Perubahan Sosial Budaya – Materi IPS

Perubahan Sosial Budaya

Perubahan Sosial Budaya

Tujuan  Pembelajaran

Pada bab ini kalian akan mempelajari tentang perubahan sosial budaya yang terjadi di dalam masyarakat. Setelah mempelajari materi ini, kalian diharapkan dapat mendeskripsikan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat sehingga kalian mampu mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi perubahan sosial dan budaya tersebut.

Setiap kelompok masyarakat selama hidupnya, pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan tersebut dapat berupa perubahan-perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang menyolok, ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada perubahan-perubahan yang sangat lambat, dan ada juga yang berjalan dengan cepat.

Perubahan-perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak zaman dahulu. Pada masyarakat tradisional yang masih memegang kuat adat, perubahan yang terjadi memang berjalan sangat lambat. Namun, dewasa ini perubahan-perubahan tersebut berjalan dengan sangat cepatnya sehingga seolah-olah membingungkan manusia yang menghadapinya. Sehingga, di dalam kelompok masyarakat di dunia ini kita sering melihat terjadinya perubahan-perubahan atau suatu keadaan di mana perubahan-perubahan tersebut berjalan secara konstan. Perubahan-perubahan tersebut memang terikat oleh waktu dan tempat. Akan tetapi, karena sifatnya yang berantai, maka keadaan tersebut berlangsung terus, walaupun kadang-kadang diselingi keadaan di mana masyarakat yang bersangkutan mengadakan reorganisasi unsur-unsur struktur masyarakat yang terkena oleh proses perubahan tadi.

 

TERJADINYA PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

Perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu perubahan sosial yang menyangkut hubungan antaranggota masyarakat, dan perubahan budaya yang menyangkut perubahan bidang seni, filsafat, dan kebiasaan hidup.

Perubahan Sosial Budaya

Perubahan Sosial Budaya

 

1. Pengertian Perubahan Sosial Budaya

Masyarakat senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Perubahan dalam masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial, nilai, sikap, dan pola perilaku individu diantara kelompoknya disebut perubahan sosial. Menurut Selo Sumardjan, perubahan sosial adalah semua perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, dan mencakup di dalamnya nilai-nilai dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat.

Unsur-unsur sosial dalam masyarakat yang mengalami perubahan meliputi:
a. nilai-nilai sosial,
b. norma-norma sosial,
c. pola-pola perilaku,
d. organisasi,
e. susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan,
f. lapisan-lapisan dalam masyarakat,
g. kekuasaan dan wewenang,
h. interaksi sosial,
i. hubungan sosial.

Perubahan dalam sistem ide yang dimiliki bersama pada berbagai bidang kehidupan dalam masyarakat bersangkutan disebut perubahan kebudayaan. Perubahan budaya meliputi perubahan dalam bidang seni, filsafat, dan kebiasaan hidup.

Ada tujuh unsur kebudayaan dalam masyarakat yang dikenal sebagai tujuh unsur yang universal, yaitu:
a. bahasa,
b. sistem pengetahuan,
c. organisasi sosial,
d. sistem peralatan hidup dan teknologi,
e. sistem ekonomi dan mata pencaharian,
f. sistem religi,
g. kesenian.

Unsur-unsur tersebut bersifat universal, artinya bahwa setiap kelompok masyarakat di manapun berada, yang masih primitif maupun yang sudah modern, pasti memiliki tujuh unsur tersebut. Sebagai contoh, pada kelompok masyarakat manusia purba, mereka pasti memiliki bahasa, meskipun bahasa isyarat, juga pasti terdapat sistem pengetahuan sesederhana apapun pengetahuan tersebut. Demikian juga mereka pasti memiliki organisasi sosial, peralatan hidup dan teknologi, sistem ekonomi dan mata pencaharian, sistem religi, serta kesenian, meskipun semuanya serba terbatas sesuai dengan kondisi masyarakatnya.

 

2. Sifat Perubahan

Tahukah kalian bagaimana sifat perubahan? Secara ringkas dapat kita ketahui bahwa perubahan bersifat sebagai berikut.

a. Perubahan merupakan hal yang wajar dan memang harus terjadi
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dari waktu ke waktu, perubahan merupakan hal wajar dan memang harus terjadi pada setiap kelompok masyarakat.

b. Perubahan merupakan gejala yang bersifat umum
Manusia diberi kelebihan akal oleh Tuhan. Melalui akalnya, manusia dapat membuat sesuatu untuk mempermudah memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam proses upaya pemenuhan kebutuhan itu, manusia senantiana mengalami perubahan. Di manapun kelompok manusia itu tinggal, pasti akan menghalami perubahan sehingga menjadi gejala yang bersifat umum.

c. Selama masih ada masyarakat mesti akan mengalami perubahan
Masyarakat merupakan kumpulan individu yang hidup bersama dalam suatu wilayah. Sebagai suatu kumpulan individu yang berbeda-beda sifat dan kemampuannya, masyarakat akan selalu mengalami perubahan.

d. Perubahan ada yang menarik, menyolok, atau hanya biasa-biasa saja
Perubahan yang terjadi dalam masyarakat kadang ada yang menarik, ada yang menyolok, atau bahkan kadang ada yang biasa saja. Apabila kalian menyaksikan berita tentang proses Reformasi di Indonesia, kalian tentau mengetahui bahwa Indonesia saat itu sedang mengalami perubahan yang menarik dan menyolok.

e. Perubahan ada yang pengaruhnya terbatas atau berpengaruh luas
Perubahan yang terjadi pada masyarakat, kadang memberikan pengaruh yang terbatas pada kelompok masyarakat tertentu, tetapi kadang memberikan pengaruh yang luas, mencakup sebagian besar lapisan masyarakat di suatu wilayah atau negara. Sebagai contoh, proses Reformasi di Indonesia yang diawali pada tahun 1998 memberikan pengaruh yang besar bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, perubahan pada mode pakaian, misalnya hanya akan berpengaruh bagi kelompok masyarakat yang kalangannya terbatas, yaitu mereka yang suka dengan perkembangan mode.

f. Perubahan ada yang bisa berlangsung lambat dan adapula yang berlangsung cepat
Perubahan yang terjadi pada masyarakat ada yang berlangsung dengan lambat (evolusi), ada yang berlangsung sangat cepat (revolusi). Proses perubahan ketika terjadi Proklamasi di Indonesia sehingga Indonesia menjadi negara yang berdaulat berlangsung sangat cepat. Cobalah kalian hitung berapa jam atau berapa hari proses terjadinya Proklamasi di Indone- sia, mulai terjadinya kekosongan kekuasaan sampai dibacakannya teks Proklamasi oleh Soekarno-Hatta.

g. Perubahan ada yang bisa diamati atau sama sekali tidak disadari
Perubahan yang terjadi pada masyarakat kadang ada yang bisa diamati, tetapi kadang ada yang terjadi tanpa disadari. Perubahan fisik yang terjadi pada diri kalian, misalnya sering tidak kalian sadari. Suara yang berubah, jakun yang mulai kelihatan bagi laki-laki, sering tidak disadari. Perubahan yang terjadi di pemerintahan akan mudah diamati karena ada dokumen resminya.

Proses perubahan sosial yang terjadi, dapat diketahui karena ada ciri-ciri tertentu, antara lain sebagai berikut.
1) Tidak ada masyarakat yang berhenti perkembangannya. Setiap masyarakat pasti akan mengalami perubahan, baik yang terjadi secara lambat atau secara cepat. Jumlah penduduk, misalnya, dari waktu ke waktu pasti akan mengalami perubahan, baik secara lambat atau secara cepat.
2) Perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu, akan diikuti dengan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga sosial lainnya, karena proses yang terjadi merupakan suatu mata rantai.
3) Perubahan-perubahan sosial yang cepat, biasanya mengakibatkan terjadinya disorganisasi yang sementara sifatnya di dalam proses penyesuaian diri. Disorganisasi tersebut akan diikuti oleh suatu reorganisasi yang mencakup pemantapan kaidah-kaidah dan nilai-nilai lain yang baru.
4) Perubahan-perubahan yang terjadi, tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau bidang spiritual saja, karena kedua bidang tersebut mempunyai kaitan timbal balik yang sangat kuat.

 

3. Beberapa Teori tentang Perubahan Sosial Budaya

Ada beberapa teori yang membahas tentang perubahan sosial budaya. Beberapa ahli yang mengemukakan teori tersebut, di antaranya sebagai berikut.

a. Teori Evolusi (Evolutionary Theory)
Tokoh yang berpengaruh pada teori ini adalah Emile Durkheim dan Ferdinand Tonnies. Menurut Durkheim, perubahan karena evolusi mempengaruhi cara pengorganisasian masyarakat, terutama yang berhubungan dengan kerja. Menurut Tonnies, masyarakat akan berubah dari tipe masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan erat dan kooperatif menjadi tipe masyarakat besar yang memiliki hubungan yang terspesialisasi dan impersonal. Perubahan-perubahan tersebut tidak selalu membawa kemajuan, kadang juga membawa perpecahan dalam masyarakat, individu menjadi terasing, dan lemahnya ikatan sosial seperti yang terjadi dalam masyarakat perkotaan.

b. Teori Konflik (Conflict Theory)
Tokoh dalam teori ini adalah Ralf Dahrendorf. Menurut Ralf Dahrendorf, semua perubahan sosial merupakan hasil dari konflik kelas di masyarakat. Ia yakin bahwa konflik dan pertentangan selalu ada dalam setiap bagian masyarakat. Menurut teori ini, konflik berasal dari pertentangan kelas antara kelompok tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini berpedoman pada pemikiran Karl Marx yang menyebutkan bahwa konflik kelas sosial merupakan sumber yang paling penting dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial.

c. Teori Fungsionalis (Functionalist Theory)
Teori fungsionalis berusaha melacak penyebab perubahan sosial sampai ketidakpuasan masyarakat akan kondisi sosialnya yang secara pribadi mempengaruhi mereka. Konsep kejutan budaya (cultural lag) dari William Ogburn berusaha menjelaskan perubahan sosial dalam kerangka fungsionalis ini. Menurutnya, meskipun unsur-unsur masyarakat saling berhubungan satu sama lain, beberapa unsur lainnya tidak secepat itu sehingga tertinggal di belakang. Ketertinggalan itu menjadikan kesenjangan sosial dan budaya antara unsur- unsur yang berubah sangat cepat dan unsur-unsur yang berubah lambat. Kesenjangan ini akan menyebabkan adanya kejutan sosial dan budaya pada masyarakat.

Ogburn menyebutkan perubahan teknologi biasanya lebih cepat daripada perubahan budaya nonmaterial seperti kepercayaan, norma, nilai-nilai yang mengatur masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa perubahan teknologi seringkali menghasilkan kejutan budaya yang pada gilirannya akan memunculkan pola-pola perilaku yang baru, meskipun terjadi konflik dengan nilai-nilai tradisional.

d. Teori Siklis (Cyclical Theory)
Teori ini mempunyai perspektif (sudut pandang) yang menarik dalam melihat perubahan sosial. Teori ini beranggapan bahwa perubahan sosial tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh siapa pun, bahkan orang-orang ahli sekalipun. Dalam setiap masyarakat terdapat siklus yang harus diikutinya. Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu peradaban (budaya) tidak dapat dielakkan, dan tidak selamanya perubahan sosial membawa kebaikan. Oswald Spengler mengemukakan teorinya bahwa setiap masyarakat berkembang melalui empat tahap perkembangan seperti pertumbuhan manusia, yaitu: masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan tua. Ia merasa bahwa masyarakat barat telah mencapai ‘masa kejayaannya’ pada masa dewasa, yaitu selama zaman pencerahan (renaissance) abad ke- 18. Sejak saat itu tidak terelakkan lagi peradaban Barat mulai mengalami kemunduran menuju ke masa ‘tua’. Tidak ada yang dapat menghentikan proses ini. Seperti yang terjadi pada peradaban Babilonia, Mesir, Yunani, dan Romawi yang terus mengalami kemunduran hingga akhirnya runtuh.

Arnold Toynbee, sejarawan Inggris, menambahkan bahwa kebangkitan dan kemunduran suatu peradaban bisa dijelaskan melalui konsep-konsep masyarakat yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu tantangan dan tanggapan (challenge and response). Dia mengamati bagaimana tiap-tiap masyarakat menghadapi tantangan-tantangan alam dan sosial dari lingkungannya. Jika suatu masyarakat mampu merespon dan menyesuaikan diri dengan tantangan-tantangan tersebut, maka masyarakat itu akan bertahan dan berkembang. Sebaliknya, jika tidak maka akan mengalami kemunduran dan akhirnya punah. Menurut Toynbee, jika satu tantangan sudah bisa diatasi akan muncul tantangan baru lainnya yang harus dihadapi masyarakat dalam bentuk interaksi timbal balik dengan lingkungannya.

 

4. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial budaya yang terjadi di dalam masyarakat sangat beragam. Secara umum, bentuk-bentuk perubahan sosial budaya dapat dibedakan sebagai berikut.

a. Berdasarkan Kecepatan Perubahan

1) Evolusi
Evolusi adalah perubahan yang sangat lambat. Evolusi memerlukan waktu yang lama, di mana terdapat suatu rentetan perubahan-perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Pada evolusi, perubahan-perubahan terjadi dengan sendirinya, tanpa suatu rencana ataupun suatu kehendak tertentu. Perubahan-perubahan tersebut terjadi oleh karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan dan kondisi-kondisi baru, yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Rentetan perubahan-perubahan tersebut, tidak perlu sejalan dengan rentetan peristiwa-peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.

2) Revolusi
Revolusi adalah perubahan yang sangat cepat. Revolusi bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru. Di dalam prosesnya. revolusi seringkali disertai dengan kekerasan serta jumlah korban yang besar.

Sejarah modern mencatat dan mengambil rujukan revolusi mula-mula pada Revolusi Perancis, kemudian Revolusi Amerika. Namun, Revolusi Amerika lebih merupakan sebuah pemberontakan untuk mendapatkan kemerdekaan nasional, ketimbang sebuah revolusi masyarakat yang bersifat domestik seperti pada Revolusi Perancis. Begitu juga dengan revolusi pada kasus perang kemerdekaan Vietnam dan Indonesia. Secara sosiologis, agar suatu revolusi dapat terjadi, harus dipenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain seperti berikut.
a) Harus ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan. Masyarakat harus memiliki perasaan tidak puas terhadap keadaan yang ada, dan tumbuh keinginan untuk meraih perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.
b) Harus ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.
c) Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat, kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas itu untuk dijadikan program dan arah bagi geraknya masyarakat.
d) Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat, artinya tujuan tersebut sifatnya konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Di samping itu, diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak, misalnya, perumusan sesuatu ideologi tertentu.
e) Harus ada “momentum” untuk melaksanakan revolusi, yaitu waktu yang tepat untuk memulai gerakan revolusi. Apabila “momentum” yang dipilih keliru, maka revolusi dapat gagal. Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan contoh suatu revolusi yang “momentum”nya sangat tepat. Pada waktu itu, perasaan tidak puas di kalangan bangsa Indonesia telah mencapai puncaknya dan ada pemimpin-pemimpin yang mampu menampung keinginan-keinginan masyarakat sekaligus merumuskan tujuannya. Pada saat itu bertepatan dengan kekalahan Jepang melawan Sekutu.

b. Berdasarkan Besar Kecilnya Pengaruh yang Ditimbulkan

1) Perubahan yang Kecil Pengaruhnya
Perubahan ini berkaitan dengan perubahan pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Suatu perubahan dalam mode pakaian, misalnya, tak akan membawa pengaruh yang berarti bagi masyarakat secara keseluruhan karena tidak mengakibatkan perubahan dalam lembaga- lembaga kemasyarakatannya.

2) Perubahan-Perubahan yang Besar pengaruhnya
Perubahan ini membawa pengaruh langsung atau menimbulkan pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Sebagai contoh, suatu proses industrialisasi pada masyarakat agraris, merupakan perubahan yang akan membawa pengaruh besar pada masyarakat. Berbagai lembaga-lembaga kemasyarakatan akan terpengaruh olehnya seperti dalam hal hubungan kerja, sistem kepemilikan tanah, hubungan-hubungan kekeluargaan, stratifikasi masyarakat, dan seterusnya.

c. Berdasarkan Ada Tidaknya Perencanaan Perubahan

1) Perubahan yang Dikehendaki (Intended-Change) atau Perubahan yang Direncanakan (Planned-Change)
Perubahan yang dikehendaki sudah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Agent of change memimpin masyarakat dalam mengubah sistem sosial.

Dalam melaksanakan hal itu agent of change langsung tersangkut dalam tekanan-tekanan untuk mengadakan perubahan, bahkan mungkin menyebabkan perubahan-perubahan pula pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya.

Suatu perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan, selalu berada di bawah pengendalian serta pengawasan agent of change tersebut. Cara-cara untuk mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan social engineering atau sering pula dinamakan social planning.

2) Perubahan-Perubahan Sosial yang Tidak Dikehendaki (Unintended-Change) atau Perubahan yang Tidak Direncanakan (Unplanned-Change)
Perubahan ini terjadi tanpa dikehendaki serta berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menimbulkan akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat. Seringkali terjadi perubahan yang dikehendaki bekerja sama dengan perubahan yang tidak dikehendaki dan kedua proses tersebut saling mempengaruhi.

 

5. Pola Perubahan

Perubahan yang terjadi dalam masyarakat mempunyai pola yang berbeda-beda. Pola- pola itu adalah sebagai berikut.
a. Pola drastis, terjadi hanya sekali, misalnya revolusi, kemerdekaan, dan reformasi.
b. Pola bergelombang, yaitu perubahan yang selalu timbul tetapi segera terjadi keseimbangan kembali, seperti perubahan gerak konjungtur dalam proses ekonomi, perubahan sistem politik, perubahan di bidang mode.
c. Pola perubahan kumulatif, merupakan gangguan keseimbangan berkali-kali yang menghasilkan perubahan baru, baik membawa kemajuan maupun membawa kemunduran.

 

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPERAN DALAM PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

1. Faktor Penyebab Perubahan Sosial Budaya

Faktor penyebab perubahan sosial dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri (faktor internal) dan faktor yang bersumber dari luar masyarakat (faktor eksternal).

a. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri yaitu sebagai berikut.

1) Bertambah atau Berkurangnya Penduduk
Bertambahnya penduduk yang sangat cepat, menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama yang menyangkut lembaga-lembaga kemasyarakatan. Lembaga sistem hak milik atas tanah mengalami perubahan-perubahan. Orang mengenal hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan selanjutnya, yang sebelumnya tidak dikenal. Berkurangnya penduduk mungkin disebabkan karena berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dari daerah ke daerah lain (misalnya transmigrasi). Perpindahan penduduk tersebut mungkin mengakibatkan kekosongan, misalnya dalam bidang pembagian kerja, stratifikasi sosial dan selanjutnya, yang mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan.

2) Penemuan-Penemuan Baru
Adanya penemuan baru dapat menyebabkan terjadinya perubahan. Proses penemuan baru disebut inovasi. Penemuan baru sebagai sebab terjadinya perubahan-perubahan dibedakan menjadi dua, yaitu discovery dan invention.

Discovery adalah penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik yang berupa suatu alat baru, ataupun yang berupa suatu ide yang baru, yang diciptakan oleh seorang individu atau suatu rangkaian ciptaan-ciptaan dari individu- individu dalam masyarakat yang bersangkutan.

Invention adalah penemuan baru yang sudah diakui, diterima, serta diterapkan oleh masyarakat. Sehingga discov- ery baru menjadi invention kalau masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru itu.

Faktor pendorong bagi individu-individu untuk mencari penemuan-penemuan baru antara lain:
a) kesadaran dari orang perorangan akan kekurangan dalam kebudayaan,
b) kualitas dari ahli-ahli dalam suatu kebudayaan,
c) perangsang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam masyarakat

Di dalam setiap masyarakat tentu ada orang perorangan yang sadar akan adanya kekurangan dalam kebudayaan masyarakatnya. Di antara orang-orang tersebut banyak yang menerima kekurangan-kekurangan tersebut sebagai sesuatu hal yang memang harus diterima saja. Orang lain mungkin tidak puas dengan keadaan itu, akan tetapi tidak mampu untuk memperbaiki keadaan tersebut. Mereka inilah yang merupakan pencipta-pencipta hal-hal yang baru tadi. Keinginan akan kualitas dari ahli-ahli dalam suatu masyarakat, juga merupakan suatu pendorong bagi terciptanya penemuan-penemuan baru. Keinginan dari para ahli tersebut untuk mempertinggi kualitas dari hasil-hasil karyanya merupakan pendorong baginya untuk meneliti kemungkinan-kemungkinan dibuatnya ciptaan-ciptaan yang baru. Seringkali bagi mereka yang telah menemukan hal-hal yang baru diberikan hadiah atau tanda jasa atas jerih payahnya. Hal ini merupakan pendorong bagi mereka untuk lebih giat lagi.

Di samping penemuan-penemuan baru di bidang unsur-unsur kebudayaan jasmaniah atau kebendaan, terdapat pula penemuan-penemuan baru di bidang unsur-unsur kebudayaan rohaniyah, misalnya adanya ideologi baru, aliran-aliran kepercayan yang baru, sistem hukum yang baru, dan seterusnya.

Penemuan-penemuan baru yang oleh Ogburn dan Nimkoff dinamakan “social inven- tion” adalah penciptaan pengelompokan dari individu-individu yang baru, atau penciptaan adat-istiadat baru, maupun suatu perikelakuan sosial yang baru. Akan tetapi yang terpenting adalah, akibatnya terhadap lembaga-lembaga kemasyarakatan, yang kemudian berpengaruh pada bidang-bidang kehidupan lainnya. Misalnya, dengan dikenalnya nasionalisme di In- donesia pada awal abad ke 20 melalui mereka yang pernah mengalami pendidikan barat. Timbullah gerakan-gerakan yang menginginkan kemerdekaan politik, gerakan-gerakan yang kemudian menimbulkan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang baru dikenal yaitu partai- partai politik.

3) Pertentangan (Konflik)
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya .

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut di antaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antaranggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

Adanya pertentangan dalam masyarakat dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertentangan dapat terjadi antara orang perorangan, orang perorangan dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.

Pertentangan antarkelompok mungkin terjadi antara generasi tua dengan generasi muda. Pertentangan-pertentangan demikian itu kerapkali terjadi, apalagi pada masyarakat- masyarakat yang sedang berkembang dari tahap tradisional ke tahap modern. Generasi muda yang belum terbentuk kepribadiannya, lebih mudah untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing (misalnya kebudayaan Barat) yang dalam beberapa hal mempunyai taraf yang lebih tinggi. Keadaan tersebut dapat menimbulkan perubahan-perubahan tertentu dalam masyarakat misalnya pergaulan yang lebih bebas antara wanita dengan laki-laki.

4) Terjadinya Pemberontakan atau Revolusi di Dalam Tubuh Masyarakat itu Sendiri
Perubahan dapat terjadi karena adanya pemberontakan oleh kekuatan-kekuatan dalam masyarakat terhadap kondisi yang telah mapan. Sebagai contoh adalah adanya Revolusi Prancis yang merupakan pemberontakan masyarakat kelas bawah yang tertindas terhadap kekuasaan kerajaan yang bertindak sewenang-wenang.

Contoh lain adalah revolusi yang terjadi pada bulan Oktober 1917 di Rusia yang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan besar. Negara tersebut yang mula-mula mempunyai bentuk kerajaan yang absolut, berubah menjadi diktator proletariat yang didasarkan pada doktrin Marxisme. Segenap lembaga-lembaga kemasyarakatan, mulai dari bentuk negara sampai keluarga batih mengalami perubahan-perubahan yang besar sampai ke akar-akarnya.

b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar masyarakat itu. Faktor eksternal yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial budaya adalah sebagai berikut.

1) Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia
Perubahan dapat disebabkan oleh lingkungan fisik, seperti terjadinya gempa bumi, taufan, banjir besar, dan lain-lain mungkin menyebabkan bahwa masyarakat yang mendiami daerah-daerah tersebut terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggalnya yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang baru tersebut.

Kemungkinan hal tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Suatu masyarakat yang mula-mula hidup sebagai nelayan, kemudian meninggalkan tempat tinggalnya karena tempat tersebut dilanda tsu- nami, mereka kemudian menetap di suatu daerah yang memungkinkan mereka untuk bertani. Hal ini mengakibatkan perubahan-perubahan dalam diri masyarakat tadi, misalnya timbul lembaga kemasyarakatan baru yaitu pertanian dan selanjutnya.

Kadang-kadang, sebab-sebab yang bersumber pada lingkungan alam fisik, disebabkan oleh tindakan-tindakan dari warga-warga masyarakat itu sendiri. Misalnya karena penggunaan tanah secara besar-besaran tanpa memperhitungkan lapisan-lapisan humus tanah tersebut. Kegiatan pertambangan yang dilakukan dengan tidak disertai dengan perhitungan yang matang seringkali menyebabkan bencana pada masyarakat disekitarnya. Sebagai contoh kegiatan-kegiatan penambangan dengan resiko tinggi yang dilakukan dengan pengeboran dalam, apalagi dilakukan di tengah-tengah pemukiman penduduk yang padat akan beresiko terjadinya kebocoran maupun polusi. Hal-hal tersebut dapat mengakibatkan masyarakat yang bersangkutan terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya untuk menetap di wilayah yang lain karena merasa tidak nyaman dan terganggu kehidupannya sehari- hari.

2) Peperangan
Peperangan dengan negara lain dapat menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang sangat besar baik pada lembaga kemasyarakatan maupun struktur masyarakat. Negara yang menang perang biasanya akan memaksa negara yang kalah untuk tunduk dan takluk menerima apa yang diinginkan oleh negara pemenang, termasuk juga menerima kebudayaannya. Sebagai contoh negara Irak yang kalah perang menghadapi koalisi pimpinan Amerika Serikat harus menerima ketentuan yang diputuskan oleh Amerika yaitu memaksakan penerapan sistem demokrasi menggantikan sistem yang telah berlaku sebelumnya.

3) Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain
Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial dan budaya. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat, mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal-balik, artinya masing- masing masyarakat mempengaruhi masyarakat lainnya, tetapi juga menerima pengaruh dari masyarakat yang lain itu. Namun apabila hubungan tersebut berjalan melalui alat-alat komunikasi massa seperti radio, televisi, film, majalah, dan surat kabar, maka ada kemungkinan pengaruh itu datangnya hanya dari satu pihak saja, yaitu dari masyarakat yang secara aktif menggunakan alat-alat komunikasi tersebut, sedangkan pihak lain hanya menerima pengaruh itu dengan tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan pengaruh kepada masyarakat lain yang mempengaruhinya itu.

Apabila pengaruh tersebut diterima tidak karena paksaan dari pihak yang mempengaruhi, maka hasilnya di dalam ilmu ekonomi dinamakan demonstration effect. Proses penerimaan pengaruh kebudayaannya, di dalam antropologi budaya dinamakan akulturasi. Di dalam proses pertemuan kebudayaan tersebut, tidak selalu akan terjadi saling pengaruh- mempengaruhi, kadangkala kedua kebudayaan tersebut yang seimbang tarafnya saling menolak. Hal itu kemungkinan disebabkan karena dalam masa-masa yang lalu pernah terjadi pertentangan fisik yang kemudian dilanjutkan dengan pertentangan-pertentangan nonfisik antara kedua masyarakat tersebut. Keadaan semacam itu dinamakan cultural animosity.

Apabila dua kebudayaan bertemu, sedangkan salah satu kebudayaan dalam unsur- unsur tertentu mempunyai taraf teknologi yang lebih tinggi maka mungkin terjadi proses imitasi, mula-mula unsur-unsur tersebut ditambahkan pada kebudayaan asli, akan tetapi lambat laun unsur-unsur kebudayaan aslinya yang diubah dan diganti oleh unsur-unsur kebudayaan asing tersebut. Misalnya, orang-orang Indonesia dewasa ini, pada umumnya memakai pakaian yang bercorak Barat, oleh karena lebih praktis. Jarang mereka memakai pakaian tradisional, kecuali pada kesempatan-kesempatan tertentu misalnya pada upacara- upacara resmi seperti perkawinan.

Dalam kaitannya dengan pengaruh kebudayaan masyarakat lain, dikenal istilah-istilah sebagai berikut.

a) Akulturasi (cultural contact), yaitu suatu kebudayaan tertentu yang dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing, yang lambat laun unsur kebudayaan asing tersebut melebur atau menyatu ke dalam kebudayaan sendiri (asli), tetapi tidak menghilangkan ciri kebudayaan lama.

Hal yang terjadi dalam akulturasi adalah sebagai berikut.
(1) Substitusi, yaitu unsur kebudayaan yang ada sebelumnya diganti, dengan melibatkan perubahan struktural yang kecil sekali.
(2) Sinkretisme, unsur-unsur lama bercampur dengan yang baru dan membentuk sebuah sistem baru.
(3) Adisi, unsur-unsur baru ditambahkan pada unsur yang lama.
(4) Dekulturasi, hilangnya bagian substansial sebuah kebudayaan.
(5) Orijinasi, tumbuhnya unsur-unsur baru untuk memenuhi kebutuhan situasi yang berubah.
(6) Rejection (penolakan), perubahan yang sangat cepat sehingga sejumlah besar or- ang tidak dapat menerimanya, menyebabkan penolakan, pemberontakan, gerakan kebangkitan.

b) Difusi, yaitu penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari suatu tempat ke tempat lain, dari orang ke orang lain, dan dari masyarakat ke masyarakat lain. Manusia dapat menghimpun pengetahuan baru dari hasil penemuan-penemuan. Tipe difusi seperti berikut.

(1) Difusi intramasyarakat
(a) Pengakuan bahwa penemuan baru bermanfaat bagi masyarakat
(b) Ada tidaknya unsur kebudayaan yang mempengaruhi (untuk diterima/ditolak)
(c) Unsur berlawanan dengan fungsi unsur lama, akan ditolak
(d) Kedudukan penemu unsur baru ikut menentukan penerimaan
(e) Ada tidaknya batasan dari pemerintah

(2) Difusi antarmasyarakat dipengaruhi oleh:
(a) kontak antarmasyarakat tersebut,
(b) kemampuan mendemonstrasikan,
(c) kegunaan,
(d) menyaingi unsur lama/mendukung,
(e) peran penemu dan penyebarannya,
(f) pemaksaan.

c) Penetrasi, yaitu masuknya unsur-unsur kebudayaan asing secara paksa, sehingga merusak kebudayaan lama yang didatangi. Apabila kebudayaan baru seimbang dengan kebudayaan setempat, masing-masing kebudayaan hampir tidak mengalami perubahan atau tidak saling mempengaruhi, yang disebut hubungan simbiotik.

d) Invasi, yaitu masuknya unsur-unsur kebudayaan asing ke dalam kebudayaan setempat dengan cara peperangan (penaklukan) bangsa asing terhadap bangsa lain.

e) Asimilasi, yaitu proses penyesuaian (seseorang/kelompok orang asing) terhadap kebudayaan setempat. Dengan asimilasi, kedua kelompok baik asli maupun pendatang lebur dalam satu kesatuan kebudayaan. Penyebab asimilasi antara lain: toleransi, rasa simpati, kesamaan kepentingan, dan perkawinan.

f) Hibridisasi, yaitu perubahan kebudayaan yang disebabkan oleh perkawinan campuran antara orang asing dengan penduduk setempat.

g) Milenarisme, yaitu salah satu. bentuk kebangkitan, yang berusaha mengangkat golongan masyarakat bawah yang tertindas dan telah lama menderita dalam kedudukan sosial yang rendah.

h) Adaptasi, yaitu proses interaksi antara perubahan yang ditimbulkan oleh organisme pada lingkungannya dan perubahan yang ditimbulkan oleh lingkungan pada organisme (penyesuaian dua arah).

i) Imitasi, yaitu proses peniruan kebudayaan lain tanpa mengubah kebudayaan yang ditiru.

 

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Sosial Budaya

a. Faktor-Faktor yang Mendorong Jalannya Proses Perubahan Sosial Budaya
Faktor-faktor yang mendorong jalannya perubahan adalah sebagai berikut.

1) Kontak dengan Kebudayaan Lain
Kontak dengan kebudayaan lain akan mendorong terjadinya perubahan, karena unsur- unsur kebudayaan tersebut akan saling menyebar dari masyarakat satu ke masyarakat lainnya. Peristiwa itu disebut difusi, yaitu suatu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari orang perorangan kepada orang perorangan lain, dan dari satu masyarakat ke masyarakat lain.

Antara difusi dan akulturasi terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah bahwa kedua proses tersebut memerlukan adanya suatu kontak. Tanpa suatu kontak tersebut tidak mungkin kedua proses tersebut berlangsung. Akan tetapi dalam proses difusi berlangsungnya kontak tersebut tidak perlu ada secara langsung dan kontinu, sedangkan akulturasi memerlukan hubungan yang dekat, langsung, serta kontinu (ada kesinambungan). Proses difusi dapat menyebabkan lancarnya proses perubahan, karena difusi tersebut memperkaya dan menambah unsur-unsur kebudayaan, yang seringkali memerlukan perubahan-perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan atau bahkan penggantian lembaga-lembaga kemasyarakatan lama dengan yang baru.

2) Sistem Pendidikan Formal yang Maju
Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berpikir secara objektif, yang akan dapat memberikan kemampuan baginya untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan zaman atau tidak. Pendidikan memberikan suatu nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama dalam membuka pikirannya serta menerima hal- hal yang baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah.

3) Sikap Menghargai Hasil Karya Seseorang dan Keinginan-Keinginan untuk Maju
Masyarakat akan memberikan pendorong bagi usaha-usaha untuk mengadakan penemuan-penemuan baru apabila memiliki sikap menghargai hasil karya orang lain dan memiliki keinginan untuk maju.

4) Toleransi terhadap Perbuatan-Perbuatan yang Menyimpang (Deviation) yang Bukan merupakan Delik
Artinya apabila masyarakat menerima suatu bentuk tindakan yang berbeda dari kebiasaan masyarakat yang perbuatan tersebut bukan berupa kejahatan.

5) Sistem Terbuka dalam Lapisan-Lapisan Masyarakat (Open Stratification)
Sistem yang terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal yang luas yang berarti memberi kesempatan bagi orang-perorangan untuk maju atas dasar kemampuan- kemampuannya. Dalam keadaan demikian, seseorang mungkin akan mengadakan indentifikasi dengan warga-warga yang mempunyai status yang lebih tinggi.

6) Penduduk yang Heterogen
Masyarakat-masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda, ras yang berbeda, ideologi yang berbeda dan seterusnya, mempermudah terjadinya pertentangan-pertentangan yang menyebabkan kegoncangan-kegoncangan. Keadaan tersebut merupakan pendorong bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat.

7) Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Kehidupan Tertentu
Keadaan ini apabila telah terjadi dalam waktu yang lama, serta masyarakat mengalami tekanan-tekanan dan kekecewaan, dapat menyebabkan timbulnya suatu revolusi dalam masyarakat tersebut.

8) Orientasi ke Masa Depan
9) Nilai bahwa Manusia Harus Senantiasa Berusaha untuk Memperbaiki Hidupnya.

b. Faktor-faktor yang Menghalangi Terjadinya Perubahan Sosial Budaya
Faktor-faktor yang menghalangi terjadinya perubahan-perubahan (resistance to change) antara lain sebagai berikut.

1) Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat-Masyarakat Lain
Kehidupan yang terasing dari masyarakat menyebabkan masyarakat tersebut tidak mengetahui perkembangan-perkembangan apa yang terjadi pada masyarakat lain yang mungkin akan memperkaya kebudayaannya sendiri. Hal itu juga menyebabkan para warga masyarakat terkungkung pola-pola pemikirannya oleh tradisi.

2) Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang Terlambat
Hal ini mungkin disebabkan oleh karena hidup masyarakat tersebut terasing dan tertutup atau mungkin karena lama dijajah oleh masyarakat lain.

3) Sikap Masyarakat yang Sangat Tradisional
Suatu sikap yang mengagung-agungkan tradisi dari masa lampau serta anggapan bahwa tradisi tersebut secara mutlak tak dapat diubah, menghambat jalannya proses perubahan. Keadaan tersebut akan menjadi lebih parah apabila golongan konservatif yang berkuasa dalam masyarakat yang bersangkutan.

4) Adanya Kepentingan-Kepentingan yang Telah Tertanam Sangat Kuat (Vested Interests)
Dalam masyarakat terdapat kelompok sosial tertentu yang dianggap lebih tinggi. Mereka menikmati posisi itu dan berusaha mempertahankannya sehingga menutup diri dengan perubahan-perubahan.

5) Rasa Takut Akan Terjadinya Kegoyahan pada Integrasi Kebudayaan
Unsur-unsur dari luar dikhawatirkan akan menggoyahkan integrasi kebudayaan dan menyebabkan perubahan-perubahan pada aspek-aspek tertentu dari masyarakat.

6) Prasangka terhadap Hal-hal yang Baru atau Asing atau Sikap yang Tertutup.
Sikap yang demikian banyak dijumpai pada masyarakat-masyarakat yang pernah dijajah. Masyarakat-masyarakat yang pernah dijajah oleh bangsa-bangsa Barat, mencurigai sesuatu yang berasal dari negara-negara Barat, oleh karena mereka tidak mudah lupa pada pengalaman-pengalaman pahit selama penjajahan. Karena kebetulan unsur-unsur baru kebanyakan berasal dari negara-negara Barat, maka prasangka tetap ada karena kekhawatiran bahwa melalui unsur-unsur tersebut penjajahan akan masuk lagi.

7) Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis.
Setiap usaha mengadakan perubahan-perubahan pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah, biasanya diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideologi masyarakat yang merupakan dasar integrasi masyarakat tersebut.

8) Adat atau Kebiasaan.
Adat istiadat yang dipegang teguh kadang akan menghambat adanya perubahan- perubahan.

9) Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin diperbaiki.

 

AKIBAT ADANYA PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA TERHADAP PERILAKU MASYARAKAT

Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai orang-orang yang sukses karena bisa memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Petani menggunakan mesin modern (traktor) untuk mempercepat pengolahan tanahnya. Pengusaha surat kabar dengan cepat bisa mendistribusikan korannya pada daerah yang lebih luas dengan cara cetak jarak jauh. Anak- anak sekolah dalam belajar sudah memanfaatkan media internet untuk mencari materi pelajaran ataupun soal-soal yang membantu dalam proses belajarnya. Namun demikian ada juga sebagian orang yang memanfaatkan kemajuan teknologi dengan cara yang salah. Media internet digunakan untuk memfitnah orang dengan cara menyebarkan foto-foto yang direkayasa guna menjatuhkan nama baik seseorang. Anak-anak mencari situs-situs porno yang bisa merusak moral. Bagaimanakah seharusnya kita dalam menyikapi perubahan sosial dan kebudayaan

Perubahan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat dapat menimbulkan ketidakseimbangan atau ketidakselarasan di antara unsur-unsur sosial dan budaya dalam masyarakat. Ketidakserasian ini terjadi karena sebab-sebab berikut.
1. Perubahan suatu unsur sosial budaya tidak dapat diikuti penyesuaiannya oleh unsur- unsur sosial dan budaya yang lain.
2. Laju perubahan di antara unsur-unsur sosial budaya tidak selalu seimbang antara satu dan yang lain. Ada unsur yang berubah dengan cepat, tetapi ada unsur-unsur yang berubah dengan laju yang lambat. Keadaan yang demikian dinamakan cultural lag (ketimpangan budaya)
3. Adanya perubahan sosial budaya yang berlangsung yang menimbulkan keterkejutan di kalangan masyarakat. Keterkejutan akan adanya perubahan sosial budaya yang cepat ini dinamakan cultural shock.

1. Pengaruh Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial budaya dapat menimbulkan dampak positif dan negatif.

a. Dampak Positif
1) Kemajuan ilmu pengetahuan
2) Kebutuhan mudah terpenuhi
3) Pola pikir yang lebih maju

b. Dampak negatif
1) Dekadensi Moral
Dekadensi moral adalah menurun atau merosotnya moral seseorang yang ditunjukkan dari perilakunya yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Biasanya perilaku orang tersebut merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Beberapa contoh yang termasuk dekadensi moral adalah perilaku pergaulan bebas di kalangan remaja maupun orang tua, prostitusi, perselingkuhan dan lain-lain.

2) Kriminalitas
Donald R. Gressey berpendapat bahwa kriminilitas adalah suatu kondisi dan proses sosial yang menghasilkan perilaku lain. Kriminalitas merupakan tindakan yang melanggar norma hukum dan menyakitkan orang lain secara langsung. Beberapa contoh yang termasuk tindak kriminalitas antara lain korupsi, pencurian, penodongan, pemerkosaan, dan pembunuhan.

3) Aksi Protes dan Demonstrasi
Demonstrasi adalah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Demonstrasi biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak. Aksi protes merupakan gerakan atau tindakan yang dilakukan secara perorangan atau untuk menyampaikan pernyataan tidak setuju yang oleh sebagian besar orang dilancarkan melalui kecaman yang pedas. Demonstrasi umumnya dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah/para buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya. Namun demonstrasi juga dilakukan oleh kelompok- kelompok lainnya dengan tujuan lainnya.

Unjuk rasa kadang dapat menyebabkan pengrusakan terhadap benda-benda. Hal ini dapat terjadi akibat keinginan menunjukkan pendapat para pengunjuk rasa yang berlebihan. Di Indonesia, unjuk rasa menjadi hal yang umum sejak jatuhnya rezim kekuasaan Orde Baru pada tahun 1998, di mana unjuk rasa menjadi simbol kebebasan berekspresi di negara tersebut. Unjuk rasa terjadi hampir setiap hari di berbagai bagian di Indonesia, khususnya Jakarta.

4) Konsumerisme
Konsumerisme adalah pandangan yang diikuti dengan tindakan atau perbuatan penggunaan barang dan jasa secara berlebihan. Pembelian barang-barang yang bukan kebutuhan pokok dan sifatnya hanya tersier jika dilakukan secara berlebihan dikategorikan konsumerisme.

2. Tipe-Tipe Masyarakat Dalam Menyikapi Perubahan Sosial Budaya

Adanya keseimbangan atau harmoni dalam masyarakat (social equilibrium) merupakan keadaan yang diidam-idamkan dalam setiap masyarakat. Dengan keseimbangan dalam masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok dari masyarakat benar-benar berfungsi dan saling mengisi. Dalam keadaan demikian, individu secara psikologis merasakan akan adanya suatu ketenteraman, oleh karena tidak adanya pertentangan dalam norma-norma dan nilai-nilai. Setiap kali terjadi suatu gangguan terhadap keadaan keseimbangan tersebut, maka masyarakat dapat menolaknya atau mengubah susunan lembaga-lembaga kemasyarakatannya dengan maksud untuk menerima suatu unsur yang baru. Akan tetapi, kadang-kadang unsur baru tersebut dipaksakan masuknya oleh suatu kekuatan. Apabila masyarakat tidak dapat menolaknya, oleh karena masuknya unsur baru tersebut tidak menimbulkan kegoncangan, pengaruhnya tetap ada, akan tetapi sifatnya dangkal dan hanya terbatas pada bentuk luarnya. Norma- norma dan nilai-nilai sosial tidak akan terpengaruh olehnya, dan dapat berfungsi secara wajar. Perubahan sosial dan budaya beserta pengaruhnya merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan. Tidak ada masyarakat yang berhenti perkembangannya, setiap masyarakat dapat dipastikan mengalami perubahan-perubahan. Sehubungan dengan hal ini, yang lebih penting adalah bagaimana menyikapi pengaruh perubahan sosial budaya.

Perubahan sosial dan budaya menuntut adanya penyesuaian atau adaptasi baru di antara unsur-unsur sosial budaya yang ada dalam masyarakat dan keselarasan hubungan di antara unsur-unsur tersebut agar tetap terjaga. Kemampuan melakukan adaptasi ini sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup dan keutuhan sosial. Jika adaptasi terhadap keadaan baru akibat perubahan tidak dapat berlangsung, yang terjadi dalam masyarakat adalah disorganisasi sosial atau ketidakteraturan sosial. Anggota masyarakat merasakan kesulitan menyesuaikan diri dengan tujuan-tujuan hidup bermasyarakat. Disorganisasi sosial ini apabila dibiarkan akan mengakibatkan terjadinya disintegrasi atau perpecahan sosial. Terjadinya disintegrasi sosial dalam masyarakat sering ditandai gejala awal sebagai berikut.

a. Tidak adanya persamaan pandangan di antara para anggota masyarakat mengenai tujuan yang dijadikan pedoman atau pegangan hidup bermasyarakat.

b. Norma-norma sosial dalam masyarakat tidak dapat berfungsi sebagai alat pengendalian sosial, bahkan sering terjadi pertentangan di antara norma-norma yang ada dalam masyarakat.

c. Para anggota masyrakat merasakan kesulitan untuk menyesuaikan dirinya dengan norma-norma dan tujuan masyarakat.

d. Timbul pertentangan atau konflik di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat yang dapat berlanjut kepada terjadinya perpecahan sosial.

Adakalanya unsur-unsur baru dan lama yang bertentangan dan secara bersamaan mempengaruhi norma-norma dan nilai-nilai yang kemudian berpengaruh pula pada warga- warga masyarakat. Hal itu berarti suatu gangguan yang kontinu terhadap keseimbangan dalam masyarakat. Keadaan tersebut berarti bahwa ketegangan-ketegangan serta kekecewaan-kekecewaan di antara para warga masyarakat, tidak mempunyai saluran ke arah suatu pemecahan atau penyelesaian.

Apabila ketidakseimbangan tersebut dapat dipulihkan kembali, setelah terjadi suatu perubahan, maka keadaan tersebut dinamakan suatu penyesuaian (adjustment) bila sebaliknya yang terjadi, maka keadaan tersebut dinamakan ketidaksesuaian sosial (maladjustment) yang mungkin mengakibatkan terjadinya anomie, yaitu tidak terdapatnya norma-norma yang dapat dijadikan pedoman hidup dalam masyarakat. Anomie sering terjadi pada masa-masa transisi atau perubahan dari satu keadaan ke keadaan lain. Misalnya pergantian orde dalam kehidupan politik atau pemerintahan.

Dengan demikian, dalam perubahan sosial budaya, kita mengenal adanya istilah organisasi, disorganisasi, dan reorganisasi. Organisasi merupakan artikulasi dari bagian- bagian yang merupakan bagian dari satu kebulatan, yang sesuai dengan fungsinya masing- masing. Disorganisasi atau disintegrasi adalah proses berpudarnya norma-norma dan nilai- nilai dalam masyarakat, disebabkan karena perubahan-perubahan yang terjadi dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan. Reorganisasi atau reintegrasi adalah proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai yang baru untuk menyesuaikan diri dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mengalami perubahan-perubahan. Reorganisasi dilaksanakan apabila norma-norma dan nilai-nilai yang baru telah melembaga (institutionalized) dalam diri warga- warga masyarakat.

Saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan dalam masyarakat pada umumnya adalah lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama rekreasi, dan lain-lain. Lembaga kemasyarakatan mana yang merupakan titik tolak, tergantung pada “cultural focus” masyarakat pada suatu masa yang tertentu, yaitu yang menjadi pusat perhatian masyarakat.

Menyikapi pengaruh perubahan sosial budaya, maka sikap kita yang tepat adalah:
a. bersikap selektif dalam menerima pengaruh budaya lain,
b. berpikir yang ilmiah terhadap perubahan,
c. mendorong perubahan tersebut ke arah yang lebih baik,
d. menerima perubahan yang mengarah pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan umat manusia.

 

Rangkuman

Perubahan dalam masyarakat yang mempengaruhi sistem sosial, nilai, sikap, dan pola perilaku individu diantara kelompoknya disebut perubahan sosial.

➠ Perubahan dalam sistem ide yang dimiliki bersama pada berbagai bidang kehidupan dalam masyarakat bersangkutan disebut perubahan kebudayaan.

➠ Perubahan sosial budaya dalam masyarakat berdasarkan bentuknya dapat berupa perubahan yang terjadi secara lambat (Evolusi), perubahan yang terjadi secara cepat (Revolusi), perubahan yang berpengaruh kecil, perubahan yang berpengaruh besar, perubahan yang dikehendaki dan perubahan yang tidak dikehendaki.

➠ Berdasarkan polanya, perubahan sosial budaya dapat bersifat drastis, bergelombang dan perubahan kumulatif.

➠ Faktor penyebab perubahan sosial budaya dalam masyarakat.
1. Faktor internal, meliputi:
a. bertambah atau berkurangnya penduduk
b. penemuan-penemuan baru (discovery dan invention)
c. pertentangan (conflict)
d. terjadinya pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri

2. Faktor ekternal, meliputi:
a. lingkungan alam fisik yang ada di sekitar manusia (banjir, gunung meletus)
b. peperangan
c. pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

➠ Faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya proses perubahan sosial budaya dalam masyarakat.
1. Faktor-faktor yang mendorong jalannya perubahan, meliputi:
a. Kontak dengan kebudayaan lain
b. Sistem pendidikan formal yang maju
c. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju.
d. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation) yang bukan merupakan delik Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat (open stratification).
e. Penduduk yang heterogen.
f. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
g. Orientasi ke masa depan
h. Nilai bahwa manusia harus senantiasa berusaha untuk memperbaiki hidupnya.

2. Faktor-faktor yang menghalangi terjadinya perubahan.
a. Kurangnya hubungan dengan masyarakat-masyarakat lain.
b. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.
c. Sikap masyarakat yang sangat tradisional
d. Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam sangat kuat.
e. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan.
f. Prasangka terhadap hal-hal yang baru atau asing atau sikap yang tertutup.
g. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis.
h. Adat atau kebiasaan.
i. Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin diperbaiki

➠ Perubahan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat dapat menimbulkan ketidakseimbangan atau ketidakselarasan di antara unsur-unsur sosial dan budaya dalam masyarakat.

➠ Modernisasi merupakan suatu bentuk perubahan sosial dan kebudayaan, yang biasanya merupakan perubahan yang terarah, yang didasarkan pada suatu perencanaan sosial, bertujuan untuk memperbaiki nasib manusia.

➠ Modernisasi dapat terwujud apabila anggota masyarakat memiliki ciri-ciri:
1. Sikap terbuka pada perubahan
2. Mau menerima hal yang baru
3. Menghargai waktu
4. Orientasi ke masa depan
5. Percaya diri
6. Percaya manfaat ilmu dan teknologi
7. Memiliki perencanaan

➠ Dampak positif perubahan sosial budaya antara lain:
1. Kemajuan ilmu pengetahuan
2. Kebutuhan mudah terpenuhi
3. Pola pikir yang lebih maju

➠ Dampak negatif perubahan sosial budaya antara lain:
1. dekadensi moral
2. kriminalitas
3. aksi protes dan demonstrasi
4. konsumerisme

➠ Cara menyikapi pengaruh perubahan sosial budaya.
1. Bersikap selektif dalam menerima pengaruh budaya lain,
2. berpikir yang ilmiah terhadap perubahan,
3. Mendorong perubahan tersebut ke arah yang lebih baik,
4. Menerima perubahan yang mengarah pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan umat manusia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ilmu Pengetahuan Sosial 3 : Untuk SMP/MTs Kelas ix / Danang Endarto…[et al] ; penyunting, Achmad Buchory, llustrator, Purwanto . — Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.

Partner : Contoh-Contoh.Com