Produksi : Pengertian dan Penjelasannya

Produksi : Pengertian dan Penjelasannya

Master
Monday, July 8, 2019

Produksi : Pengertian dan Penjelasannya
Produksi : Pengertian dan Penjelasannya

1. Pengertian Produksi

Pernahkan kamu memerhatikan proses pembuatan sepatu yang ada di suatu daerah. Bagaimana seorang pengrajin (produsen) membuat sepatu, mulai dari membentuk pola, menjahit, sampai dengan proses pengepakan. Semua kegiatan yang dilakukan produsen sampai menghasilkan sepatu disebut kegiatan produksi.

Istilah produksi dalam bahasa Inggris, yaitu production yang berarti menghasilkan atau membuat. Produksi dalam istilah ilmu ekonomi diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk menghasilkan atau mempertinggi nilai kegunaan suatu barang atau jasa. Dari definisi tersebut, ada dua hal pokok yang perlu dipahami dari produksi, yaitu sebagai berikut.
a. Produksi merupakan kegiatan menghasilkan barang atau jasa.
Contoh:
Tuan Haryono seorang pengrajin mebel dari bahan kayu jati. Dalam satu bulan, Tuan Haryono mampu menghasilkan 2 set kursi dan 3 buah lemari pakaian.

Kegiatan Tuan Haryono menghasilkan kursi dan lemari dapat dikatakan produksi, karena dia telah mengubah kayu jati menjadi bentuk kursi dan lemari.

b. Produksi merupakan kegiatan mempertinggi nilai guna suatu barang atau jasa.
Berdasarkan contoh Tuan Haryono, kegiatan mengubah kayu jati menjadi kursi dan lemari dapat dikatakan produksi, karena sebelum diproses, kayu jati memiliki nilai guna yang rendah, tetapi setelah diproses menjadi berbagai bentuk (kursi, mainan, dan lemari), nilai guna dari kayu jati tersebut menjadi tinggi.


2. Tujuan Produksi

Produksi barang atau jasa yang dilakukan produsen memiliki empat tujuan, yaitu sebagai berikut.
a. Menghasilkan Barang atau Jasa
Menghasilkan barang atau jasa merupakan tujuan yang paling banyak ditemui dari kegiatan produksi. Hal ini didasarkan pada kebutuhan manusia yang semakin meningkat. Kebutuhan manusia yang meningkat memotivasi produsen menghasilkan barang atau jasa yang diperlukan.

b. Mendapatkan Keuntungan
Secaraekonomi,mendapatkankeuntunganmerupakan tujuan yang diharapkan dan rasional dari setiap kegiatan produksi. Seorang produsen akan memproduksi jika berkeyakinan mendapatkan keuntungan. Namun, jika ia berasumsi tidak mendapat keuntungan, ia tidak akan melakukan kegiatan produksi.

c. Mengganti Barang yang Rusak
Daya tahan suatu barang hasil produksi terbatas. Artinya, dalam jangka waktu tertentu nilai dari barang tersebut akan berkurang atau rusak. Untuk itu, perlu adanya penggantian terhadap barang-barang tersebut. Proses mengganti barang yang rusak merupakan salah satu tujuan dilakukannya produksi.

d. Mencapai Kemakmuran
Tujuan akhir dari produksi adalah mencapai kemakmuran, tidak hanya dari sisi produsen, tetapi dari pihak konsumen juga. Pihak produsen ingin mendapatkan keuntungan yang maksimum. Namun, dari sisi lain, konsumen ingin memperoleh kepuasan yang maksimum.


3. Nilai Guna suatu Barang atau Jasa

Nilai guna adalah nilai yang dapat digunakan dari memproduksi suatu barang atau jasa. Nilai guna suatu barang atau jasa dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu nilai guna berdasarkan bentuk, tempat, waktu, dan kepemilikannya.
a. Nilai Guna Berdasarkan Bentuknya (Form Utility)
Suatu barang akan menjadi tinggi nilai gunanya setelah melalui proses produksi. Misalnya, sebatang kayu diolah menjadi kursi. Nilai guna kayu sebelum diolah memiliki nilai yang rendah. Namun, setelah diproses menjadi kursi, nilainya menjadi lebih tinggi.

b. Nilai Guna Berdasarkan Tempatnya (Place Utility) 
Mungkin tidak pernah terpikirkan olehmu, bagaimana letusan  gunungapi  akan  membawa  manfaat  yang  tinggi?
Misalnya, letusan Gunung Merapi di Provinsi Yogyakarta- Jawa Tengah, membawa jutaan meter kubik pasir. Bagi masyarakat sekitar, nilai guna pasir rendah, tetapi setelah dibawa ke kota, nilainya menjadi lebih tinggi.

c. Nilai Guna Berdasarkan Waktu (Time Utility)
Pada musim kemarau, jas hujan nilai gunanya rendah karena orang tidak akan menggunakan jas tersebut. Namun, ketika musim hujan tiba, jas hujan nilainya menjadi lebih tinggi karena orang memerlukan jas tersebut. Dengan demikian, jas hujan akan memiliki nilai guna yang tinggi dipengaruhi oleh waktu.

d. Nilai Guna Berdasarkan Kepemilikan (Ownership Utility)
Bagi seorang petani memiliki cangkul atau traktor merupakan hal yang penting. Cangkul berguna bagi petani untuk mengolah tanah pertanian. Namun, nilai guna cangkul atau traktor menjadi rendah jika dimiliki seorang fotografer. Artinya, berdasarkan kepemilikannya nilai suatu barang akan menjadi lebih tinggi.


4. Faktor-Faktor Produksi

Proses produksi tidak akan berlangsung jika faktor pendukungnya tidak tersedia dan memadai. Faktor-faktor produksi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor produksi asli dan fakor produksi turunan.
a. Faktor Produksi Asli
1) Sumber Daya Alam (Natural Resources)
Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang telah tersedia di alam dan dapat digunakan untuk proses produksi dalam usaha mencapai kemakmuran. Ketersedian sumber daya alam jumlahnya terbatas. Misalnya minyak bumi, dalam jumlah dan jangka waktu tertentu jika digunakan secara terus menerus akan habis dan mengalami kelangkaan. Selain ketersediaannya terbatas, sumber daya alam penyebarannya tidak merata. Artinya, sumber daya alam tidak terdapat di setiap daerah. Misalnya, pohon rotan tidak tersedia di Pulau Jawa, tetapi dapat ditemui di Pulau Kalimantan.

Sumber daya alam dapat dibagi menjadi sumber daya alam yang dapat diperbarui dan sumber daya tidak dapat diperbarui. Sumber daya dapat diperbarui merupakan sumber daya yang dalam jumlah tertentu dapat diperbaiki jika telah habis. Misalnya, pengolahan kayu sebagai hasil hutan. Adapun sumber daya alam yang tidak dapat dipebarui adalah sumber daya alam yang tidak bisa diperbaiki, kalaupun bisa memerlukan waktu yang lama. Contohnya, minyak bumi, sumber mineral, dan barang tambang lainnya.

2) Faktor Produksi Tenaga Kerja (Labour)
Tenaga kerja adalah segala kemampuan manusia, baik fisik (jasmani) maupun rohani yang digunakan untuk menghasilkan sejumlah barang atau jasa. Sumber daya manusia yang melimpah merupakan asset pembangunan jika dikelola dengan baik.

Tenaga kerja dapat berupa tenaga kerja jasmani maupun rohani. Tenaga kerja jasmani adalah segala kemampuan fisik yang diperlukan dalam proses produksi. Adapun tenaga kerja rohani adalah segala kemampuan psikis yang diperlukan dalam proses produksi, biasanya berupa ide dan gagasan.
Tenaga kerja menurut kualitasnya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.
a) Tenaga kerja terdidik, yaitu tenaga kerja yang diperoleh melalui pendidikan formal. Misalnya, dokter, dosen, arsitek, dan pengacara.
b) Tenaga kerja terlatih, yaitu tenaga kerja yang diperoleh melalui pengalaman atau melalui latihan yang cukup panjang. Misalnya, mekanik, sopir, dan teknisi.
c) Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih, yaitu tenaga kerja yang tidak memerlukan jenjang pendidikan formal maupun pengalaman. Misalnya, pembantu rumah tangga, pekerja perkebunan, dan kuli angkut.

b. Faktor Produksi Turunan
1) Faktor Produksi Modal (Capital)
Modal adalah segala kelengkapan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan produksi lebih lanjut, baik berupa barang maupun uang. Ketersedian modal penting bagi produsen dalam menjalankan aktivitas usaha. Terutama, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang padat modal, seperti industri tekstil dan otomotif.

Secara umum, pembagian modal dapat dibedakan berdasarkan sumber kepemilikan, sifat, dan fungsinya.
a) Modal Menurut Sumber Kepemilikannya
(1) Modal sendiri, yaitu modal yang sumbernya berasal dari pemilik atau hasil menyisihkan sebagian keuntungan.
(2) Modal asing, yaitu modal yang sumbernya berasal dari pinjaman lembaga keuangan, baik bank maupun bukan bank.

b) Modal Menurut Sifat
(1) Modal tetap, yaitu modal yang sifatnya tetap dan tidak terpengaruh besarnya produksi serta tidak habis dalam satu kali pakai. Misalnya mesin, gedung, dan tanah.
(2) Modal lancar, yaitu modal yang sifatnya habis satu kali pakai untuk setiap kali proses produksi. Misalnya, modal untuk biaya bahan bakar.
(3) Modal variabel, yaitu modal yang besarnya dipengaruhi banyaknya jumlah produksi yang dihasilkan. Misalnya, modal untuk biaya tenaga kerja (gaji karyawan), biaya listrik, dan telepon.

2) Faktor Produksi Keahlian/Kewirausahaan (Skill/ Entrepreneurship)
Banyaknya faktor produksi yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi, seperti sumber daya alam, tenaga kerja, dan modal, memerlukan adanya pengelolaan secara baik. Untuk itulah diperlukan adanya keterampilan dan keahlian dalam mengelola semua sumber daya tersebut. Kewirausahaan merupakan salah satu faktor produksi turunan yang bertujuan mengombinasikan semua faktor produksi tersebut.

Kemampuan kewirausahaan perlu dimiliki setiap produsen dalam mengelola sumber daya produksi. Beberapa keterampilan atau keahlian yang harus dimiliki seorang wirausaha, di antaranya:
a) keahlian memimpin;
b) keahlian teknologi;
c) keahlian mengorganisasi;
d) keahlian dalam membuat perencanaan;
e) keahlian dalam membuat keputusan;
f) keahlian dalam mengatur sumber daya;
g) keahlian dalam menyelesaikan konflik.


5. Usaha Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Hasil Produksi

Kenaikan kebutuhan manusia yang berlangsung, tidak sebanding dengan jumlah produksi yang dihasilkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan hasil produksi. Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan cara ekstensifikasi, intensifikasi, diversifikasi, spesialisasi, dan mekanisasi.
a. Ekstensifikasi
Ekstensifikasi adalah upaya meningkatkan hasil produksi barang atau jasa dengan menambah faktor-faktor produksi yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Misalnya, menambah jumlah tenaga kerja. Pada sektor pertanian untuk meningkatkan hasil produksi, petani dapat melakukan ekstensifikasi, yaitu dengan menambah luas lahan pertanian atau dengan membuka lahan baru.

b. Intensifikasi
Intensifikasi adalah upaya meningkatkan hasil produksi barang atau jasa dengan meningkatkan kualitas faktor produksi. Misalnya, dengan memberikan pelatihan (trainning) bagi para karyawan. Pada usaha pertanian untuk meningkatkan hasil produksi padi, intensifikasi dilakukan dengan memberikan pemupukan secara tepat dan teratur, pengairan yang baik, serta penyemprotan tanaman yang dilakukan secara berkala.

c. Diversifikasi
Diversifikasi adalah upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi barang atau jasa melalui penganekaragaman hasil produksi. Misalnya, dengan menambah jenis barang yang dihasilnya (diversifikasi produk). Contohnya, PT Unilever Indonesia meningkatkan hasil produksi dengan memproduksi berbagai jenis produk, seperti detergen, pasta gigi, sabun mandi, dan shampo.

d. Spesialisasi
Spesialisasi adalah upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi barang atau jasa melalui pembagian kerja berdasarkan kemampuan dan keahlian. Misalnya dalam sebuah industri garment, spesialisasi dilakukan dengan pembagian kerja, seperti karyawan yang bertugas memotong kain, membuat pola, dan menjahit pakaian sampai dengan proses akhir (finishing).

e. Mekanisasi
Mekanisasi adalah upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi barang atau jasa dengan cara mengganti peralatan yang dioperasikan secara manual dengan mesin-mesin yang proses pengerjaannya dilakukan secara otomatis. Misalnya pada usaha pertanian, untuk mengolah tanah, petani biasanya menggunakan bajak atau cangkul, tetapi dengan mekanisasi, petani dapat menggunakan traktor.


DAFTAR PUSTAKA

Jelajah Cakrawala Sosial 1 : Ilmu Pengetahuan Sosial; Untuk Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah / penulis, Nurhadi…[et al] editor, Ayahtullah Khomaeni, Oka Sumarlin, Beti Dwi Septiningsih . -- Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.