Pasar Barang

Pasar Barang

Master
Wednesday, July 3, 2019

Pasar Barang
Pasar Barang

Pasar Barang

1. Pengertian Pasar Barang/Komoditi

Pasar barang/komoditi atau dikenal dengan Bursa komoditi adalah suatu pasar yang kegiatannya mempertemukan antara penjual dan pembeli untuk melaksanakan transaksi jual atau beli barang/komoditi tertentu. Dalam pasar komoditi, barang yang diperjual-belikan adalah barang/komoditi yang laku dijual di pasar dunia/internasional, misalnya kopi, kedelai, kakao, gula, jagung, tembakau, karet, CPO (crude palm oil), emas, perak, tembaga, dan lainnya.

Pada pasar/bursa komoditi dilihat dari sisi penyelenggarakan perdagangan dapat dibedakan menjadi dua macam pasar, yaitu:
a. Pasar fisik, adalah suatu kegiatan perdagangan yang penyerahan barang dagangan dari penjual kepada pembeli biasanya dilakukan segera setelah transaksi atau ada penyerahan barang secara tunai. Pada pasar fisik terjadi transaksi efektif. Transaksi efektif menunjuk pada suatu transaksi jual beli di bursa yang di akhiri dengan penyerahan barang dagangan dari penjual kepada pembeli secara nyata.
b. Pasar komoditi berjangka adalah suatu kegiatan perdagangan dalam hal ini yang diperdagangkan adalah surat kontrak yang mewakili barang yang disimpan di gudang. Pada pasar ini setelah terjadi transaksi tidak segera diikuti dengan penyerahan barang. Biasanya penyerahan barang dilakukan kemudian atau beberapa waktu bahkan beberapa bulan kemudian sesuai dengan perjanjian. Pada pasar komoditi berjangka motif utama transaksi seringkali hanya spekulatif bukan merupakan transaksi jual beli secara murni. Pada transaksi dengan motif sepekulasi yang lebih dominan, maka transaksi tidak diakhiri dengan penyerahan barang, karena tujuannya bukan menyelesaikan persetujuan dagang dengan serah terima barang, melainkan pembayaran dan penerimaan dari adanya perbedaan harga.

Berdasarkan UU No.32/1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, perdagangan berjangka adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan jual beli komoditi dengan penyerahan kemudian berdasarkan Kontrak Berjangka dan Opsi atas Kontrak Berjangka.

Perdagangan berjangka disebut Bursa Berjangka, yang selanjutnya sering disebut dengan Bursa yang memperdagangkan Kontrak Berjangka berbagai komoditi. Tempat untuk memperdagangkan Kontrak Berjangka juga disebut pasar berjangka.


2. Lembaga Penjamin dan Mekanisme Pembentukan Harga

Kontrak Berjangka merupakan kontrak yang standar di mana jumlah, mutu, jenis, tempat, dan waktu penyerahannya komoditi telah ditetapkan terlebih dahulu. Karena bentuknya yang standar itu, maka yang perlu di”negoisasi”kan dalam kontrak berjangka hanya harganya saja. Performance atau “terpenuhinya” Kontrak Berjangka sesuai dengan spesifikasi yang tercantum dalam kontrak, dijamin oleh suatu lembaga khusus yaitu Lembaga Kliring Berjangka.

Pembentukan harga komoditi di Bursa berlangsung secara transparan. Harga yang terbentuk tersebut akan mencerminkan kekuatan pasokan dan permintaan yang sebenarnya. Transaksi di Bursa dilakukan oleh para Anggota Bursa, yang terdiri dari Pialang Berjangka dan Pedagang Berjangka, baik dengan cara berteriak (open outcry) atau secara elektronik (authomated/electronic trading system). Selanjutnya, harga yang terjadi dicatat menurut bulan penyerahan masing-masing Kontrak Berjangka, dan diumumkan secara luas kepada masyarakat. Harga yang terjadi di Bursa ini umumnya dijadikan sebagai harga acuan (reference price) oleh dunia usaha, termasuk petani dan produsen/ pengusaha kecil, untuk melakukan transaksi di pasar fisik.


3. Manfaat Pasar Komoditi Berjangka

Ada dua manfaat utama dari penyelenggaraan perdagangan berjangka komoditi. Yaitu sebagai sarana pengelolaan resiko (risk management) melalui kegiatan lindung-nilai atau kegiatan mencoba mengurangi resiko perubahan harga/nilai untuk waktu yang akan datang dengan melakukan transaksi sekarang ini penyerahan dan pembayaran kemudian (hedging), dan sarana pembentukan harga (price discovery).

Pada dasarnya, harga komoditi primer (seperti produk-produk pertanian dan perkebunan) seringkali berfluktuasi karena ketergantungannya pada faktor- faktor yang sulit dikuasai seperti faktor cuaca atau musim, bencana alam, dan lain-lain. Dengan kegiatan lindung-nilai menggunakan Kontrak Berjangka, mereka dapat mengurangi sekecil mungkin dampak (resiko) yang diakibatkan gejolak/fluktuasi harga tersebut.

Dengan memanfaatkan Kontrak Berjangka, produsen komoditi tertentu dapat menjual komoditi yang baru akan mereka panen beberapa bulan kemudian, pada harga yang telah dipastikan sekarang ini (sebelum panen). Dengan demikian, mereka dapat memperoleh jaminan harga sehingga tidak terpengaruh oleh kenaikan/penurunan harga jual di pasar tunai.

Manfaat yang sama juga dapat diperoleh pihak lain seperti eksportir yang harus melakukan pembelian komoditi di masa yang akan datang, pada saat harus memenuhi kontraknya dengan pembeli diluar negeri. Atau pengolah, yang harus melakukan pembelian komoditi secara berkesinambungan dan terus menerus.

Manfaat kedua adalah sebagai sarana pembentukan harga yang transparan dan wajar, yang mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan yang sebenarnya dari komoditi yang diperdagangkan. Hal ini dimungkinkan, karena transaksi hanya dilakukan oleh/melalui Anggota Bursa, mewakili nasabah atau dirinya sendiri. Artinya, antara pembeli dan penjual Kontrak Berjangka tidak saling kenal/ mengetahui secara langsung, karena setiap transaksi dalam bursa tentunya tidak boleh secara langsung tetapi harus melalui pialang/pedagang perantara yang tidak lain merupakan anggota bursa.


4. Contoh Pasar Komoditi Berjangka:

Pasar komoditi berjangka biasanya dipergunakan oleh para produsen, konsumen, pedagang, maupun spekulan. Bagi produsen atau konsumen menggunakan Kontrak Berjangka sebagai alat untuk melindungi dirinya dari resiko fluktuasi harga, sedangkan bagi pedagang atau spekulan kontrak berjangka digunakan untuk mencari keuntungan. Oleh karena itu secara garis besar penggunan kontrak berjangka ada dua pihak. Pihak pertama yang disebut “hedger”, yaitu pihak yang menggunakan Kontrak Berjangka untuk mengurangi resiko. Di pihak lain terdapat apa yang disebut “investor/spekulator”, yaitu mereka yang ingin mencari keuntungan dari adanya fluktuasi harga.

Investor atau spekulator biasanya akan membeli Kontrak Berjangka pada saat harga rendah, dan menjualnya pada saat harga naik. Atau sebaliknya, menjual Kontrak Berjangka pada saat harga diperkirakan akan mengalami penurunan, dan membelinya kembali pada saat harga rendah.

Contoh kongkrit di pasar berjangka sebagai berikut. Misal, saat sekarang ini di bulan Juli seorang produsen gula mengharapkan dapat menjual gula yang akan dihasilkannya sejumlah 1000 ton dalam waktu kurang lebih 3 bulan mendatang atau di akhir bulan September atau awal bulan Oktober. Produsen tersebut berharap memperoleh keuntungan yang wajar jika bisa menjual gula yang akan dihasilkannya pada harga US$ 240/ton. Harga di pasar berjangka untuk 3 bulan mendatang (penyerahan bulan Oktober) sebesar US$ 258/ton. Karena harga di pasar berjangka untuk penyerahan bulan Oktober sudah cukup tinggi menurut versi produsen gula, maka Si produsen kemudian menggunakan jasa Pialang Berjangka untuk menjual semua gula produknya sebesar 1000 ton di pasar berjangka untuk penyerahan bulan Oktober pada harga US$ 258/ton. Pada akhir bulan September, ketika gula milik si Produsen sudah siap dijual, ternyata harga gula di pasar fisik (pasar lokal atau pasar biasa) turun menjadi US$ 235/ton. Sementara penurunan juga terjadi di pasar berjangka, harga untuk penyerahan bulan Oktober turun menjadi US$ 245/ton.

Akhir bulan September ketika gula sudah siap, akhirnya Si produsen memutuskan menjual semua gula produksinya di pasar lokal pada harga US$ 235/ton, dan pada saat yang sama dia juga memutuskan membeli sejumlah 1000 ton gula melalui kontrak di pasar berjangka, untuk penyerahan bulan Oktober pada harga US$ 245/ton. Berarti, si produsen sekarang sekarang ini (akhir bulan September) memiliki kontrak jual gula sebanyak 1000 ton pada harga US$ 258/ton untuk penyerahan bulan Oktober dan sekaligus juga memiliki kontrak beli 1000 ton pada harga US$ 245/ton untuk penyerahan bulan Oktober.

Dari dua kontrak di pasar berjangka di atas, sebenarnya untuk produsen memberinya keuntungan sebesar US$ 13/ton. Keuntungan sebesar US$ 13/ton ini jika ditambahkan pada penerimaan yang diperoleh dari penjualan gula pasar lokal pada harga US$ 235/ton, sehingga harga jual sebenarnya diterima produsen menjadi US$ 248/ton. Harga ini tentunya sudah di atas harga yang wajar yang diharapkan produsen yaitu sebesar US$ 240/ton.

Kondisi sebaliknya yaitu bila harga naik, misalnya, harga di pasar lokal pada bulan September naik menjadi US$ 260/ton, sedangkan harga kontrak penyerahan Oktober di pasar berjangka naik menjadi 270/ton. Kondisi ini bagi si produsen menderita kerugian di pasar berjangka sebesar US$ 12/ton, karena kontrak berjangka penjualan produsen untuk penyerahan bulan Oktober hanya sebesar US$ 258/ton. Jika produsen sama sekali tidak melakukan kontrak berjangka, berarti ia bisa menjual produknya di pasar lokal bulan Oktober senilai US$ 260/ton. Karena ia memutuskan melakukan kontrak maka hasil yang diterima produsen hanya sebesar US$ 248/ton sebagai harga akhir yang diterima. Dari contoh di atas, jika produsen tidak melakukan penjualan melalui pasar
berjangka dan kebetulan harga mengalami penurunan maka ia akan menerima kerugian yang cukup besar atau hanya akan menerima penjualan gulanya sebesar US$235/ton. Sebaliknya jika ia tidak melakukan kontrak berjangka dan harga mengalami kenaikan memang lebih menguntungkan, dibanding jika ia melakukan kontrak berjangka. Namun perlu diingat bahwa fungsi kontrak berjangka lebih pada meminimalkan resiko fluktuasi harga atau pada perlindungan nilai. Berarti melakukan kontrak tetap dianggap lebih menguntungkan.

Hal yang perlu diperhatikan juga bahwa dalam melakukan kontrak pada pasar berjangka maka semua pengguna pasar berjangka, dipersyaratkan menyerahkan sejumlah uang yang di sebut “margin”. Besarnya per kontrak umumnya berkisar antara 5% - 10% dari nilai kontrak, tergantung pada komoditi, waktu, dan gejolak harga yang terjadi. Selain menyerahkan margin, dalam pasar berjangka ada biaya komisi yang dikenakan oleh Pialang Berjangka, yang besaran minimumnya ditetapkan Bursa atas persetujuan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).



DAFTAR PUSTAKA

Ekonomi 1 : Untuk SMA dan MA Kelas X/ Disusun Oleh Supriyanto, Ali Muhson; editor, Taupik Mulyadi. -- Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009