Macam-Macam Norma

Norma itu pada umumnya berlaku dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu, misalnya dalam lingkungan etnis tertentu, di suatu wilayah atau negara tertentu. Namun, ada pula norma-norma yang bersifat universal yang berlaku bagi seluruh umat manusia, misalnya larangan menipu, mencuri, menganiaya, membunuh, dan lain–lain.
Secara umum, kita dapat membedakan norma menjadi 2 macam.

a. Norma khusus adalah aturan yang berlaku dalam bidang kegiatan atau kehidupan khusus, misalnya aturan olahraga, aturan pendidikan atau aturan sekolah, dan sebagainya.
b. Norma umum adalah norma yang bersifat umum atau universal.

 

Macam-Macam Norma

Di dalam kehidupan masyarakat terdapat norma-norma (aturan-aturan) yang mengatur perilaku anggota masyarakat, yaitu sebagai berikut.

a. Norma Agama
Norma agama merupakan aturan- aturan yang mutlak kebenarannya karena aturan-aturan tersebut berasal dari Tuhan Yang Mahakuasa. Kebenaran norma agama adalah mutlak. Hal ini disebabkan oleh aturan dan sanksinya diciptakan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Norma agama berisi petunjuk Tuhan yang berupa perintah (kewajiban dan anjuran), larangan (haram dan bathil) dan sanksinya bagi yang melanggar (di akhirat).

b. Norma Kesusilaan
Mengerjakan salat merupakan salah satu perintah Allah Swt. Bagi umat Islam, salat merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan tiap hari. Norma kesusilaan merupakan aturan-aturan yang bersumber dari suara hati nurani manusia berupa perintah dan larangan hati nurani manusia. Contohnya, kita harus jujur, mencintai sesama manusia, tidak boleh bohong, dan tidak boleh menyakiti orang lain. Seorang yang melanggar norma ini akan menerima sanksi berupa perasaan tidak tentram, resah, gelisah, dan sebagainya.

c. Norma Kesopanan
Norma kesopanan adalah peraturan hidup yang mengatur sikap dan tingkah laku manusia dalam masyarakat. Norma ini berisi perintah masyarakat yang harus dilaksanakan dan larangan masyarakat yang tidak boleh dilakukan. Contohnya antara lain:
1) jangan meludah di sembarang tempat,
2) berbicara dengan orangtua berbahasa yang halus dan sopan, dan
3) mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain.

Berpakaian rapi merupakan salah satu contoh dari norma kesopanan. Pelanggaran terhadap norma kesopanan, akan menimbulkan sanksi dari masyarakat yang berwujud teguran, caci maki, cemooh, diasingkan dari pergaulan, dan sebagainya.

d. Norma Hukum
Norma hukum adalah seperangkat peraturan yang dibuat oleh negara atau badan yang berwenang. Norma hukum berisi perintah negara yang harus dilaksanakan dan larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan oleh warga negara. Sifat dari norma ini adalah tegas dan memaksa.

Sifat “memaksa” dengan sanksinya yang tegas dan nyata inilah yang merupakan kelebihan dari norma hukum, jika dibanding- kan dengan norma-norma yang lainnya. Demi tegaknya hukum, negara mempunyai lembaga beserta aparat–aparatnya di bidang penegakan hukum seperti polisi, jaksa, dan hakim. Bila seseorang melanggar hukum, ia akan menerima sanksi berupa hukuman, misalnya hukuman mati, penjara, kurungan, dan denda.
Adapun unsur–unsur dan ciri–ciri norma hukum adalah:
1) peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat;
2) peraturan itu diadakan oleh badan–badan resmi yang berwajib;
3) peraturan yang bersifat memaksa;
4) sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas;
5) berisi perintah dan atau larangan;
6) perintah dan/atau larangan itu harus dipatuhi dan ditaati oleh setiap orang.

Konsekuensi dari pelaksanaan peraturan hukum ini dapat dipaksakan oleh alat-alat negara. Timbulnya norma hukum dalam masyarakat suatu negara, karena norma adat, norma agama, dan norma kesusilaan, dirasakan belum cukup untuk menjamin adanya suatu ketertiban dalam hidup bermasyarakat. Selain itu, dalam norma tersebut tidak adanya suatu paksaan dari alat-alat negara. Akibatnya, seringkali orang mengabaikan norma agama, kesusilaan, dan kesopanan. Jadi, norma hukum diadakan agar ketiga norma tersebut ditaati oleh masyarakat. Dengan demikian, orang memerlukan norma hukum karena beberapa hal sebagai berikut:
1) Tidak semua orang menaati dan patuh pada norma kesusilaan, norma adat, dan norma agama.
2) Masih banyak kepentingan-kepentingan manusia yang tidak dijamin oleh ketiga norma yang disebutkan di atas, misalnya keharusan berjalan di sebelah kiri (peraturan lalu lintas) justru benar–benar merupakan asli norma hukum.
3) Masih adanya kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan norma kesusilaan, norma adat/kemasyarakatan dan norma agama, padahal masih memerlukan perlindungan.

Tidak sedikit bentuk perbuatan atau tingkah laku yang sama–sama dianjurkan atau dilarang oleh berbagai norma tersebut di atas. Sebagai contoh, berbakti kepada orangtua adalah sikap atau perbuatan yang dianjurkan oleh norma agama, norma kesusilaan, maupun norma kesopanan atau norma sosial. Perbuatan menipu adalah perbuatan yang dilarang oleh norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan atau norma sosial maupun norma hukum. Sementara itu, perbuatan mengendarai motor tanpa menggunakan helm atau tidak membawa SIM adalah perbuatan yang melanggar norma hukum, tetapi tidak melanggar norma agama, kesusilaan maupun kesopanan.

Berdasarkan kekuatan daya pengikatnya, norma-norma sosial dibagi menjadi tata cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), adat-istiadat (customs), dan hukum (laws).

a. Tata Cara (usage)
Proses interaksi yang terus-menerus akan melahirkan pola-pola tertentu yang dinamakan tata cara (usage). Tata cara merupakan norma yang menunjukkan pada satu bentuk perbuatan dengan sanksi yang sangat ringan terhadap pelanggarnya dibandingkan norma lainnya. Misalnya, pada waktu makan bersendawa atau mendecak, tidak mencuci tangan sebelum makan, dan sebagainya. Pelanggaran terhadap norma ini tidak akan mengakibatkan sanksi yang berat, melainkan hanya sekadar celaan atau dinyatakan tidak sopan oleh orang lain. Tidak mendecak atau bersendawa pada waktu makan merupakan salah satu bentuk tata cara. Pelanggaran terhadapnya hanya mendapat sanksi yang ringan.

b. Kebiasaan (folksways)
Kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk sama. Mengapa orang melakukan perbuatan yang sama dan diulang-ulang? Ya, perbuatan itu diulang-ulang membuktikan bahwa orang menyukainya. Jadi, kebiasaan (folkways) merupakan cara-cara bertindak yang digemari oleh masyarakat sehingga dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang. Kebiasaan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada tata cara, misalnya memberikan salam pada waktu bertemu, membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada orang yang lebih tua, membuang sampah pada tempatnya, berterima kasih atas pemberian orang lain, dan sebagainya.

Seseorang atau kelompok orang yang tidak melakukan kebiasaan, akan dianggap sebagai penyimpangan terhadap kebiasaan umum dalam masyarakat dan setiap orang akan menyalahkannya. Sanksi yang akan diterima bagi pelanggarnya dapat berupa teguran, sindiran, digunjingkan, dan dicemooh.

c. Tata Kelakuan (mores)
Tata kelakuan merupakan norma yang bersumber pada ajaran agama, filsafat, nilai kebudayaan atau ideologi yang dianut oleh masyarakat. Tata kelakukan (mores) adalah aturan yang berlandaskan pada apa yang baik dan seharusnya. Dengan demikian, tata kelakuan dapat berupa norma kesusilaan dan norma agama. Apabila orang melang- gar kebiasaan akan dianggap aneh, tetapi kalau melanggar tata kelakuan (mores) akan disebut jahat. Contohnya adalah larangan berzina, berjudi, minum minuman keras, penggunaan narkoba, dan mencuri.

Pelanggaran terhadap tata kelakuan (mores) ini, akan mengakibatkan sanksi yang berat, misalnya diusir dari kampungnya sehingga mores juga disebut sebagai norma berat. Tata kelakuan suatu masyarakat mungkin akan bertolak belakang/berbeda dengan tata kelakukan masyarakat lain. Demikian juga tata kelakuan yang dianut masyarakat Indonesia mungkin dianggap bertentangan oleh bangsa lain di luar Indonesia, misalnya bangsa Kurtachi buang air besar di depan umum atau orang laki-laki di Uganda harus berpakaian lengkap, sedangkan wanitanya harus telanjang. Perbuatan ini bagi masyarakat Indonesia disebut tidak sopan.

Tata kelakuan sangat penting bagi terwujudnya keteraturan sosial dalam masyarakat. Tata kelakuan di satu pihak memaksakan suatu perbuatan dan di lain pihak melarang suatu perbuatan. Tata kelakuan secara langsung merupakan suatu alat pengendalian sosial agar anggota masyarakat menyesuaikan tindakan-tindakannya dan perbuatan- perbuatannya dengan tata kelakukan tersebut. Bagaimana pentingnya tata kelakukan itu dan apa fungsinya?

Tata kelakuan sangat penting dalam masyarakat, karena memiliki fungsi berikut ini.
1) Memberikan batas-batas pada kelakukan-kelakuan individu (berupa perintah dan larangan).
2) Mengidentifikasikan individu dengan kelompoknya (memaksa individu untuk menyesuaikan perikelakuannya dengan norma yang berlaku).
3) Menjaga solidaritas antaranggota masyarakat (menjaga keutuhan dan kerjasama antaranggota masyarakat).

d. Adat-Istiadat (customs)
Tata kelakuan yang kekal dan kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat dapat mengikat menjadi adat- istiadat. Jadi, apakah adat-istiadat itu? Bagaimana kekuatan mengikatnya? Adat-istiadat merupakan norma yang tidak tertulis namun sangat kuat mengikatnya sehingga anggota-anggota masyarakat yang melanggar adat-istiadat akan menderita yang kadang-kadang secara tidak langsung dikenakan. Contohnya adalah adat-istiadat yang berlaku di masyarakat Lampung, seorang suami tidak boleh menceraikan istrinya. Apabila terjadi perceraian maka tidak hanya yang bersangkutan yang tercemar namanya, tetapi seluruh keluarganya bahkan sukunya juga. Sanksinya dapat berupa pengucilan, dikeluarkan dari masyarakat/ sukunya atau harus memenuhi persyaratan tertentu, seperti upacara adat. Menurut adat-istiadat mereka, suatu perkawinan dinilai sebagai kehidupan bersama yang sifatnya abadi yang hanya terputus apabila salah satu meninggal dunia(cerai-mati).Untuk menghilangkan kecemaran diperlukan upacara adat.

e. Hukum (laws)
Hukum merupakan norma yang bersifat formal, berupa aturan tertulis yang dibuat oleh lembaga yang berwenang dan memiliki sanksi yang tegas dan memaksa. Norma hukum berupa peraturan perundang-undangan, seperti UUD 1945, Undang-Undang, Perpu, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Daerah, misalnya Undang-Undang No. 14 Tahun 1993 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. Di dalamnya terdapat ketentuan yang mengatur ketertiban berlalu lintas di jalan. Setiap pengendara bermotor wajib menaati peraturan lalu lintas, wajib memiliki SIM, wajib membawa STNK, dan sebagainya. Siapa saja yang melanggarnya akan menerima sanksi yang tegas dan memaksa. Apakah sanksinya bagi orang melanggar norma-norma?

 

DAFTAR PUSTAKA
Pendidikan Kewarganegaraan 1 : Untuk SMP/MTs Kelas VII / penulis, Slamet Santosa, editor/penelaah, Sumarni ; penyunting bahasa, Yadi Mulyadi . — Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.