Ghibah : Pengertian, Dalil, Hukum, dan Contohnya

Pengertian Ghibah

Ghibah berasal dari bahasa arab “غيبة”. Ghibah adalah kondisi dimana seseorang menyebutkan kejelekan saudaranya, yang ia tidak suka bila kejelekan tersebut terdengar atau diketahui oleh orang lain. Pengertian ghibah ini berangkat dari dalil hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata (maksudnya Baginda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda), “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

 

Ghibah Menurut Imam An-Nawawi

Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, atau yang lebih dikenal sebagai Imam Nawawi menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan kejelekan orang lain di saat ia tidak ada saat pembicaraan. (Syarah Shahih Muslim, 16: 129).

 

Ghibah Menurut Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu

Abdullah Bin Mas’ud atau Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan merupakan salah seorang sahabat nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang paling awal masuk ke dalam islam ketika Nabi mengawali dakwahnya di kota Mekkah. Beliau menjelaskan bahwa, Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan.

Berangkat dari hadits diatas, para ulama menjelaskan bahwa hakikat dari ghibah adalah suatu kondisi ketika Anda menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri saudara Anda, yang sekiranya ia mengetahui bahwa Anda membicarakannya, maka ia pun membencinya.

 

Dalil Dalil Tentang Ghibah

1. Hadits Riwayat Muslim no. 2589 (Telah disebutkan diatas)

2. Surat Al-Hujurat ayat 12

وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]

3. Perkataan ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu

(عَنْ قَيْسٍ قَالَ : مَرَّ عَمْرُو بْنُ العَاصِ عَلَى ببَغْلٍ مَيِّتٍ, فَقَالَ : وَاللهِ لأََنْ يَأْكُلَ أَحَدُكُمْ مِنْ لَحْمِ هَذَا (حَتَّى يمْلأَ بَطْنَهُ) خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ (الْمُسْلِمِ)

“Dari Qais, dia berkata: ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anh melewati bangkai seekor bighol (hewan hasil persilangan kuda dengan keledai), lalu beliau berkata: “Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”Maksudnya adalah Ghibah.

4. Hadits Riwayat Muslim
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah harom, yaitu darahnya, kehormatannya, dan hartanya”. [HR. Muslim]

Maksudnya adalah, ketika seseorang mengghibahi saudaranya, berarti ia telah melukai kehormatan saudaranya tersebut. Adapun yang dimaksud kehormatan disini adalah sesuatu hal yang bisa mendatangkan pujian atau pun celaan.

5. Hadits dari Anas Bin Malik Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَال : قَالَ رَسُوْلُ الله : مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَى قَوْمٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ بِأَظَافِرِيْهِمْ, فَقُلْتُ : يَا جِبْرِيْلُِ مَنْ هَؤُلآءِ؟ قَالَ : الَّذِيْنَ يَغْتَابُوْنَ النَّاسَ, وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Pada malam isra’ aku melewati sekelompok orang yang melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”, lalu aku bertanya: ”Siapakah mereka ya Jibril?”. Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang mengghibahi manusia, dan mencela kehormatan-kehormatan mereka”.

 

Hukum Ghibah

Menimbang dari banyaknya dalil baik dari ayat, hadits, qoul ulama, dan ijma’ kaum muslimin, hukum ghibah adalah haram, dan seluruh ulama telah sepakat akan keharamannya. Hanya saja, terdapat beberapa perselisihan antara apakah ghibah termasuk ke dalam dosa besar atau kah dosa kecil.

 

Ghibah Yang Diperbolehkan

Di depan kita telah menjelaskan bahwa, ghibah adalah kondisi ketika Anda menyebutkan sesuatu hal pada diri saudara Anda, yang ia tidak suka atau membencinya bila Anda membicarakannya pada orang lain. Uraian diatas juga telah menjelaskan bahwa para ulama sepakat akan keharaman dari perbuatan ghibah. Hanya saja, terdapat beberapa kondisi dimana para ulama memperbolehkan bagi kita untuk melakukan ghibah. Kondisi-kondisi tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

1. Membuat pengaduan atau pengakuan kepada pihak yang berwenang bahwa telah terjadi kezaliman.

2. Meminta tolong kepada pihak yang mampu untuk menghilangkan atau menghapus kezaliman yang diperbuat oleh seseorang, atau bertujuan membuat orang tersebut tersadar akan perbuatannya.

3. Bertujuan meminta fatwa kepada seorang mufti / ulama.

4. Bertujuan memberikan peringatan kepada kaum muslimin atas kejelekan sesuatu hal, semisal: jeleknya hapalan seorang perawi hadits.

5. Mengungkap sebuah perbuatan maksiat yang dilakukan secara terang terangan dengan tujuan memberikan peringatan agar berhati hati terhadap orang tersebut.

6. Menyebut seseorang dengan sebuah panggilan yang telah ma’ruf dalam lingkungannya, misal: si buta. (khusus dalam poin ke 6 ini, menyebut dengan panggilan yang baik jauh lebih utama dan lebih bertata krama). (Syarah Shahih Muslim, 16: 124-125)

 

Contoh-Contoh Perbuatan Ghibah

1. Fulan bercakap-cakap dengan budi sambil berkata, bahwa fulanah suka meminum khamr bersama pria yang bukan mahramnya.

2. Fulanah sibuk membicarakan aib fatonah dengan teman-temannya.

3. Pembawa acara yang menyiarkan, dan menyebarkan aib rumah tangga orang lain melalui media penyiaran.

4. dan lain lain

 

Judul : Ghibah : Pengertian, Dalil, Hukum, dan Contohnya

Diterbitkan pertama kali di ilmupengetahuan.id

Silahkan mengcopy tulisan asli ini ke situs atau web Anda, dengan syarat memiliki kesadaran kemanusiaan, dengan memberikan backlink aktif ke artikel asli ini. Terima kasih.