitu; gorila, simpanse, dan bonobo hidup di Afrika. Kurang dari 20.000 tahun yang lalu Orang Utan dapat dijumpai di seluruh Asia Tenggara, dari Pulau Jawa di ujung selatan sampai ujung utara Pegunungan Himalaya dan Cina bagian selatan. Akan tetapi, saat ini jenis kera besar itu hanya ditemukan di Sumatera dan Borneo (Kalimantan), 90% berada di Indonesia. Penyebab utama mengapa terjadi penyempitan daerah sebaran adalah karena manusia dan Orang Utan menyukai tempat hidup yang sama, terutama dataran alluvial di sekitar daerah aliran sungai dan hutan rawa gambut. Pemanfaatan lahan tersebut untuk aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya manusia umumnya berakibat fatal bagi pihak Orang Utan. Para ahli primata saat ini sepakat untuk menggolongkan Orang Utan yang hidup di Sumatera sebagai Pongo abelii yang berbeda dari Pongo pygmaeus yang menempati hutanhutan dataran rendah di Borneo. Dibandingkan dengan kerabatnya di Borneo, Orang Utan sumatera menempati daerah sebaran yang lebih sempit.

 

b. Pendapat Para Ahli Mengenai Orang Utan

Para ahli primata saat ini sepakat untuk menggolongkan Orang Utan yang hidup di Sumatera sebagai Pongo abelii yang berbeda dari Pongo pygmaeus yang menempati hutan-hutan dataran rendah di Borneo. Dibandingkan dengan kerabatnya di Borneo, Orang Utan sumatera menempati daerah sebaran yang lebih sempit. Orang Utan di Sumatera hanya menempati bagian utara pulau itu, mulai dari Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan. Sementara itu, di Borneo Orang Utan dapat ditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruh hutan dataran rendah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam. Orang Utan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak; Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito; dan Pongo pygmaeus morio, yang tersebar mulai dari Sabah sampai ke selatan mencapai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

 

c. Kehidupan Orang Utan di Kalimantan

Maraknya pemberitaan perburuan liar pada Orang Utan di Kutai Kartanegara membuat penulis ingin tahu seberapa seriusnya pemerintah daerah Kutai Kartanegara dalam dalam memberikan tindak pidana hukum terhadap kasus yang sedang marak terjadi di daerahnya. Dari tahun ketahun populasi Orang Utan di Kalimantan merosot tajam 1,5-2% per tahunnya.Pada tahun 1987, populasi Orang utan diperkirakan 4000-180.000 individu, dan antara tahun 1996-97 terjadi penurunan populasi sebesar 12% dari perkiraan populasi total 4075 individu dan pada tahun 90-a kehilangan habitat Orang Utan di kalimantan timur sebesar 56%.Dengan besar nya presentase yang terdapat di Kalimantan menyebabkan pemrosotan jumlah populasi Orang Utan yang sangat signifikan. Pemerosotan populasi Orang utan di Kalimantan tidak jauh dari faktor perkembanga sektor kelapa sawit dan pertambangan di Kalimantan. Padahal Orang utan telah di lindungi oleh peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 tahun 1990 tentang sumber daya alam hayati dan ekosistem, peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang -pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar ,dan Undang-Undang pemerintah No. 8 tahun 1999 tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.

 

d. Orang Utan di Sumatera

Orang utan di Sumatera hanya menempati bagian utara pulau itu, mulai dari Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan. Sementara itu, di Borneo Orang Utan dapat ditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruh hutan dataran rendah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam. Orang utan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak; Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito; dan Pongo pygmaeus morio, yang tersebar mulai dari Sabah sampai ke selatan mencapai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

 

e. Orang Utan Sebagai Umbrella Species

Orang utan dapat dijadikan ‘umbrella species’ (spesies payung) untuk meningkatkan kesadaran konservasi masyarakat. Kelestarian Orang Utan menjamin kelestarian hutan yang menjadi habitatnya, sehingga diharapkan kelestarian makhluk hidup lain ikut terjaga pula. Sebagai pemakan buah, Orang Utan merupakan agen penyebar biji yang efektif untuk menjamin regenerasi hutan. Orang utan juga sangat menarik dari sisi ilmu pengetahuan karena kemiripan karakter biologi satwa itu dengan manusia. Sebagai satu-satunya kera besar
yang hidup di Asia, Orang Utan memiliki potensi menjadi ikon pariwisata untuk Indonesia.

 

f. Habitat Orang Utan

Orang Utan menyukai hutan hujan tropis dataran rendah sebagai tempat hidupnya, sehingga perlindungan ekosistem tersebut sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup satwa itu. Meskipun Pemerintah telah membangun sistem kawasan konservasi seluas 6,5 juta hektar di Sumatera bagian utara dan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, upaya pengelolaan kawasan hutan yang menjadi habitat Orang Utan di luar taman nasional dan cagar alam tidak kalah pentingnya. Pemanfaatan kawasan hutan, baik untuk industri kayu maupun pertanian, yang tidak memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan terbukti berdampak sangat buruk bagi keberadaan Orang Utan.

 

g. Ekosistem Orang Utan Telah Terancam

Pembukaan kawasan hutan merupakan ancaman terbesar terhadap lingkungan karena mempengaruhi fungsi ekosistem yang mendukung kehidupan di dalamnya. Selama periode tahun 1980-1990, hutan Indonesia telah berkurang akibat konversi menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman, kebakaran hutan, serta praktek pengusahaan hutan yang tidak berkelanjutan. Pengembangan otonomi daerah dan penerapan desentralisasi pengelolaan hutan pada 1998 juga dipandang oleh banyak pihak sebagai penyebab peningkatan laju deforestasi di Indonesia. Pembangunan perkebunan dan izin usaha pemanfaatan kayu yang dikeluarkan pemerintah daerah turut berdampak terhadap upaya konservasi Orang Utan.

Semenjak desentralisasi diimplementasikan sepenuhnya pada tahun 2001, sebagian tanggungjawab pengelolaan kawasan hutan diserahkan kepada pemerintah daerah. Pemberian izin HPH 100 Ha yang terjadi pada tahun 2001-2002 dengan pola tebang habis menyebabkan pengelolaan hutan semakin sulit. Sementara itu perencanaan tata guna lahan seringkali tidak mempertimbangkan prinsip-prinsip ekologi dan konservasi sumberdaya alam. Ini terlihat dari meningkatnya jumlah pengusahaan hutan dan izin konversi hutan.(Chairul Saleh (Yayasan World Wide Fund for Nature Indonesia),2003).

Perubahan fungsi kawasan hutan menjadi area penggunaan lain (APL) yang dilakukan tanpa mentaati peraturan perundangan yang berlaku berperan sangat besar terhadap penyusutan populasi dan habitat Orang Utan. Perubahan penggunaan lahan umunya tidak mempertimbangkan faktor ekologi dan konservasi. Pertemuan yang diselenggarakan di Berastagi dan Pontianak telah mengidentifikasi berbagai ancaman yang berpotensi meningkatkan risiko kepunahan Orang Utan di Sumatera dan Kalimantan.

 

h. Ciri dan Karakteristik Orang Utan

Orang Utan merupakan satu-satunya primata terbesar di Asia. Ukuran tubuhnya (dewasa) mencapai 137cm dengan berat sekitar 85kg. Ukuran tubuh Orang Utan betina lebih kecil di banding yang jantan. Sesuai daerah penyebarannya, ada dua jenis Orang utan, yaitu Orang utan Sumatra (Pongo abelii) dan Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmeus). Sepintas kedua jenis satwa ini terlihat tidak berbeda. Tetapi ,jika di teliti lebih jauh keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas. Dari kenampakan luar, Orang Utan Kalimantan berwarna merah-coklat terang, sementara Orang Utan Sumatra berwarna merah-coklat gelap. Para peneliti binatang menjelaskan bahwa selain perbedaan karakter morfologi,pada genetika kedua binatang ini juga memiliki perbedaan yang sangat jelas. Dibandingkan dengan primata lainnya seperti monyet dan gorila yang hidupnya berkelompok, Orang Utan merupakan binatang soliter (hidup sendiri). Hanya induk dengan anaknya yang berumur kurang dari tiga tahun yang tinggal bersama, sedangkan Orang Utan dewasa lainnya tinggal sendiri-sendiri. Orang Utan juga disebut primata aboreal yaitu hidup di atas pohon. Sebagian besar kegiatan Orang Utan di lakukan di atas pohon.

 

Penutup 

Demikianlah uraian materi singkat kali ini mengenai orang utan. Semoga bermanfaat dan menginformasi para pembaca dimana pun berada. Khususnya para pelajar Indonesia dimana pun berada. Terima kasih atas perhatiannya dan sampai jumpa.

Source : Academia.edu

Editor : Admin Contoh-Contoh.Com