Sosialisasi

Sosialisasi

Master
Thursday, July 11, 2019

Sosialisasi
Sosialisasi

Sosialisasi

Masyarakat mengharapkan terciptanya ketertiban sosial yang akan menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup. Agar dapat mewujudkan harapan sosial itu, setiap warga harus menghayati nilai dan norma sosial yang berlaku. Upaya yang ditempuh adalah dengan menjalani sosialisasi. Nilai dan norma yang ditanamkan pada individu akan membentuk kepribadian. Melalui proses inilah kepribadian individu menjadi ciri khas yang membedakan dari individu lain.

1. Pengertian Sosialisasi

Tanggung jawab merupakan suatu hal yang dinilai tinggi oleh masyarakat. Setiap warga diharapkan mempunyai sikap ini. Sikap tanggung jawab mendorong seseorang memusatkan perhatian kepada tugas. Dia berani menolak setiap kegiatan yang akan mengalihkan perhatiannya dari tugas tersebut walaupun kegiatan itu menarik hati. Seseorang yang bertanggung jawab terhadap tugas akan mendapatkan penghormatan yang lebih dari lingkungannya. Karena kemampuan bertanggung jawab itu penting, maka tanggung jawab dipahamkan kepada setiap individu sejak kecil. Secara bertahap, individu dilatih mengemban tanggung jawab. Mula-mula dia diberi tugas yang ringan. Dia belajar bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas itu. Jika tugas-tugas ringan berhasil diselesaikan, individu akan diserahi tugas-tugas yang lebih berat. Nah, cikal bakal sikap bertanggung jawab akan terus tumbuh dalam jiwanya. Proses belajar ini berlangsung terus-menerus.

Melalui proses belajar semacam ini, seseorang juga mempelajari kebiasaan-kebiasaan, norma-norma, perilaku, peran, dan semua aturan yang berlaku di masyarakat. Proses mempelajari unsur-unsur budaya suatu masyarakat inilah yang disebut dengan sosialisasi. Menurut Bruce J. Cohen sosialisasi dipahami sebagai proses pembelajaran seorang individu terhadap nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat sehingga seseorang menjadi bagian dari masyarakat. Oleh karena itu, sosialisasi menjadi penghubung antara individu dengan masyarakat. Sosialisasi memiliki dua fungsi. Dari pihak individu, sosialisasi merupakan proses sosial yang menjadikan seseorang sebagai bagian dari suatu kebudayaan setelah mengetahui, menghayati, dan melak- sanakan seluruh sistem nilai budaya yang ada. Sementara itu, dari kepentingan masyarakat, sosialisasi berfungsi untuk mempertahankan kebudayaan masyarakat tersebut dengan cara mengajar dan mem- biasakan seseorang agar selaras dengan pelbagai unsur sistem nilai budaya yang berlaku.


2. Sosialisasi Primer dan Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi menarik perhatian banyak ahli sosial. Di antara para ahli yang tertarik untuk mengkajinya ialah Berger dan Luckman dalam Kamanto Sunarto (2000). Mereka mempelajari proses sosialisasi sehingga menghasilkan konsep sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Bagaimana pengertian kedua konsep tersebut?

Pertama kali, individu menjalani sosialisasi di lingkungan keluarga. Dia mempelajari berbagai pandangan hidup dan aturan masyarakat melalui didikan orang tuanya. Pandangan hidup dan aturan masyarakat tertanam dalam diri sang individu. Proses sosialisasi pertama yang dijalani individu itu dinamakan sosialisasi primer oleh Berger dan Luckman.

Setelah menjalani sosialisasi primer, individu dianggap cukup mempunyai bekal untuk bergaul di lingkungan yang lebih luas. Individu kemudian berinteraksi dengan orang-orang di luar lingkungan keluarganya. Dia bergaul dengan teman-teman sebaya atau orang-orang dewasa lain. Dari pergaulan tersebut individu menyerap hal-hal baru yang ada di masyarakat. Sosialisasi tahap lanjut yang memperkenalkan individu tersebut ke wilayah baru dari dunia masyarakat disebut sosialisasi sekunder.

Selain sosialisasi terdapat istilah resosialisasi. Pernahkah kalian mendengar kata resosialisasi? Ketika mendengar kata resosialisasi, barangkali yang terbayang di benak kalian adalah gambaran tentang penjara dan narapidana. Sebagian kalian mungkin membayangkan kegiatan pembinaan dan pelatihan keterampilan bagi para tahanan. Nah, semua yang terbayang di benak tersebut memang merupakan salah satu bentuk nyata resosialisasi.

Resosialisasi adalah salah satu bentuk sosialisasi sekunder. Proses resosialisasi didahului dengan proses desosialisasi. Dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami pencabutan diri yang dimilikinya. Sedangkan dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu diri yang baru. Proses desosialisasi dan resosialisasi ini sering dikaitkan dengan proses yang berlangsung dalam institusi total. Yang dimaksud dengan institusi total adalah suatu tempat tinggal dan bekerja yang di dalamnya terdapat sejumlah individu dalam situasi sama, terputus dari masyarakat yang lebih luas untuk suatu jangka waktu tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkungkung dan diatur secara formal. Contoh institusi total adalah rumah tahanan, rumah sakit jiwa, dan lembaga pendidikan militer.

Seseorang yang divonis hukuman oleh hakim berubah statusnya dari orang bebas menjadi narapidana. Sebagai narapidana, dia mesti menjalani resosialisasi agar dapat kembali berperan sebagai warga masyarakat yang baik. Untuk itu, orang tersebut mula-mula mengalami desosialisasi. Ia harus menanggalkan busana bebas dan menggantinya dengan seragam tahanan. Berbagai kebebasan yang semula dinikmati- nya dicabut. Barang-barang milik pribadi disita atau disimpan oleh penjaga. Bahkan mungkin dia tidak dipanggil dengan menyebutkan namanya, tetapi dengan sejumlah nomor tertentu. Sayangnya, proses desosialisasi sering kali merusak citra diri serta harga diri orang itu. Selanjutnya, ia menjalani resosialisasi. Individu dididik untuk menerima aturan dan nilai baru. Tujuannya agar sang tahanan mempunyai diri yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Karena keinginan tersebut, para narapidana dibina mentalnya dan dibekali dengan berbagai keterampilan sesuai dengan minat dan bakatnya. Dengan resosialisasi ini, para narapidana dapat kembali ke masyarakat setelah masa hukumannya selesai dan menjadi warga masyarakat yang baik.

Proses resosialisasi juga berlangsung di lembaga pendidikan militer. Mereka yang tengah menjalani pendidikan militer di sana harus mengubah dirinya. Diri yang semula tidak disiplin harus ditinggalkan. Pribadi yang berpenampilan sesuka hati, harus diganti dengan penampilan rapi dan tegap. Begitu pula semangat dan keuletannya dilatih agar siap menghadapi aneka tantangan. Siswa pendidikan militer yang bertindak tidak sesuai dengan aturan yang digariskan akan dijatuhi sanksi. Setelah melalui proses resosialisasi, mereka akan menjadi prajurit yang tangguh dan kompak.


3. Lembaga-Lembaga Sosialisasi

Ayah dan ibu mengajarkan berbagai nilai dan norma sosial kepada dirimu. Tentang kerukunan dengan saudara, misalnya. Beliau menyadarkan kepadamu arti penting saudara. Kamu dan semua saudaramu laksana satu tubuh. Ketika kamu ber- bahagia, maka saudaramu akan ikut merasakan kebahagiaan. Demikian pula sebaliknya. Ketika saudaramu sakit, maka kamu akan berkurang kenikmatannya. Sikap empati semacam itu hanya lahir dari kesadaran akan arti penting kerukunan hidup. Tanpa kerukunan, dalam benakmu dan saudaramu, mustahil sikap empati itu muncul.

Proses sosialisasi sebetulnya berawal dari dalam keluarga. Bagi anak-anak yang masih kecil, situasi dunia adalah keluarganya sendiri. Persepsi mereka mengenai dirinya, dunia, dan masyarakat di sekelilingnya secara langsung dipengaruhi oleh sikap serta keyakinan keluarga mereka. Keluarga mengajarkan nilai-nilai yang kemudian dimiliki oleh individu dan berbagai norma yang mesti dilakukan oleh seseorang.

Orang tua kaum buruh akan memberikan nilai tinggi terhadap kepatuhan, disiplin, kebersihan, rasa hormat, dan keselarasan dengan patokan perilaku tradisional. Sedangkan keluarga golongan menengah mendorong anaknya untuk bersikap inovatif serta diarahkan agar berjiwa pemimpin. Semua itu dimaksudkan agar kamu dapat berperilaku tepat sesuai dengan harapan masyarakat. Pembelajaran oleh ayah dan ibumu tersebut menjadi bukti bahwa keluarga merupakan salah satu lembaga sosialisasi.

Sosialisasi dalam keluarga tidak hanya dilakukan oleh ayah dan ibu saja. Anggota keluarga lainnya dapat berperan aktif pula sehingga nilai dan norma sosial tidak hanya diperoleh seorang anak dari kedua orang tua saja. Bruce J. Cohen (1992) mengungkapkan bahwa keluarga merupakan salah satu lembaga sosialisasi bagi individu. Lantas, adakah lembaga-lembaga sosialisasi yang lain? Lihat disini : Macam Macam Lembaga Sosial

Nilai sosial dan norma sosial juga dipelajari individu dari lembaga pendidikan tempat dia belajar. Mengapa sekolah menjadi salah satu agen sosialisasi bagi individu? Alasannya karena belajar di sekolah merupakan tuntutan kemajuan masyarakat, dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Pada masyarakat tradisional, fungsi pendidikan diemban oleh keluarga. Namun pada masyarakat modern, fungsi pendidikan dijalankan oleh sekolah. Begitu pentingnya sekolah sebagai media sosialisasi sehingga profesi penting dalam masyarakat seperti dokter, insinyur, atau ahli hukum ditentukan oleh berhasil tidaknya seseorang menjalani pendidikan di sekolah.

Selain kedua lembaga sosialisasi tersebut, teman sepermainan ternyata berperan besar dalam sosialisasi. Siapakah yang dimaksud dengan teman sepermainan? Mereka adalah teman-teman yang sebaya dan berinteraksi secara intensif denganmu. Bagaimana interaksi yang terjalin di antara kalian? Hal-hal apa yang menjadi perhatian kalian? Apakah yang kamu rasakan ketika membahas hal-hal itu dengan teman sebayamu itu?

Walaupun teman sepermainan bertujuan utama untuk rekreasi, namun mereka berpengaruh besar terhadap perkembangan pribadimu. Di kelompok ini individu tanpa sadar belajar berbagai hal yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Individu bebas berinteraksi tanpa pengawasan langsung dari orang tua, guru, atau orang lain. Nah, sering remaja seusiamu mengenal hal-hal buruk dari teman sepermainan pula. Misalnya, mengonsumsi narkoba atau melakukan kehidupan seks bebas.

Sosialisasi juga berlangsung melalui media massa. Media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, tabloid, film, dan lain-lain menyajikan model peran yang dapat ditiru oleh individu untuk membangun jati dirinya. Perilaku masyarakat pun dapat berubah karena tayangan media massa. Dengan demikian, media massa dapat memperkuat ataupun merusak norma-norma melalui penyajian informasi yang seolah-olah mewakili gambaran masyarakat yang benar.



DAFTAR PUSTAKA

Sosiologi : Kelas X untuk SMA / MA / oleh Joko Sri Sukardi, Arif Rohman ; edito,r Tammi Prastowo ; illustrator, Fitriah…[et al] . — Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.