Hikayat : Pengertian, Ciri, Macam dan Struktur

hikayat

 

1. Pengertian

Hikayat berasal dari kata Arab yang berarti cerita sastra. Hikayat merupakan bentuk cerita yang berasal dari Arab dan juga merupakan kisah yang amat panjang. Hiikayat itu hampir mirip dengan dongeng, penuh dengan daya fantasi.

Menurut Dick Hartoko dan B. Rahmanto (1985 : 59) bahwa hikayat adalah jenis prosa, cerita Melayu Lama yang mengisahkan kebesaran dan kepahlawanan orang-orang ternama, para raja atau para orang suci di sekitar istana dengan segala kesaktian, keanehan ,dan mirip cerita sejarah atau membentuk riwayat hidup.

Hikayat merupakan salah satu bentuk sastra melayu lama. Hikaayat berisi cerita, Undang-undang, dan silsilah yang bersifat rekaan, keagamaan, sejarah, kepahlawanan, biografi, atau gabungan sifat-sifat tersebut dengan tujuan untuk pelipur lara, membangkitkan semangat juang, atau sekedar meramaikan pesta.

 

2. Ciri-Ciri Hikayat

  1. Anonim : Pengarangnya tidak dikenal
  2. Istana Sentris : Menceritakan tokoh yang berkaitan dengan kehidupan istana/ kerajaan
  3. Bersifat Statis : Tetap, tidak banyak perubahan
  4. Bersifat Komunal : Menjadi milik masyarakat
  5. Menggunakan bahasa klise : Menggunakan bahasa yang diulang-ulang
  6. Bersifat Tradisional : Meneruskan budaya/ tradisi/ kebiasaan yang dianggap baik
  7. Bersifat Didaktis : Didaktis moral maupun didaktis religius (Mendidik)
  8. Menceritakan Kisah Universal Manusia : Peperangan antara yang baik dengan yang buruk, dan dimenangkan oleh yang baik
  9. Magis : Pengarang membawa pembaca ke dunia khayal imajinasi yang serba indah.

 

3. Macam-Macam Hikayat

Macam-macam hikayatt dapat di bedakan berdasarkan isi dan asalnya, yaitu:

  • Macam-macam Hikayatt berdasarkan isinya, diklasifikasikan menjadi 6 :
  1. Cerita Rakyat
  2. Epos India
  3. Cerita dari Jawa
  4. Cerita-cerita Islam
  5. Sejarah dan Biografi
  6. Cerita berbingkat

 

  • Macam-macam Hikayat berdasarkan asalnya, diklasifikasikan menjadi 4 :
  1. Melayu Asli
    Contoh:
    – Hikayat Hang Tuah (bercampur unsur islam)
    – Hikayat Si Miskin (bercampur unsur islam)
    – Hikayat Indera Bangsawan
    – Hikayat Malim Deman
  2. Pengaruh Jawa
    Contoh:
    – Hikayat Panji Semirang
    – Hikayat Cekel Weneng Pati
    – Hikayat Indera Jaya (dari cerita Anglingdarma)
  3. Pengaruh Hindu (India)
    Contoh:
    – Hikayat Sri Rama (dari cerita Ramayana)
    – Hikayatt Perang Pandhawa (dari cerita Mahabarata)
    – Hikayat Sang Boma (dari cerita Mahabarata)
    – Hikayat Bayan Budiman
  4. Pengaruh Arab-Persia
    Contoh:
    – Hikayat Amir Hamzah (Pahlawan Islam)
    – Hikayat Bachtiar
    – Hikayatt Seribu Satu Malam

 

4. Struktur Cerita Hikayat

Hikayat mempunyai struktur cerita yang berbeda dengan karya sastra melayu lain, antara lain:

  • Dimulai dengan menceritakan asal muasal tokoh utamanya
  • Ada beberapa hikayat yang dimulai dengan kelahiran tokohnya
  • Semua peristiwa diceritakan secara mengagumkan berhubungan dengan kesaktian dan pengalaman-pengalaman yang penuh bahaya
  • Beberapa hikayat dimulai dengan kata pertama syahdan, artian, alkisah, atau sebermula.

 

5. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat

A. Unsur Instrinsik

1. Tema

Tema adalah pokok pikiran yang menjadi dasar cerita yang dicetuskan oleh pengarang. Biasanya, tema hikayat berupa kehidupan kerajaan, hal-hal di luar akal pikiran (ajaib), petualangan, ketuhanan, dan lain-lain. Tema dominan dalam hikayatt adalah petualangan

 

2. Tokoh dan penokohan.

Tokoh dan penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan karakter seorang tokoh tersebut, pengarang dapat menggunakan teknik sebagai berikut.

  • Penggambaran fisik dan perilaku tokoh.
  • Penggambaran oleh tokoh lain.

Tokoh dalam sebuah hikayat atau cerita fiksi dapat dibedakan kedalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan.

  1. Berdasarkan tingkat peanan sebuah cerita, tokoh dapat dibedakan sebagai berikut:
  2. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam cerita yang besangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.
  3. Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidah sentral kedudukannya didalam cerita, tetai kehadirannya sangat di perlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama.
  4. Berdasarkan fungsi penampilan tokoh, tokoh dapat dibedakan sebagai berikut:
  5. Tokoh protagonis, adalah tokoh yang merupkan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita.
  6. Tokoh antagonis adalah tokoh penentang utama dari protagonis

 

Berdasarkan perwatakan nya, takoh dapat dibedakan sebagai berikut:

  1. Tokoh sederhana, adalah tokoh yang hanyaa memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat watak tertentu saja. Ia tidak diungkapkan berbagai kemungkinan sisi kehidupannya. Sifat dan tingkah laku tokoh ini bersifat datar, monoton, dan hanya mencerminkan satu watak tertentu.
  2. Tokoh bulat, adalah tokoh yang memiliki berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian, dan jati dirinya. Ia dapat menampilkan watak dan tingkah laku bermacam-macam, bahkan mungkin bertetangan dan sulit diduga.

 

3. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu, bulat dan utuh. Dalam hikayat, terdapat beberapa peristiwa yang pada dasarnya merupakan wadah pertentangan antara tokoh utama yang baik dan tokoh utama yang jahat. Biasanya yang baiklah yang mendapatkan kemenangan gemilang, sedangkan yang jahat dapat dikalahkan. Pada umumnya tokoh utama berada di pihak yang benar, berwatak baik, dan dengan kehebatan dan kesaktiannya dia unggul dalam suatu perkelahian atau pertentangan.

 

4. Latar

Latar yaitu tempat, hubungan waktu, suasana, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa secara konkret dan jelas. Unsur latar dibagi empat, yaitu:

  • Latar tempat, merujuk pada lokasi berupa tempat-tempat dengan nama tertentu terjadinya peristiwa.
  • Latar waktu, berhubungan dengan ‘kapan’ terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
  • Latar sosial, merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang di ceritakan dalam hiikayat. Pada umumnya, berkaitan dengan tradisi dan adat-istiadat yang masih kental.
  • Latar suasana, berhubungan dengan keadaan yang tergambar dalam hikayat. Misalkan ketakutan, romantisme, dan lain-lain.

 

5. Gaya Bahasa

Gaya bahasa, adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas, dan penghematan kata. Dalam hikayat, yang digunakan yaitu bahasa Melayu dengan berbagai macam diksi, majas, dan penggunaan katanya cenderung tidak efektif, sehingga kita sulit memahaminya. Namun, ada beberapa hikayat yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sehingga kita tidak kesulitan dalm membacanya.

 

6. Sudut pandang

Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya dalam bercerita. Pencerita biasanya menempatkan diri ebagai orang ketiga, dengan menggunakan teknik ‘diaan’, menempatkan pencerita sebagai orang pertama hanya terdapat dalam hikayat Abdullah.

 

7. Amanat

Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Biasanya berisi petuah kehidupan, dan sebagainya

 

B. Unsur Ekstrinsik

1. Nilai

Nilai merupakan ajaran-ajaran yang terkandung dalam sebuah cerita. Nilai terbagi menjadi tujuh, antara lain:

  • Nilai ketuhanan, berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta.
  • Nilai agama, menyangkut aturan-aturan yang terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhan.
  • Nilai moral, yaitu hubungan yang menyangkut masalah baik buruk,   sopan santun, dan etika antar manusia.
  • Nilai budaya, merupakan masalah adat-istiadat, bahasa, dan kepercayaan.
  • Nilai sosial, menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia lain dalam kehidupan sosialnya.
  • Nilai pendidikan, berhubungan dengan ajaran yang dapat diambil    dari sebuah cerita.
  • Nilai psikologis; menyangkut masalah eksisitensi diri manusia, kebimbangan, ketakutan, dendam, dan hal lain yang dialami oleh manusia. Lebih lanjutnya, nilai psikologis berhubungan dengan kejiawaan dalam diri manusia.

 

2. Latar Belakang

Latar belakang sosial budaya. Biasanya masih terikat dengan tradisi dan adat-istiadat setempat.

 

3. Latar belakang pendidikan pengarang.

Para penulis hikayat sudah berpendidikan cukup tinggi, terbukti dengan karya-karyanya yang masih bertemakan kehidupan kerajaan. Sedangkan, cerita rakyat biasa sangat jarang di ceritakan. Sekalipun ada, cerita rakyat tersebut bertemakan kepahlawanan, kecerdikan seseorang, dan kemalangan seseorang. Selain itu, terbukti dengan penggunaan bahasa Melayu tinggi, bukan bahasa Melayu sehari-hari (Lingua Franca).

Pada umumnya, unsur ekstrinik dalam hikayat hanya nilai-nilai yang terkandung saja.

 

Kesimpulan

Hikayaat merupakan salah satu bentuk sastra melayu lama. Hikaayat berisi cerita, Undang-undang, dan silsilah yang bersifat rekaan, keagamaan, sejarah, kepahlawanan, biografi, atau gabungan sifat-sifat tersebut dengan tujuan untuk pelipur lara, membangkitkan semangat juang, atau sekedar meramaikan pesta. Sebagai salah satu karya sastra melayu klasik hikayat banyak mengandung nilai-nilai kehidupan yang bermanfaat bagi para pembacanya.

Baca Juga : Konjungsi

 

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2007, hal. 401.
Dr. Andoyo Sastromiharjo, M.Pd., Bahasa Dan Sastra Indonesia 2, Jakarta: Yudhistira, 2011, hal. 17-18
Source : www.academia.edu
Author : Dira Adriani

Ada masukan, saran atau kritikan? Kirim pesan Anda pada kami melalui form di bawah ini.