Perilaku Konsumen

Perilaku Konsumen
Perilaku Konsumen

Perilaku Konsumen

1. Pengertian Konsumsi dan Konsumen

Konsumsi adalah kegiatan menghabiskan atau mengurangi nilai guna suatu barang dan jasa. Makan nasi adalah merupakan kegiatan konsumsi karena menghabiskan nilai guna nasi, memakai baju juga merupakan kegiatan konsumsi karena mengurangi nilai guna baju. Kedua contoh di atas merupakan contoh sederhana dari kegiatan konsumsi.

Masih banyak contoh lain karena manusia memiliki kebutuhan yang beraneka ragam. Kegiatan pemenuhan kebutuhan yang sifatnya menghabiskan atau mengurangi nilai guna barang atau jasa tersebut yang disebut dengan konsumsi.
Contoh yang lain tentang kegiatan konsumsi adalah membaca buku, menonton televisi, memotong kuku, bermain sepak bola, berobat ke dokter, menelpon, naik sepeda motor, dan sebagainya.
Lalu apa yang dimaksud dengan konsumen? Konsumen adalah orang atau pihak yang melakukan kegiatan konsumsi tersebut. Misalnya siswa merupakan konsumen pendidikan, pasien merupakan konsumen pengobatan, bahkan semua orang dapat berperan sebagai konsumen karena semua orang selalu berupaya untuk memenuhi kebutuhan seperti makan, minum, berpakaian, berekreasi, dan sebagainya.

Baca Juga : Faktor Faktor yang Mempengaruhi Permintaan dan Penawaran

2. Tujuan Konsumsi

Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa sebenarnya konsumsi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia guna memperoleh kepuasan. Jadi tujuan akhir dari kegiatan konsumsi adalah kepuasan. Jika kita lapar makan akan merasa puas jika sudah makan, begitu juga kita akan merasa puas jika kita haus memperoleh minuman yang segar.

3. Nilai Suatu Barang

Setiap rumah tangga mesti mempunyai pengetahuan yang pasti tentang penghasilan yang diterimanya dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu minggu atau satu bulan. Setiap rumah tangga juga mengetahui mengenai barang dan jasa yang ingin dibeli dalam jangka waktu itu.

Masalah yang dihadapi oleh setiap keluarga, juga termasuk keluarga kalian adalah “Bagaimana membelanjakan uang penghasilan yang jumlahnya terbatas untuk barang atau jasa, agar mendapatkan kesejahteraan atau kepuasan yang maksimum”.
Barang atau jasa yang nyata-nyata dibutuhkan oleh setiap keluarga untuk memenuhi kebutuhan, maka barang atau jasa tersebut memiliki “nilai guna” atau ”manfaat” bagi keluarga. Nilai guna atau manfaat suatu barang atau jasa dalam pengertian ekonomi yaitu kemampuan atau daya barang atau jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia.
Seseorang memberi nilai terhadap motor, karena dengan motor dapat lebih cepat mencapai tujuan. Motor memiliki daya guna memuaskan kebutuhan. Demikian juga untuk barang-barang atau jasa yang lain, seperti sandang, pangan, papan, obat-obatan, dan lain sebagainya. Semuanya itu memiliki daya guna atau nilai untuk memuaskan kebutuhan manusia.

Nilai suatu barang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu nilai pakai (value in use) dan nilai tukar (value in exchange)
a. Nilai pakai (value in use)

Nilai pakai adalah kemampuan suatu barang untuk dapat memuaskan kebutuhan. Misalnya buku pelajaran ekonomi, tas sekolah, buku tulis, beras, tektil, perumahan, dan kendaraan, yang semua mempunyai nilai pakai. Tinggi atau rendahnya nilai pakai barang ditentukan oleh intensitas kebutuhan, tempat dan waktu. Contohnya baju dingin akan tinggi nilainya jika dibutuhkan di daerah pegunungan yang berhawa dingin, apalagi di waktu musim salju.

Nilai pakai terdiri dari dua macam, yaitu:
1) Nilai  pakai subjektif

Adalah nilai/arti yang diberikan oleh seseorang pada suatu barang, sehubungan dengan kemampuan barang untuk memenuhi/memuaskan kebutuhan. Misalnya Buku pelajaran ekonomi bagi siswa, buku tulis bagi siswa, tas sekolah bagi siswa, nasi bagi orang yang lapar.

2) Nilai pakai objektif

Adalah kemampuan suatu barang untuk dapat memuaskan kebutuhan manusia pada umumnya. Misalnya sandang, makanan, perumahan sangat bernilai bagi suatu keluarga, buku pelajaran sangat bernilai bagi siswa SMA.

b. Nilai Tukar (value in exchange)

Nilai tukar ialah kemampuan suatu barang untuk dapat ditukarkan dengan barang lain di pasar. Misalnya : Buku pelajaran ekonomi, tas sekolah, buku tulis, beras, tekstil, tembakau, cengkeh, obat-obatan memiliki nilai tukar. Tinggi atau rendahnya nilai tukar suatu barang ditentukan oleh nilai pakai barang tersebut. Contoh beras memiliki nilai pakai yang lebih besar daripada pasir, sehingga nilai tukar beras lebih tinggi daripada nilai tukar pasir. Bila suatu barang semakin tinggi nilai pakainya, maka nilai tukarnya juga akan semakin tinggi. Faktor lain yang juga ikut menentukan tinggi atau rendahnya nilai tukar suatu barang adalah faktor persediaan. Makin sedikit persediaan makin tinggi nilai tukarnya. Misalnya : beras, gula pasir, semen, besi baja, dan lain sebagainya. Nilai tukar terdiri dari dua macam, yaitu:

1) Nilai tukar subjektif

Adalah nilai/arti yang diberikan seseorang pada suatu barang, sehubungan kemampuan suatu barang untuk dapat ditukarkan dengan barang lain. Seorang petani memberikan penilaian pada padi yang dihasilkannya menurut ukurannnya sendiri

2) Nilai tukar objektif

Adalah kemampuan suatu barang untuk dapat ditukarkan dengan barang lain. Hampir semua barang yang ada di dalam masyrakat mempunyai nilai tukar objektif, karena setiap manusia tidak membuat sendiri barang-barang yang ia butuhkan. Semakin maju pembagian kerja dalam masyrakat, makin mudah kita memperoleh barang-barang dengan jalan pertukaran. Maka dengan sendirinya barang-barang tersebut mempunyai nilai tukar objektif. misalnya: mengganti penggunaan bus menjadi taxi. Hal ini terjadi karena bus memiliki nilai tukar objektif dengan taxi.

4. Teori Nilai

Teori nilai memberikan jawaban atas pertanyaan Apakah sebabnya barang- barang mempunyai nilai? Dan faktor-faktor mana yang mempengaruhi tinggi/ rendahnya nilai suatu barang. Beberapa ahli ekonomi membahas teori nilai menurut pandangannya masing-masing. Dalam garis besarnya, teori nilai dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : teori nilai objektif, dan teori nilai subjektif.

a. Teori Nilai Objektif

Mazhab Klasiklah yang pertama kali mempelajari soal nilai, terutama nilai tukar. Teori nilai objektif menyelidiki nilai suatu barang dengan barang itu sendiri sebagai objek penelitian. Bagaimana terjadinya barang itu? apakah barang itu mempunyai guna pakai dan guna tukar? Dalam hal menilai, produsen mempunyai peranan penting, karena produsenlah yang menghasilkan barang serta mengetahui seluk-beluk proses produksi barang itu sampai dapat dijual di pasar. Sebagai dasar dalam penyelidikan teori nilai objektif ialah:

1) barang yang akan diselidiki.
2) penilaian dari pihak produsen.
3) apakah barang itu memiliki guna pakai dan guna tukar?

Beberapa pelopor teori nilai objektif yaitu: Adam Smith dengan teori nilai biaya produksi, David Ricardo: teori nilai biaya produksi tenaga kerja, Karl Marx: teori nilai tenaga rata-rata masyarakat dan teori nilai lebih, Carey: teori nilai biaya reproduksi, dan David Humme dan John Locke : teori nilai pasar.

1) Ajaran Nilai Biaya Produksi (Adam Smith)

Untuk membuat suatu benda telah dipergunakan modal dan tenaga. Orang harus memberikan pengorbanan berupa modal dan tenaga. Pengorbanan berupa modal dan tenaga inilah yang menjadi nilai dari benda tersebut. Nilai suatu benda menurut teori ini adalah sama dengan nilai yang dipergunakan berupa modal dan tenaga (biaya produksi). Teori Adam Smith dikenal dengan nama Teori Nilai Biaya produksi (Cost Value Theory).
Sering pula terjadi bahwa perbaikan dalam cara produksi menyebabkan biaya produksi sangat berkurang. Hal ini dapat diperhatikan dalam ajaran nilai biaya reproduksi dari Carey.

2) Ajaran Nilai Biaya Produksi Tenaga Kerja (David Ricardo)

Nilai barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan barang itu. Tenaga kerja yang dimaksud oleh Ricardo adalah meliputi tenaga kerja manusia dan perkakas dan mesin-mesin, karena perkakas dan mesin-mesin kalau dianalisis ternyata tidak lain adalah hasil dari tenaga kerja. Ricardo membedakan barang menjadi dua golongan

a) barang yang tidak mungkin diganti atau diperbanyak, seperti : lukisan. Nilai barang ini ditentukan oleh penggemar.
b) Barang yang mudah diperbanyak, nilainya ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan barang tersebut.
Berkaitan dengan itu, tenaga kerja merupakan alat penunjuk nilai dalam tukar-menukar.

3) Ajaran Nilai Tenaga rata-rata Masyarakat dan Teori Nilai Lebih (Karl Mar )

Pendapat Karl Marx ini merupakan kelanjutan hasil pemikiran Ricardo. Tenaga kerja adalah sumber nilai, dan nilai tukar suatu benda ditentukan oleh jumlah tenaga kerja rerata masyarakat. Yang dimaksud dengan masyarakat adalah tenaga manusia termasuk perkakas dan mesin yang dipakai dalam produksi sebenarnya juga tenaga kerja, yaitu tenaga kerja yang sudah mengkristal. Teori tenaga kerja Karl Marx dipakai sebagai dasar untuk menyusun “teori pemerasan”, yang mengkritik terjadinya kepincangan-kepincangan sosial ekonomi dalam masyarakat. Teori pemerasan ini sangat membantu dalam menguraikan teori nilai lebih (value added).

4) Ajaran Teori Nilai Biaya Reproduksi (Carey)

Menurut Carey, nilai barang harus didasarkan atas biaya reproduksi, yaitu biaya untuk memproduksi kembali suatu barang. Contohnya : untuk membuat meja belajar diperlukan biaya Rp 150.000,00. Setelah satu bulan kemudian karena harga kayu naik, maka diperlukan biaya Rp 200.000,00. Sehingga jumlah uang Rp 200.000,00 merupakan biaya reproduksi.

5) Ajaran Teori Nilai Pasar (David Humme dan John Locke)

Ajaran nilai David Humme dan John Locke ini juga disebut market value theory. Menurut teori ini, nilai suatu barang bergantung pada permintaan dan penawaran barang di pasar. Jika penawaran lebih besar daripada permintaan maka nilai barang akan turun. Sebaliknya jika permintaan lebih besar daripada penawaran, maka nilai barang akan naik.

6) Ajaran Nilai Batas (Carl Menger, Stanley Jevons, Leon Walras)

Teori Menger, Jevons, dan Walras tidak saling berhubungan dalam membuat teori guna batas. Teori ini kemudian dikembangkan oleh Von Bohm Bawerk, Von Weiser, dan Joseph Schumpeter.

b. Teori Nilai Subjektif

Para pelopor teori nilai subjektif adalah Herman Heinrich Gossen, Karl Menger, dan Von Bohm Bawerk. Dalam teori nilai objektif dikemukakan bahwa suatu barang yang memiliki guna pakai umum akan bernilai tinggi. Akan tetapi teori ini terbentur pada suatu paradoks bahwa air yang mempunyai guna pakai tinggi, tetapi bernilai rendah, sedangkan berlian/intan yang mempunyai guna pakai umum kecil, tetapi justru bernilai tinggi. Paradox antinomi nilai ini tidak dianalisis lebih lanjut oleh ajaran klasik.
Analisis nilai suatu barang harus berpangkal pada subjek pemakai berhubung dengan pemuasan kebutuhannya. Gambaran yang lebih jelas dapat kalian ikuti analisis pemuasan kebutuhan menurut Hukum Gossen. Teori nilai menurut Gossen terkenal dengan nama hukum Gossen I dan hukum Gossen II.
Hukum Gossen I berbunyi “ Jika pemuasan kebutuhan dilakukan terus menerus, maka kenikmatan semakin lama semakin berkurang, dan pada suatu saat akan tercapai titik kepuasan”
Hukum Gossen I disebut hukum guna batas yang semakin menurun. Bagaimana kenyataan hukum Gossen I tersebut dalam praktik? Hukum Gossen tidak selalu berlaku tepat, karena ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Dalam kenyataan hukum Gossen I masih mendapatkan kritikan:
1. Tidak berlaku bagi pengisap madat, ganja, miras, obat terlarang (narkoba) yang semakin banyak minum justru semakin merasakan kenikmatan.
2. Orang tidak selalu memuaskan satu macam kebutuhan hingga mencapai kepuasan maksimal. Pada saat memuaskan telah mencapai titik kepuasan tertentu akan menyusul kebutuhan lain yang harus dipuaskan pula.
Untuk menyempurnakan hukum pertama, Gossen menyusun analisisnya lebih lanjut . Hasilnya adalah Hukum Gossen II, yang berbunyi “Manusia berusaha memuaskan kebutuhannya yang beraneka ragam hingga mencapai tingkat intensitas yang sama (harmonis).
Hukum Gossen II ini dipergunakan oleh Karl Menger untuk menyelidiki bagaimana orang membagi penghasilannya guna memenuhi kebutuhannya yang bermacam-macam. Pada umumnya seseorang akan menggunakan penghasilannya dengan sebaik-baiknya agar supaya kebutuhannya yang bermacam-macam dapat dipenuhi hingga tingkat kepuasan yang sama. Kebutuhan yang perlu di dahulukan misalnya, makan, pakaian, perumahan, pendidikan, kesehatan baru kebutuhan sekunder seperti: rekreasi, hiburan, dan tabungan.

5. Teori Perilaku Konsumen

Seorang konsumen tentu memiliki kebutuhan yang tidak terbatas tetapi alat pemuas kebutuhannya sangat terbatas. Kalian sebagai seorang konsumen juga akan merasakan hal yang sama. Kalian tentu memilii kebutuhan yang demikian banyak, misalnya makanan yang beraneka macam, minuman yang beraneka rasa, pakaian yang beraneka rupa, buku, tas, sepatu, tempat tinggal, mainan, dan sebagainya. Tentu saja semua kebutuhan tersebut tidak mungkin mampu dipenuhi semuanya karena kita memiliki keterbatasan. Kita tentu tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli semua barang yang kita butuhkan tersebut. Hal inilah yang menjadikan perlunya kita mempelajari perilaku konsumen dalam memenuhi kebutuhannya.
Setiap konsumen berusaha mengalokasikan penghasilan yang terbatas jumlahnya untuk membeli barang dan jasa yang tersedia di pasar sedemikian rupa sehingga tingkat kepuasan yang diperolehnya maksimum. Demikian pula seorang produsen mengorganisir produksi yang selanjutnya menentukan penawaran barang di pasar. Produsen yang dapat mengorganisir produksi secara efisien akan memperoleh keuntungan. Mereka ini juga dapat berperan sebagai konsumen.
Semua anggota masyarakat yang menerima uang dan kemudian membelanjakannya untuk pembelian barang dan jasa disebut konsumen. Anggota keluarga yang dependen terhadap penerima penghasilan (anak yang masih sekolah) yang ikut menentukan anggaran rumah tangga, juga disebut konsumen. Setiap konsumen haruslah menetapkan permintannya untuk setiap barang dan jasa yang tersedia di pasar. Jumlah seluruh permintaan masyarakat atas barang dan jasa menunjukkan permintaan pasar.

Untuk menjelaskan perilaku konsumen dalam memperoleh kepuasan terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi terdapat dua pendekatan teori, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal. Berikut ini penjelasan tentang kedua teori tersebut:
a. Pendekatan Kardinal

Pendekatan kardinal menganggap bahwa kepuasan konsumen yang diperoleh dari kegiatan konsumsi barang dan jasa dapat diukur secara kuantitatif. Artinya kepuasan konsumen dapat diukur dengan angka sebagaimana kita mengukur berat badan, tinggi badan dan sebagainya.
Kepuasan konsumen yang diperoleh dari hasil konsumsi barang dan jasa disebut dengan istilah utilitas (utility). Oleh karena itu pendekatan kardinal juga sering disebut dengan pendekatan utilitas (utility approach). Pendekatan ini beranggapan bahwa:
1) Tingkat utilitas total yang dicapai seorang konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang yang dikonsumsi. Artinya tingkat kepuasan total yang diperoleh konsumen dipengaruhi oleh jumlah berbagai barang yang dikonsumsi. Hal ini sesuai dengan hukum Gossen yang telah dijelaskan di depan bahwa tingkat kepuasan konsumen dipengaruhi oleh jumlah dan variasi barang yang dikonsumsi.
2) Konsumen akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya sesuai dengan anggaran yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan bahwa anggaran yang dimiliki konsumen merupakan faktor penentu bagi pencapaian tingkat kepuasannya. Artinya konsumen tidak akan mampu mencapai tingkat kepuasan yang setinggi-tingginya sesuai dengan yang diinginkan melainkan tergantung dari jumlah anggaran yang dimilikinya. Karena itu konsumen akan berusaha untuk mengalokasikan jumlah anggaran yang dimiliki tersebut untuk membeli berbagai jumlah barang yang mampu menghasilkan kepuasan yang maksimal.

3) Tingkat kepuasan konsumen dapat diukur secara kuantitatif.
4) Tambahan kepuasan dari setiap unit tambahan barang yang dikonsumsi akan menurun.

b. Pendekatan Ordinal

Pendekatan ordinal menggunakan pengukuran ordinal (bertingkat) dalam menganalisis kepuasan konsumen. Artinya kepuasan konsumen tidak dapat diukur dengan angka tetapi hanya dapat diukur dengan peringkat, misalnya tidak puas, puas, lebih puas, sangat puas dan seterusnya. Pendekatan ini juga sering disebut dengan pendekatan indeferens.

Baca Juga : Bidang Bidang Manajemen

Sebagaimana pendekatan kardinal, pendekatan ordinal juga beranggapan bahwa tingkat utilitas total yang dicapai seorang konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang yang dikonsumsi. Di samping itu anggapan lain yang sama adalah konsumen akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya sesuai dengan anggaran yang dimilikinya. Namun demikian pendekatan ini memiliki anggapan yang berbeda dengan pendekatan kardinal. Pendekatan ordinal tidak menganggap bahwa tingkat utilitas dapat diukur secara angka tetapi konsumen hanya memiliki

skala preferensi.

Skala preferensi adalah suatu kaidah dalam menentukan pilihan terhadap barang yang akan dikonsumsi. Skala preferensi tersebut memiliki ciri sebagai berikut:

1) Konsumen mampu membuat peringkat kepuasan terhadap barang. Artinya konsumen mampu membedakan tingkat kepuasan dalam pemenuhan barang, misalnya minum es jus lebih puas dibandingkan minum es teh.
2) Peringkat kepuasan tersebut bersifat transitif artinya jika es jus lebih disukai daripada es teh, sedangkan es teh lebih disukai daripada es jeruk, maka es jus lebih disukai daripada es jeruk, bukan sebaliknya.
3) Konsumen akan selalu ingin mengkonsumsi jumlah barang yang lebih banyak karena konsumen tidak pernah terpuaskan.

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi

Konsumsi mengandung pengertian kegiatan mengurangi atau menghabiskan nilai guna barang atau jasa. Ini dilakukan oleh setiap orang dalam usaha memuaskan kebutuhannya secara langsung. Barang atau jasa yang dikonsumsi oleh setiap orang berbeda. Perbedaan itu terletak pada jumlah, jenis, dan kualitasnya. Mengapa bisa demikian? Karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi seseorang, antara lain :

a. Pendapatan
1) Besar atau kecilnya pendapatan

Semakin besar pendapatan yang diterima oleh seseorang, semakin besar pula daya belinya. Akan tetapi sebaliknya jika pendapatan seseorang semakin kecil, maka kemampuan membeli akan barang dan jasa juga semakin kecil, semakin sedikit barang atau jasa yang dapat dibeli/dimiliki.

2) Pendapatan yang mungkin diterima dimasa yang akan datang
Expected income, seberapa banyak pun akan berpengaruh pada besarnya pengeluaran konsumsi masa sekarang. Semakin besar expected income, akan semakin besar pula pengeluaran konsumsinya.

Contoh: Semakin dekat masa pensiun biasanya akan semakin hemat, karena pendapatan yang akan diterima akan menjadi lebih kecil. Akan tetapi jika pendapatan yang akan diterima seseorang diwaktu yang akan datang bertambah, maka konsumsinya saat sekarangpun mengalami kenaikan.

3) Pendapatan tertinggi yang pernah dicapai pada masa lampau

Pengeluaran konsumsi seseorang dipengaruhi juga oleh tingkat pendapatan tertinggi yang pernah dicapainya. Dalam arti bahwa pengeluaran konsumsi seseorang tidak mudah berkurang meskipun pendapatan mereka berkurang. Akibatnya seseorang itu akan mengurangi tabungannya/saving-nya. Bilamana pendapatan bertambah, maka konsumsi pun akan bertambah dan tabungannyapun akan bertambah dengan lebih cepat. Kenyataan ini akan terus berlangsung sampai pada tingkat pertambahan pendapatan tertinggi yang pernah dicapai semula.

4) Tingkat Bunga

Konsumsi merupakan fungsi dari tingkat bunga. Khususnya mereka percaya bahwa naiknya suku bunga mendorong tabungan dan mengurangi konsumsi. Namun para kenyataan yang terjadi dapat sebaliknya, yaitu dengan naiknya tingkat bunga pendapatan meningkat dan justru kemudian akan menaikkan konsumsi.

b. Harga Barang dan jasa

Harga barang sangat menentukan terhadap besar atau kecilnya konsumsi seseorang. Jika harga barang naik, maka seseorang akan memperkecil konsumsinya, sebaliknya jika harga barang turun, seseorang akan memperbesar konsumsinya. Akan tetapi perubahan harga barang ini tidak berlaku untuk barang kebutuhan pokok pada umumnya yang selalu akan dibeli dalam jumlah yang relatif tetap, kendati harga mengalami perubahan.

c. Adat Istiadat dan Kebiasaan Konsumen

Adat istiadat dan kebiasaan cukup berpengaruh pada konsumsi seseorang atau masyarakat. Adat istiadat dan kebiasaan dapat menyebabkan seseorang berperilaku konsumtif.
Contoh:
● Adat istiadat dilakukannya upacara-upacara ritual yang menggunakan bahan-bahan makanan atau yang lain, akan mempengaruhi tigkat konsumsi. Misalnya upacara Ngaben di Bali.
● Kebiasaan masyarakat yang sering dan senang melakukan pesta dan hidup ber hura-hura, maka akan akan memperbesar konsumsinya.
Akan tetapi masyarakat yang mempunyai adat istiadat dan kebiasaan bersikap terhadap kehematan (attitude toward thrift), maka konsumsi masyarakat tersebut akan semakin kecil.

d. Barang Subtitusi

Barang subtitusi/pengganti dapat mempengaruhi tingkat konsumsi seseorang/masyarakat. Jika terdapat barang yang dapat menggantikan fungsi suatu barang yang dibutuhkan seseorang dengan harga yang jauh lebih murah, maka barang tersebut dapat mempengaruhi konsumsi seseorang/masyarakat tersebut.

Contoh: Ember plastik dengan merek tertentu mahal harganya, sementara ada ember plastik merek lain atau ember seng yang harganya lebih murah, maka seseorang akan membeli ember merek lain atau ember seng yang lebih murah tersebut.

e. Jumlah Penduduk

Besarnya jumlah penduduk, akan berpengaruh pada pengeluaran konsumsi suatu masyarakat. Suatu perekonomian yang penduduknya relatif banyak, pengeluarannya untuk konsumsi pun akan lebih besar daripada perekonomian yang jumlah penduduknya sedikit, meskipun pendapatan nasional kedua masyarakat tersebut sama besarnya.

f. Banyaknya barang konsumsi yang tahan lama dalam masyarakat

Sedikit banyak pengeluaran masyarakat untuk konsumsi dipengaruhi oleh banyak sedikitnya “consumer’s durable” yaitu barang konsumsi terpakai lama seperti: rumah, motor, mobil pesawat televisi, lemari es, dsb. Pengaruhnya sebagai berikut:
1) Mengurangi pengeluaran konsumsi masyarakat tersebut. Misalnya dengan telah dimilikinya Televisi, maka acara menonton Bioskop berkurang
2) Menambah pengeluaran konsumsi. Misalnya dengan membeli mobil, maka acara pergi keluar kota semakin sering. Akibatnya pengeluaran bertambah besar untuk beli bensin, oli, reparasi, makan dsb.
3) Barang terpakai lama harganya mahal. Oleh karena itu untuk memperolehnya pada umumnya dibutuhkan masa untuk menabung. Masa hemat kita lakukan sebelum membeli, jika pembelian secara cash, sedangkan jika secara kredit masa menghemat kita lakukan sesudah pembelian.

g. Ramalan/dugaan masyarakat akan adanya perubahan harga

Dalam kenyataan harga barang dan jasa tidaklah stabil. Kalau diperkirakan harga akan naik, maka masyarakat ada tendensi untuk se- segera mungkin menggunakan uangnya guna membeli barang dan jasa, sekalipun pendapatan masyarakat tidak berubah. Maka dengan demikian fungsi konsumsi akan bergeser keatas, dan sebaliknya jika harga barang dan jasa diperkirakan akan turun.

h. Selera Konsumen

Di antara orang-orang yang usianya sama, namun pengeluaran konsumsinya tidak sama, karena perbedaan sikap menghemat atau attitude toward thrift dan selera masyarakat dalam berkonsumsi. Bila masyarakat memiliki selera yang menurun dalam konsumsi, maka tingkat konsumsi juga akan turun. Sebaliknya jika selera konsumsi masyarakat meningkat, hal ini akan meningkatkan konsumsi pula.
Contoh : Selera masyarakat untuk berekreasi beberapa waktu lalu menurun, akibat sering terjadinya kerusuhan dan tindakan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Maka hal ini juga menurunkan tingkat konsumsi masyarakat yang melakukan rekreasi. Namun setelah saat ini menjadi aman, maka selera masyarakat untuk berekreasi menjadi meningkat lagi, sehingga tingkat konsumsi mereka mengalami kenaikan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ekonomi 1 : Untuk SMA dan MA Kelas X/ Disusun Oleh Supriyanto, Ali Muhson; editor, Taupik Mulyadi. — Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.