Perkembangan Islam di Indonesia – Sejarah

Perkembangan Islam di Indonesia
Perkembangan Islam di Indonesia

Perkembangan Islam di Indonesia – Sejarah

Perkembangan Islam di Indonesia – Proses masuk dan berkembangnya Agama Islam, baik secara agama maupun budaya terjadi setelah bangsa Indonesia bergaul dengan berbagai bangsa. Pergaulan bangsa ini ditandai dengan terjalinya hubungan dagang antara wilayah Nusantara dengan kawasan perdagangan di Asia Tenggara, Asia Selatan, maupun Asia Barat.

Baca Juga : Sejarah Pramuka

 

a. Peran Pedagang

Secara tradisional pedagang Arab sudah mengunakan jalur darat atau jalur sutera menjelajahi kawasan Asia Barat, Asia Tengah, kemudian ke dataran Cina. Melalui laut pedagang Arab menyusuri Laut Merah, Telu Aden, Laut Arab, Samudera Hindia, Laut Malabar, Semenanjung Malaka, Kepulauan Nusantara, dan Filipina. Kapan dan bagaimanakah agama Islam masuk ke Indonesia?

Masuk dan berkembang Agama Islam di Indonesia bersamaan dengan ramainya perdagangan antara wilayah Arab, Teluk Persia, India, Selat Malaka dan kepulauan Nusantara pada abad ke-7 sampai 15 M. Ada beberapa keterangan yang membuktikan masuknya Agama Islam di Indonesia.

Sumber-sumber sejarah mengenai masuknya pengaruh Islam di Indonesia berasal dari:
1) Keterangan dari Marcopolo, yang pernah singgah di Perlak tahun 1292 menyebutkan telah ada kerajaan Islam di Samudera Pasai.
2) Berita dari Ibnu Battuta pedagang Arab, pada tahun 1345 yang mengunjungi Kerajaan Islam Samudera Pasai.
3) Berita musafir Islam Cina, Ma-Huan bersama Laksamana Che-Ho tahun 1494 mengunjungi masyarakat perkampungan muslim di Gresik.
4) Ditemukannya makam batu nisan seorang muslimah ber- nama Fatimah binti Maimun di Leran Gresik tahun 1082 M.
5) Batu nisan makam Sultan Malik Al-Saleh (1297) yang dianggap sebagai pendiri Kerajaan Samudera Pasai.

b. Peran Pendakwah (penyampai agama)

Penyebaran agama Islam juga terjadi melalui usaha-usaha yang dilakukan oleh orang-orang yang merasa berkewajiban untuk menyebarkannya. Penyebaran tersebut dilakukan melalui dakwah yang dirintis oleh Wali Songo (Wali Sembilan) di Jawa dan beberapa tempat daerah lainnya di Indonesia. Menurut sejarah lisan masyarakat Jawa, terdapat beberapa wali yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa.

Wali Songo memiliki pengaruh luas bukan hanya di kalangan rakyat biasa tetapi juga di kalangan elit penguasa politik. Para wali kesemuanya bergelar Sunan, suatu singkatan dari Susuhunan, artinya “yang dijunjung tinggi“ atau tempat memohon sesuatu. Cara penyebaran Islam oleh wali Songo menggunakan metode-metode yang paling memudahkan ajaran agama Islam diterima oleh berbagai golongan masyarakat. Kesembilan wali itu antara lain.

1) Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi
Cara penyebarannya dengan pendekatan pergaulan dengan masyarakat setempat untuk mengenal adat-istiadatnya terlebih dahulu. Dengan cara itu agama Islam mudah diterima oleh masyarakat yang menjadi sasaran penyebarannya. Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419 dimakamkan di kota Gresik.

2) Sunan Ampel
Kemenakan Kertawijaya, seorang raja Majapahit (1467 M) menyebarkan Islam melalui pendidikan di pesantren. Di Ampel, dekat Surabaya, beliau mendirikan pesantren untuk mencetak kader dakwah, muridnya yang kemudian jadi wali adalah Sunan Giri.

3) Sunan Giri atau Raden Paku
Murid Sunan Ampel, menyebarkan Islam melalui kesenian. Sunan Giri mempunyai pengaruh terhadap Kerajaan Islam Demak. Dimakamkan di Bukit Giri, Gresik.

4) Sunan Bonang atau Makdum Ibrahim
Putra Sunan Ampel, lahir tahun 1465 M, menyebarkan agama Islam di Tuban dengan menggunakan budaya sebelum Islam, ia menciptakan lagu berisikan ajaran Islam seperti Durma. Kemudian dia menggunakan alat musik Bonang (gong) sebagai sarana untuk mengumpulkan massa.

5) Sunan Drajat
Putra ketiga Sunan Ampel, menyebarkan dakwah di Jawa Timur, melakukan penyebaran Islam dengan memberi pertolongan terhadap para fakir, anak-anak yatim, orang-orang yang membutuhkan dan orang-orang sakit. Beliau dianggap sebagai tokoh yang ikut mendirikan Kerajaan Islam Demak. Ia wafat tahun 1586 M di dekat Sedayu, Gresik.

6) Sunan Kudus atau Ja’far As-shadiq
Menyebarkan Islam di kota Kudus, ia dianggap pendiri Kota Kudus, juga membangun mesjid Kudus yang menaranya mengambil gaya candi Hindu. Ia wafat tahun 1603 M dimakamkan di kota Kudus.

7) Sunan Muria
Menyebarkan Agama Islam di pedalaman daerah Kudus. Pendekatan yang dilakukan untuk menarik minat masuk agama Islam dengan pendekatan kebudayaan terutama golongan masyarakat bawah. Misalnya menggunakan kesenian yang digemari masyarakat setempat.

8) Sunan Kalijaga atau Raden Sahid
Ia berasal dari lingkungan istana Majapahit, tetapi kemudian masuk Islam karena usaha Sonan Bonang. Ia menikah dengan putri Sunan Gunung Jati. Ia menyebarkan Islam dengan memanfaatkan pertunjukan wayang kulit dalam dakwahnya. Alur cerita, tokoh-tokohnya dan beberapa ajimat dalam cerita disesuaikan dan diganti dengan unsur-unsur Islam. Sunan Kalijaga tidak memaksakan penyebaran agama Islam, dan menghargai nilai-nilai lama yang telah dianut.

9) Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
Berasal dari Persia, menyebarkan Agama Islam di Jawa Barat. Para penguasa di Banten dan Cirebon adalah keturunan Sunan Gunung Jati. Wafat di Cirebon tahun 1570 M.

Baca Juga : Pengertian Sejarah

 

Sarana Yang Mempengaruhi Perkembangan Islam di Indonesia

Proses masuk dan Perkembangan Islam di Indonesia melalui beberapa sarana. Sarana-sarana penyebaran agama Islam di Indonesia, antara lain adalah:

a. Melalui Pedagang Gujarat
Pendapat ini berdasarkan bukti dari kesaksian Marcopolo yang pernah berkunjung ke  Perlak tahun 1292 M,  ia menyaksikan banyak pedagang Gujarat yang menyiarkan agama Islam dan didukung oleh adanya batu nisan makam Sultan Malik Al-Saleh yang didatangkan dari Gujarat.

b. Melalui Pedagang Persia
Pendapat ini berdasarkan bukti di Persia ada suku Laren dan Jawi, kemudian kedua suku ini mengajarkan huruf dan bahasa Arab di Pulau Jawa dengan huruf Pagon. Pendapat ini didukung oleh Husein Djayadiningrat. Kesamaan lainnya adalah peringatan 10 Muharram  sebagai  peringatan meninggalnya Husein di Karbala, cucu Nabi Muhammad saw. Di Indonesia peringatan ini juga dilaksanakan di Aceh dan Minangkabau.

c. Melalui Pedagang Arab atau Mesir
Pendapat ini dikemukakan oleh Hamka. Berdasarkan bukti raja-raja Samudera Pasai menganut mazhab Syafei. Penganut mazhab ini banyak di negara Mesir dan kota Makkah Arab Saudi. Bila oleh orang Persia, tentu banyak orang Indonesia bermazhab Syiah seperti di Persia. Gelar Malik Al– Saleh raja pertama Kerajaan Samudera Pasai adalah gelar dari Mesir.

d. Melalui Perkawinan
Dipandang status sosial dan ekonomi, pedagang muslim mempunyai tingkat sosial dan ekonomi yang lebih baik sehingga penduduk pribumi tertarik kepada pedagang muslim sehingga terjadilah perkawinan.  Para keluarga muslim turut mempercepat proses berkembangnya agama Islam. Seperti perkawinan Sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan putri Kawungaten dan Pangeran Brawijaya dengan putri Jeumpa dari Pasai Aceh yang melahirkan Raden Patah pendiri Kerajaan Islam Demak.

e. Melalui Pendidikan
Para wali mendirikan pesantren yang mendidik santri. Bila telah selesai belajar di pesantren, para santri kembali berdakwah menyebarkan agama Islam. Seperti pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel di Denta dekat Surabaya, Sunan Giri mendirikan pesantren di Giri.

f. Melalui Ajaran Tasawuf
Dengan tasawuf, agama Islam diajarkan kepada penduduk disesuaikan dengan alam pikiran masyarakat sehingga mudah diterima dan dimengerti. Seperti yang dilakukan oleh Hamzah Fansuri, Sunan Panggung, dan Syeh Siti Jenar.

g. Melalui Kesenian
Memakai kesenian yang disenangi oleh masyarakat sehingga agama Islam mudah diterima. Seni wayang, seni gamelan, seni sastra, seni bangunan, dan seni ukir, adalah media kesenian yang sering dipakai dalam penyebaran Agama Islam. Sunan Kalijaga menggunakan seni wayang dalam penyebaran Islam dan seni gamelan seperti adanya acara sekaten di Solo dan Jogyakarta.

h. Melalui saluran penguasa politik
Seorang raja masuk agama Islam sangat besar pengaruhnya dalam proses berkembangnya Islam, kemudian rakyatnya juga masuk Islam. Demi kepentingan politik, kerajaan Islam memerangi kerajaan non-Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis akan menarik penduduk kerajaan non-Islam masuk Islam.
Peta Penyebaran dan Pengaruh Islam pada Abad Ke – 16, 18, dan 20

Setelah jatuhnya Kerajaan Islam Malaka tahun 1511 ke Bangsa Portugis, para pedagang tidak berhubungan lagi dengan Malaka. Mereka memutar arah kapalnya menyusuri pantai barat Sumatra hingga ke Kerajaan Minangkabau. Berlanjut ke Pulau Jawa melalui Selat Sunda, masuk ke pesisir utara Pulau Jawa, hingga tersebar di Demak. Dari Kerajaan Demak, Islam memencar ke Banten, Cirebon, Tuban, Gresik Dari Demak, agama Islam memencar ke Kalimantan Selatan, maka berdirilah Kesultanan Banjar, terus ke Makassar. Dari Kerajaan Makassar, Islam dibawa ke Kalimantan Timur, Bali, Lombok, Sumbawa Timor, Ternate, Tidore, Halmahera, dan Maluku.

Pada abad ke-18 proses berkembangnya Islam sudah menyebar ke sebagian besar wilayah Nusantara, terkecuali yang belum dipengaruhi agama Islam adalah Pulau Papua dan sekitarnya. Sumatra Utara, terutama sekitar wilayah Danau Toba dan wilayah pedalaman Sumatra Selatan, pedalaman Pulau Kalimantan.

Baca Juga : Sejarah Samudera Pasai

 

Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

a. Perkembangan Islam di Indonesia Pada Masa Kesultanan Samudera Pasai

Kesultanan Samudera  Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Terletak di muara Sungai Peusangan di pesisir timur Laut Aceh berdiri pada abad ke-13 Masehi. Kerajaan ini didirikan oleh Laksamana Laut Mesir Nazimuddin Al-Kamil dari Dinasti Mamaluk. Raja pertama kerajaan ini adalah Marah Silu dengan gelar Malik Al-Saleh (1285-1297).  Hal  ini  dapat diketahui dari batu nisan pada makam Malik Al-Saleh yang berangka tahun 1297 Masehi.

Setelah meninggalnya Malik Al-Saleh, digantikan oleh puteranya Muhammad Malik Al-Tahir yang memerintah dari 1297 hingga 1326. Pengganti selanjutnya adalah Sultan Ahmad dengan gelar Malik Al-Tahir. Menurut Ibnu Battuta, musafir dari Arab menyebutkan bahwa Sultan Ahmad dan masyarakat Samudera Pasai taat beragama. Para pejabatnya berasal dari Persia dan Mesir. Samudera Pasai adalah kota pelabuhan dagang penting menjadi tempat singgah kapal-kapal dagang asing dari Cina dan India. Perdagangan, pelayaran, dan pertanian merupakan sumber pendatan bagi Samudera Pasai dan berkembang dengan baik sehingga  memberikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

 

b. Perkembangan Islam di Indonesia Pada Masa Kesultanan Demak

Bukalah peta Indonesia, tunjukkan oleh kalian dimana letak kota Demak? Bila sudah kamu dapatkan! Ketahuilah bahwa di kota itu pernah muncul sebuah kerajaan besar di Pulau Jawa. Yaitu Kesultanan Demak. Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Patah, seorang adipati Majapahit yang kemudian masuk Islam. Awalnya Demak adalah daerah bawahan Kerajaan Majapahit yang kemudian melepaskan diri pada tahun 1500 Masehi. Dengan bantuan para walisongo, Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak.

Dalam waktu singkat, Kerajaan Demak berkembang menjadi kerajaan Islam besar di Pulau Jawa. Wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Semarang, Tegal, Palembang, pulau-pulau sekitar Kalimantan, dan Sumatra. Demak juga menguasai pelabuhan dagang penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, dan Gresik. Kerajaan Demak berperan penting dalam proses perkembangan Agama dan budaya Islam di Pulau Jawa. Pada masa itu Demak menjadi pusat penyebaran Agama Islam. Para wali, selain sebagai penyebar Islam mereka juga sebagai pensehat kerajaan Demak. Maka didirikankanlah Mesjid Demak sebagai pusat penyebaran Agama Islam.

Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah dengan gelar Sultan Alam Akbar berkembang menjadi pesat karena memiliki lahan pertanian yang luas.

Jatuhnya Malaka ke Portugis menyebabkan putusnya hubungan perdagangan ekspor Demak. Hal itu menyebabkan kekhawatiran Demak akan ekspansi Portugis ke daerah-daerah kekuasaan Demak yang nantinya akan mengambil alih penguasaan perdagangan di wilayah Nusantara. Oleh karena itu, pada tahun 1513, Kerajaan Demak mengirimkan armada lautnya untuk menyerang Portugis di Malaka. Di bawah pimpinan Pati Unus, putra Raden Patah, Demak mengerahkan 10.000 prajurit dengan 100 buah perahu. Namun serangan ini berhasil digagalkan Portugis.

Meninggalnya Raden Patah tahun 1518 digantikan oleh putranya Pati Unus ysng terkenal dengan gelar Pangeran Sabrang Lor. Masa pemerintahan Pati Unus tidak berlangsung lama. Tahun 1521 Pati Unus wafat. Pangeran Trenggana menjadi Raja Demak (1521). Di bawah kepemimpinannya Kerajaan Demak berusaha menaklukan Jawa Barat pada tahun 1522 mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Fatahillah untuk menguasai Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon.

Tahun 1527 Pasukan Demak berhasil mengusir Portugis dari Banten dan Sunda Kelapa, sehingga wilayah Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon direbut Demak.

Sultan Trenggana juga memperluas kekuasaannya ke Jawa Timur. Ia memimpin pasukan ke Jawa Timur, satu per satu wilayah Madiun, Gresik, Tuban, dan Malang direbut. Tetapi ketika berusaha merebut daerah Pasuruan, Sultan Trenggana gugur tahun 1546.

Setelah gugurnya Trenggana, konflik keluarga raja Demak muncul, terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Prawata, putra Sultan Trenggana, dengan Pangeran Sekar Seda ing Lepeng. Pangeran Sekar dapat dibunuh oleh Pangeran Prawata. Pangeran Arya Panangsang menuntut balas terhadap kematian ayahnya. Awalnya Pangeran Prawata berkuasa di Demak, namun ia kemudian dibunuh Arya Panangsang, dan ia juga membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kali Nyamat, adik Pangeran Prawata. Oleh Arya Panangsang, Pangeran dianggap sebagai penghalangnya menjadi raja Demak. Kemudian Arya Panangsang tampil sebagai Raja Demak.

Masa pemerintahan Raja Arya Panangsang, Kerajaan Demak mengalami gejolak kekacauan. Arya Panangsang yang memerintah dengan kejam banyak tidak disukai. Pembunuhan Pangeran Hadir, menyebabkan istrinya Ratu Kali Nyamat mengasingkan diri dan memberontak untuk balas dendam atas kematian suaminya.

Tindakan Kali Nyamat banyak mendapat dukungan dari para adipati bawahan Demak. Salah satunya adalah Adipati Pajang (daerah Boyolali), ia adalah menantu Sultan Trenggana, Pangeran Adiwijaya atau dikenal dengan nama Jaka Tingkir. Dibantu oleh Kyai Gede Pamanahan, Ki Panjawi, dan putranya Sutawijaya. Adiwijaya berhasil mengalahkan Arya Panangsang. Kemudian ia naik tahta Kerajaan Demak dengan gelar Sultan Hadiwijaya serta memindahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang tahun 1568 M. Dengan pemindahan itu maka berakhirlah riwayat Kesultanan Demak.

 

c. Perkembangan Islam di Indonesia Pada Masa Kesultanan Mataram Islam

Pernahkah kamu jalan-jalan ke Yogyakarta? Bila pernah, pasti kamu mengunjungi Keraton Yogyakarta. Apa kaitannya Keraton Yogyakarta dengan Kesultanan Mataram Islam? Nah, selanjutnya mari kita ikuti uraian tentang Kesultanan Mataram Islam.

Munculnya Kesultanan Mataram tidak lepas dari Kerajaan Pajang, Sultan Adiwijaya (Jaka Tingkir) memberikan hadiah tanah di daerah Kota Gede, Mataram kepada Kyai Gede Pamanahan. Oleh Kyai Gede (Ageng) Pamanahan, daerah itu dibangun dan kemudian berkembang maju. Ia bercita-cita melepaskan diri dari Kerajaan Pajang, namun sebelum cita-cita itu tercapai tahun 1575 ia wafat, kemudian digantikan oleh putranya Sutawijaya yang berhasil lepas dari kekuasaan Kerajaan Pajang dan mendirikan Kerajaan Mataram.

Sutawijaya dinobatkan sebagai Adipati Mataram oleh Sultan Adiwijaya dengan gelar Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama, yang berarti panglima perang dan pembela agama Islam. Di bawah kerja keras Sutawijaya, Mataram berkembang maju. Ia menjadikan Mataram sebagai kesultanan Islam terbesar di Pulau Jawa. Politik ekspansif Sutawijaya untuk menaklukan daerah-daerah lain dilakukan terhadap Surabaya, tahun 1586. Surabaya dapat ditaklukkan dan mengakui kekuasaan Mataram.

Selanjutnya Sutawijaya merebut Madiun dan Ponorogo. Tahun 1587, Mataram berusaha merebut Panarukan, Pasuruan dan Blambangan. Tiga daerah dapat ditaklukan, tetapi kemudian memerdekakan diri. Tahun 1595, Sutawijaya mengalihkan politik ekspansifnya ke Jawa Barat, dikirim pasukan Mataram untuk menaklukkan Cirebon dan Kerajaan Galuh. Akhirnya Cirebon dan Galuh berhasil ditaklukkan dan mengakui kekuasaan Mataram.

Politik perluasan wilayah Mataram tidak selamanya mulus. Sutawijaya banyak mendapat perlawanan dari daerah taklukan seperti daerah Pati dan Demak, secara bersama-sama memberontak kepada Mataram. Gabungan pasukan Demak dan Pati berhasil mencapai ibukota Mataram, meskipun pada akhirnya dapat ditumpas tentara berkuda Kerajaan Mataram. Daerah Panarukan, Pasuruan, dan Blambangan juga ikut melepaskan diri setelah pasukan Mataram kembali ke Mataram.

Sutawijaya boleh dikatakan berhasil meletakkan dasar-dasar Kesultanan Mataram, ia menerapkan sistem kerajaan berdasarkan Agama Islam (teokratis). Dalam pemerintahannya, kedudukan Sultan memegang peranan sangat penting dan kuat. Di bidang ekonomi, ia menjadikan Mataram sebagai kerajaan agraris maritim. Tahun 1601, Sutawijaya wafat digantikan putranya Mas Jolang dengan gelar Panembahan Seda ing Krapyak.
Baca Juga : Masuknya Jepang ke Indonesia

 

d. Perkembangan Islam di Indonesia Pada Masa Kesultanan Banten

Tahun 1522 Portugis mendapat persetujuan dari Kerajaan Pajajaran diperbolehkan membangun markas dagangnya di Sunda Kelapa. Hal ini sangat mencemaskan Kerajaan Demak, akan bahaya dari Portugis. Maka diutuslah misi dipimpin oleh Nasrullah atau Fatahillah, menantu Sultan Trenggana, Raja Demak. Misi ini disertai oleh pasukan dengan tujuan agar bandar-bandar pesisir utara Jawa Barat tidak jatuh ke tangan Portugis. Singkatnya tahun 1527, pelabuhan Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon berhasil dikuasai Demak.

Fatahillah sukses merebut tiga pelabuhan itu. Kemudian tahun 1552 Fatahillah menyerahkan penguasaan Banten kepada putranya Hasanuddin dengan Gelar Panembahan Banten. Fatahillah sendiri pergi ke Cirebon untuk menggantikan Pangeran Pasarean, putra Fatahillah yang berkuasa atas Cirebon. Tahun 1568 Hasanuddin memerdekakan diri, Banten lepas dari Kerajaan Demak. Ia menobatkan dirinya menjadi raja pertama kerajaan Banten.

Maulana Yusuf kemudian meninggal digantikan putranya Maulana Muhammad tahun 1580-1596 Masehi, dengan gelar Kanjeng Ratu Banten. Tetapi karena ia masih berumur 9 tahun, pemerintahan dikendalikan oleh mangkubumi, baru kemudian dewasa ia naik tahta. Tahun 1596, Banten melakukan usaha penaklukan terhadap Palembang, karena kerajaan Palembang dianggap saingan perdagangan terhadap Banten.

Pada tahun yang sama 1596, Armada dagang Belanda dipimpin oleh Cornelis de Houtman mendarat di Banten. Kedatangan Belanda menimbulkan  keributan  dan kegaduhan di Pelabuhan Banten. Sehingga tentara Kerajaan Banten mengusirnya dari Banten. VOC yang ingin memonopoli perdagangan berusaha merebut Banten. Banten mencapai puncak kejayaan politiknya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683), ia sangat menentang kehadiran VOC di Banten yang memonopoli perdagangan.

Banten merupakan pusat penyebaran agama Islam di wilayah barat Indonesia. Menurutmu, faktor apa yang melatar- belakangi dan mendorong para pedagang Belanda terlebih dahulu datang ke Kerajaan Banten?

 

e. Perkembangan Islam di Indonesia Pada Masa Kesultanan Makassar (Goa Tallo)

Pada abad ke-16 M berdiri beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan, antara lain Goa dan Talo. Kedua kerajaan ini kemudian bergabung menjadi satu dengan nama Goa-Tallo atau yang lebih dikenal dengan nama Makassar. Ibukota kerajaan Makassar adalah Sombaopu. Raja Goa adalah Daeng Manrabia kemudian masuk Islam menjadi Raja Goa-Tallo dengan gelar Sultan Alaudin. Sedangkan Raja Tallo, Karaeng Matoaya menjadi Mangkubumi dengan gelar Sultan Abdullah. Makassar adalah kerajaan Islam pertama di Sulawesi. Letak Makassar yang strategis pada jalur pelayaran antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur.

Makassar menjadi pintu masuk menuju ke wilayah Indonesia bagian timur, pada abad ke-16, Ternate, Tidore, dan Maluku sebagai pusat rempah-rempah. Banyak pedagang singgah di pelabuhan Makassar sebelum melanjutkan ke Ternate, Tidore, dan Maluku. Apalagi setelah jatuhnya Malaka ke Portugis. Pelabuhan Makassar berkembang pesat menjadi pelabuhan perdagangan.

Tahun 1639, Sultan Alaudin wafat digantikan putranya Sultan Muhammad Said. VOC berusaha membujuk Sultan, namun permintaan itu ditolak. Bahkan ia mengirimkan armada lautnya ke Maluku untuk membantu lepas dari cengkeraman VOC. Perlawanan Makassar terhadp VOC terus dilanjutkan oleh Sultan Hasanuddin, putra dari Sultan Muhammad Said. Sultan Hasanuddin memegang tampuk kekuasaan Makassar dari tahun 1653 hingga 1667. Pada masa pemerintahannya, Makassar menjadi kerajaan maritim besar di wilayah Indonesia bagian timur, wilayah kekuasaanya hingga ke Nusa Tenggara. Sultan Hasanuddin terkenal gigih menentang monopoli perdagangan Belanda.

 

f. Perkembangan Islam di Indonesia Pada Masa Kesultanan Ternate dan Tidore

Pada abad ke-15 di Maluku terdapat lima kerajaan yang berkuasa, yakni Jailolo, Ternate, Tidore, Bacan, dan Obi. Semuanya adalah kerajaan Islam. Di antara kelima kerajaan itu, kerajaan Ternate yang paling maju. Ternate sebagai penghasil rempah- rempah, menjadikan Ternate banyak dikunjungi pedagang. Sehingga Ternate maju menjadi pusat perdagangan di Maluku.

Kemajuan Ternate memancing kecemburuan empat kerajaan lainnya untuk bersekutu melawan Ternate. Terjadi perang, namun berlangsung tidak lama. Kelima kerajaan itu sepakat untuk membuat kesepakatan bersama kerajaan mana yang lebih dulu menduduki posisi pertama dan seterusnya. Tetapi kesepakatan ini pecah di akhir abad ke-15, karena Ternate tampil kembali di urutan pertama selama 10 tahun. Ketika akan dikembalikan lagi menjadi raja Ternate, Sultan Khaerun dan rakyat Ternate menolak  sultan lama. Penolakan  ini menyebabkan Portugis marah dengan siasat licik Portugis mengundang Sultan Khaerun untuk berunding dengan Portugis namun Sultan ditangkap dan dibunuh oleh Portugis

Pembunuhan Sultan Khaerun menyulut kemarahan rakyat Ternate, pemberontakan terjadi dipimpin oleh putra sulung Sultan Khairun, Baabullah. Sultan Baabullah menyerukan perang suci terhadap Portugis, ternyata Ternate banyak mendapat dukungan  dari kerajaan-kerajaan lainnya termasuk Tidore. Perang akhirnya dimenangkan oleh rakyat dapat mengusir Portugis dari bumi Ternate tahun 1575, akhirnya Portugis menyingkir ke Timor Timur.

Demikian uraian ilmu pengetahuan id mengenai Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia. Semoga bermanfaat. Bantu share artikel ini keteman teman kalian ya.

 

DAFTAR PUSTAKA

IPS / Budi Sanjaya…[et al.] ; editor, Dimas Handi Hijrah Saputra.—Jakarta : Pusat Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional, 2010.

Note: Regarding the form of understanding of religious leaders above, or the method of disseminating Islamic religion that we listed above, the author is not responsible for the validity of the schools of thought. Is it in accordance with the Qur’an and hadith or not. The author only presents material about the forms and factors that influence the development of Islam in Indonesia based on the history embodied.

Catatan : Mengenai bentuk pemahaman pemimpin agama di atas, atau metode penyebaran agama Islam yang kami sebutkan di atas, penulis tidak bertanggung jawab atas validitas mazhab pemikiran. Apakah itu sesuai dengan Alquran dan hadis atau tidak. Penulis hanya menyajikan materi tentang bentuk dan faktor yang mempengaruhi perkembangan Islam di Indonesia berdasarkan sejarah yang terkandung

Partner : Contoh-Contoh.Com