Interaksi Sosial

Interaksi Sosial

Master
Monday, July 1, 2019

Interaksi Sosial
Interaksi Sosial

Interaksi Sosial dalam Dinamika Sosial Budaya

Setiap harinya, kalian tentu melakukan hubungan dan kerja sama dengan orang lain, secara individu maupun secara kelembagaan. Manusia tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sosialnya di mana mereka harus bergaul dengan sesamanya salah satunya untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terwujud dalam tindakan. Dalam tindakan sosial akan terjadi hubungan timbal balik antarpihak-pihak yang terlibat dalam prosesnya. Di dalam ilmu sosiologi, ini yang disebut dengan interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan intisari kehidupan sosial. Artinya, kehidupan sosial tampak secara konkret dalam berbagai bentuk pergaulan seseorang dengan orang lain.

Sejak kapan manusia melakukan interaksi sosial? Tentu saja sejak manusia hadir di muka bumi ini telah ada interaksi sosial antar manusia walaupun dalam skop yang lebih kecil. Ini dapat kita lihat dari adanya naluri manusia untuk selalu hidup bersama orang lain dan ingin bersatu dengan lingkungan sosialnya. Pengaruh dan hubungan timbal balik terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok individu dan kelompok individu dengan kelompok individu. Interaksi sosial terdiri dari stimulan, respon, aksi, dan reaksi. Interaksi merupakan materi yang paling dasar dalam mempelajari sosiologi.


Interaksi Sosial

Hal terpenting dari interaksi sosial adalah tidak terlepas dari konsep tindakan atau perilaku manusia. Karena melakukan hubungan dengan orang lain melahirkan tindakan-tindakan yang akan menunjukkan variasi hubungan dengan proses berpikir, tujuan yang akan dicapai, dan cara bagaimana mencapai tujuan itu. Sebagai makhluk sosial, tindakan manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial. Adanya pengaruh timbal balik itu dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga atau yang lebih luas lagi di dalam lingkungan masyarakat. Itulah sebabnya tindakan yang dilakukan oleh manusia disebut tindakan sosial.

Menurut Max Weber, tindakan sosial adalah tindakan yang mempunyai makna, tindakan yang dilakukan seseorang dengan mem- perhitungkan keberadaan orang lain atau tindakan individu yang dapat memengaruhi individu-individu lain dalam masyarakat. Hal itu perlu diperhatikan mengingat tindakan sosial menjadi perwujudan dari perhubungan atau interaksi sosial. Jadi tindakan sosial adalah tindakan atau perilaku manusia yang mem- punyai maksud subjektif bagi dirinya, untuk mencapai tujuan tertentu dan juga merupakan perwujudan dari pola pikir individu yang bersangkutan.

Pada dasarnya tindakan sosial dapat dibedakan menjadi empat tipe yaitu:
1. Tindakan Sosial Instrumental
Tindakan sosial instrumental dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dan tujuan yang akan dicapai. Tindakan ini bersifat rasional (masuk akal). Artinya, tindakan ini didasari oleh tujuan yang telah matang dipertimbangkan. Misalnya, ketika seseorang memutuskan membeli rumah dibanding mobil karena rumah merupakan kebutuhan pokok yang harus segera dipenuhi untuk tempat berlindung anggota keluarganya dari pada mobil yang mungkin sebatas kebutuhan sekunder atau bahkan tersier.

2. Tindakan Sosial Berorientasi Nilai
Tindakan sosial berorientasi nilai dilakukan dengan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang ingin dicapai tidak terlalu dipertim- bangkan. Tindakan seperti ini menyangkut kriteria baik dan benar menurut penilaian masyarakat. Tercapai atau tidaknya tujuan bukan persoalan dalam tindakan sosial tipe ini. Yang penting adalah kesesuaian dengan nilai-nilai dasar yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.

3. Tindakan Sosial Tradisional
Tindakan sosial ini dilakukan tanpa perhitungan secara matang, melainkan lebih karena kebiasaan yang berlaku selama ini dalam masyarakat. Itulah sebabnya, tindakan ini cenderung dilakukan tanpa suatu rencana terlebih dahulu, baik tujuan maupun caranya karena pada dasarnya mengulang dari sudah dilakukan sebelumnya. Cotohnya, berbagai tradisi yang sering dilakukan masyarakat suku bangsa di Indonesia. Seperti upacara pembakaran mayat di Bali disebut ngaben.

4. Tindakan Afektif
Tindakan sosial afektif tergolong tindakan yang irasional, karena sebagian besar tindakan dikuasai oleh perasaan (afeksi) ataupun emosi, tanpa perhitungan, atau pertimbangan yang matang. Perasaan entah marah, cinta, gembira, atau sedih muncul begitu saja sebagai ungkapan langsung terhadap keadaan tertentu. Itulah sebabnya tindakan sosial ini lebih berupa reaksi spontan. Misalnya, ungkapan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya dengan memeluk atau mencium.


Interaksi sosial dalam sosiologi sangat kompleks. Dalam berinteraksi sosial, manusia selalu membutuhkan instrumen syarat yang saling berhubungan. Tanpa syarat yang lengkap, interaksi sosial akan berjalan tumpang. Adapun syarat interaksi sosial dalam sosiologi adalah:

1. Kontak Sosial
Kata kontak berasal dari “con” atau “cum” yang artinya bersama- sama dan kata “tsango” yang artinya menyentuh. Jadi secara harfiah kontak berarti saling menyentuh. Tetapi dalam sosiologi, kata kontak tidak hanya berarti saling menyentuh secara fisik belaka. Sebagai gejala sosial yang saling berhubungan, berhadapan/bertatap muka antara dua orang individu atau kelompok tanpa bersentuhan secara fisik satu sama lain. Kontak hanya mungkin berlangsung apabila kedua belah pihak sadar akan kedudukan atau keadaan masing-masing. Artinya, kontak memerlukan kerja sama kedua belah pihak.

Dalam kehidupan sehari-hari wujud kontak sosial dapat dibedakan menjadi:
a. Kontak antarindividu, kontak yang terjadi antara individu dengan individu. Misalnya, kontak antarteman, kontak anak dengan ibunya, kontak guru dengan siswanya, dan lain-lain.
b. Kontak antarkelompok, kontak yang terjadi antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. Misalnya, kontak bisnis antar perusahaan.
c. Kontak antarindividu dengan kelompok, kontak yang terjadi antara individu dengan suatu kelompok tertentu. Misalnya, kontak calon anggota DPR dengan DPR sebagai lembaga legislatif.

Sedangkan dilihat dari langsung tidaknya kontak tersebut terjadi, kontak dibedakan menjadi:
a. Kontak primer, yaitu hubungan timbal balik yang terjadi secara langsung. Kontak seperti itu disebut pula kontak langsung. Misalnya, tatap muka, saling memberikan senyum, dan lain-lain.
b. Kontak sekunder, yaitu kontak sosial yang memerlukan pihak ketiga sebagai media untuk melakukan timbal balik. Kontak seperti itu disebut pula kontak tidak langsung. Misalnya, seorang pengusaha yang meminta sekretarisnya untuk menyampaikan pesan kepada kliennya.

2. Komunikasi Sosial
Kata komunikasi berasal dari bahasa latin, “communicare” yang artinya memberi atau menanamkan. Kata communicare itu sendiri berakar dari kata “communis” yang artinya umum. Komunikasi mempunyai banyak makna. Secara sederhana bisa diartikan tidakan atau perbuatan mengirimkan atau meneruskan sesuatu. Salah satunya adalah pesan/ informasi secara lisan maupun tulisan. Komunikasi dapat diartikan suatu cara menyampaikan pesan dari satu pihak ke pihak yang lain sehingga terjadi pengertian bersama. Pengertian komunikasi lebih ditekankan pada bagaimana pesan tersebut diproses. Orang yang menyampaikan komunikasi disebut komunikator. Orang yang menerima komunikasi disebut komunikan. Pada umumnya komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, maka komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan atau kode tertentu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa isyarat atau bahasa nonverbal. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi tersebut dapat efektif apabila pesan yang disampaikan ditafsirkan sama oleh pihak penerima pesan tersebut. Interaksi sosial sebagai aksi dan reaksi yang timbal balik dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berada di luar individu. Hal ini memang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor yang menjadi dasar terbentukya proses interaksi sosial. Menurut Soekanto (1982 : 56 - 57) adapun 4 faktor yaitu:

a. Imitasi
Imitasi adalah tindakan sosial meniru sikap, tindakan, tingkah laku, atau penampilan fisik seseorang secara berlebihan. Sebagai suatu proses, ada kalanya imitasi berdampak positif apabila yang ditiru tersebut individu- individu yang baik menurut pandangan masyarakat. Akan tetapi imitasi bisa juga berdampak negatif apabila sosok individu yang ditiru berlawanan dengan pandangan umum masyarakat. Sebagai contoh, seorang remaja yang meniru cara berpakaian idolanya.

b. Sugesti
Sugesti adalah pemberian pengaruh atau pandangan dari satu pihak kepada pihak lain. Akibatnya pihak yang dipengaruhi akan tergerak mengikuti pengaruh/pandangan tersebut dan menerimanya secara sadar atau tidak sadar tanpa berpikir panjang. Sugesti biasanya dilakukan dari orang-orang yang berwibawa dan memiliki pengaruh besar di lingkungan sosialnya. Akan tetapi, sugesti dapat pula berasal dari kelompok besar (mayoritas) terhadap kelompok kecil (minoritas) ataupun orang orang dewasa terhadap anak-anak. Cepat atau lambatnya proses sugesti ini sangat tergantung pada usia, kepribadian, kemampuan intelektualnya dan keadaan fisik seseorang. Sebagai contoh, kampanye yang dilakukan oleh calon presiden untuk menarik massa agar memberikan pilihan kepadanya.

c. Identifikasi
Identifikasi adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Orang lain yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola. Identifikasi merupakan bentuk lanjut dari proses imitasi dan proses sugesti yang pengaruhnya telah amat kuat. Biasanya proses identifikasi berlangsung secara kurang disadari oleh seseorang. Namun, yang pasti, sang idola yang menjadi sasaran identifikasi benar-benar dikenal entah langsung (face to face) ataupun tidak langsung (melalui media informasi). Misalnya seorang bawahan yang berusaha mengidentifikasikan dirinya dengan sang atasan karena rasa kekaguman yang mendalam se-hingga semua hal dikaitkan dengan identifikasi atasan.

d. Simpati
Simpati adalah suatu proses dimana seseorang merasa tertarik dengan orang lain. Rasa tertarik ini didasari atau didorong oleh keinginan-keinginan untuk memahami pihak lain, memahami perasaannya ataupun bekerja sama dengannya. Dibandingkan dengan ketiga faktor interaksi sosial sebelumnya, simpati terjadi melalui proses yang relatif lambat. Namun pengaruh simpati lebih mendalam dan tahan lama. Agar simpati dapat berlangsung diperlukan adanya saling pengertian antara kedua belah pihak. Pihak yang satu terbuka mengungkapkan pikiran ataupun isi hatinya. Sedangkan pihak yang lain mau menerimanya. Itulah sebabnya simpati menjadi dasar hubungan persahabatan.


Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial terbagi dua, yaitu proses asosiatif (kerja sama, akomodasi, asimilasi, akulturasi) dan proses disosiatif (persaingan, kontravensi, pertikaian, konflik sosial).

1. Proses Asosiatif

a. Kerja sama
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama dilakukan sejak manusia berinter-aksi dengan sesamanya. Kebiasaan dan sikap mau bekerja sama dimulai sejak kanak-kanak, mulai dalam kehidupan keluarga lalu meningkat dalam kelompok sosial yang lebih luas. Kerja sama berawal dari kesamaan orientasi.

Menurut Charles H Cooley, seperti dikutip Soekanto (1982  : 66) Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mem-punyai kepentingan- kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan tersebut. Kesadaran akan adanya kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam menjalin kerja sama. Kerja bakti atau gotong royong, misalnya, merupakan salah satu contoh bentuk kerja sama. Lebih lanjut, bentuk kerja sama dibagi menjadi 4 yaitu:
1) Kerja sama spontan, yaitu kerja sama yang terjadi secara serta merta.
2) Kerja sama langsung, yaitu kerja sama sebagai hasil dari perintah atasan kepada bawahan atau penguasa terhadap rakyatnya.
3) Kerja sama kontrak, yaitu kerja sama atas dasar syarat-syarat atau ketetapan tertentu, yang disepakati bersama.
4) Kerja sama tradisional, yaitu kerja sama sebagian atau unsur-unsur tertentu dari sistem sosial.

b. Akomodasi
Akomodasi adalah suatu proses penyesuaian diri dari orang perorang atau kelompok-kelompok manusia yang semula saling bertentangan sebagai upaya untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Tujuan dari akomodasi adalah terciptanya keseimbangan interaksi sosial dalam kaitannya dengan norma dan nilai yang ada di dalam masyarakat. Ini dapat digunakan untuk menyelesaikan pertentangan, entah dengan menghargai kepribadian yang berkonflik atau dengan cara paksaan atau tekanan. 

Bentuk-bentuk akomodasi antara lain:
1) Coersion
Suatu bentuk akomodasi yang terjadi melalui pemaksaan kehendak pihak tertentu terhadap pihak lain melalui pemaksaan kehendak pihak tertentu terhadap pihak lain yang lebih lemah.

2) Kompromi
Suatu bentuk akomodasi ketika pihak-pihak yang terlibat perselisihan saling mengurangi tuntutan agar tercapai suatu penyelesaian, semua pihak bersedia untuk merasakan dan memahami keadaan pihak lainnya.

3) Arbitrasi
Suatu bentuk akomodasi apabila pihak-pihak yang berselisih tidak sanggup mencapai kompromi sendiri. Untuk itu, akan diundang pihak ketiga yang tidak memihak (netral) untuk mengusahakan penyelesaian pertentangan tersebut. Pihak ketiga disini dapat pula ditunjuk atau dilaksanakan oleh suatu badan yang dianggap berwenang.

4) Mediasi
Suatu bentuk akomodasi yang hampir sama dengan arbitrasi. Namun, pihak ketiga yang bertindak sebagai penengah atau juru damai tidak mempunyai wewenang untuk memberi keputusan-keputusan penyelesaian perselisihan antara kedua belah pihak.

5) Konsiliasi
Suatu bentuk akomodasi untuk mempertemukan keinginan- keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.

6) Toleransi
Suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang resmi. Biasanya terjadi karena adanya keinginan-keinginan untuk sedapat mungkin menghindarkan diri dari perselisihan yang saling merugikan kedua belah pihak.


7) Stalemate
Suatu bentuk akomodasi ketika kelompok yang terlibat pertentangan mempunyai kekuatan seimbang.

8) Ajudikasi
Penyelesaian masalah atau sengketa melalui pengadilan atau jalur hukum.

c. Asimilasi
Menurut Soerjono Soekanto, asimilasi merupakan proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindakan, sikap, dan proses mental dengan memperhatikan tujuan dan kepentingan bersama. Artinya, apabila orang-orang melakukan asimilasi ke dalam suatu kelompok manusia atau masyarakat maka tidak lagi membedakan dirinya dengan kelompok tersebut. Secara singkat proses asimilasi adalah peleburan dua kebudayaan menjadi satu kebudayaan. Tetapi hal ini tidak semudah yang dibayangkan karena banyak faktor yang memengaruhi suatu budaya itu dapat melebur menjadi satu kebudayaan. Adapun faktor- faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi adalah:
1) Adanya sikap toleransi terhadap kebudayaan lain.
2) Kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi.
3) Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya.
4) Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
5) Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan.
6) Perkawinan campuran (amalga- mation).
7) Adanya musuh bersama dari luar dari luar.

Sedangkan faktor-faktor yang menghambat terjadinya asimilasi adalah:
1) Terisolasinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat.
2) Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi.
3) Perasaan takut terhadap kekuatan kebudayaan yang dihadapi.
4) Perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.
5) Perbedaan ciri-ciri badaniah seperti warna kulit.
6) In-group feeling (perasaan yang kuat) terhadap budaya kelompoknya.
7) Apabila golongan minoritas mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa.

d. Akulturasi
Menurut Koentjaraningrat, akulturasi diartikan sebagai suatu proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari kebudayaan asing dengan sedemikian rupa sehingga unsur-unsurnya kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Proses akulturasi yang berlangsung dengan baik dapat menghasilkan integrasi unsur-unsur kebudayaan asing dengan unsur- unsur kebudayaan sendiri. Yang paling mudah menerima kebudayaan asing adalah generasi muda. Coba kalian amati begitu mudahnya kalian menerima perkembangan model rambut penyanyi barat atau model pakaian artis luar negeri. Biasanya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah unsur kebudayaan kebendaan, peralatan-peralatan yang sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat seperti komputer, handphone, mobil, dan lain-lain. Sedangkan unsur kebudayaan asing yang sulit diterima adalah unsur kebudayaan yang menyangkut ideologi, keyakinan atau nilai tertentu yang menyangkut prinsip hidup seperti komunisme, kapitalisme, liberalisme, dan lain-lain.


2. Proses Disosiatif

a. Persaingan
Persaingan merupakan suatu proses sosial ketika ada dua pihak atau lebih saling berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu. Persaingan terjadi apabila beberapa pihak menginginkan sesuatu yang jumlahnya sangat terbatas atau sesuatu yang menjadi pusat perhatian umum. Persaingan memiliki beberapa fungsi yaitu:
1) Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang sama-sama menuntut dipenuhi, padahal sulit dipenuhi semuanya secara serentak.
2) Menyalurkan kepentingan serta nilai-nilai dalam masyarakat, terutama kepentingan dan nilai yang menimbulkan konflik.
3) Menyeleksi individu yang pantas memperoleh kedudukan serta peranan yang sesuai dengan kemampuannya.

b. Kontravensi
Kontravensi merupakan proses sosial yang ditandai oleh ketidakpastian, keraguan, penolakan, dan penyangkalan yang tidak diungkapkan secara terbuka. Penyebabnya antara lain perbedaan pendirian antara kalangan tertentu dengan kalangan lain dalam masyarakat, atau bisa juga dengan pendirian masyarakat. Menurut Leopold von Wise dan Howard Becker, bentuk kontravensi adalah:
1) Kontravensi umum, misalnya penolakan, mengancam pihak lain, perlawanan.
2) Kontravensi sederhana, misalnya menyangkal pernyataan orang di depan umum.
3) Kontravensi intensif, misalnya penghasutan atau penyebaran isu.
4) Kontravensi rahasia, misalnya pembocoran rahasia.
5) Kontravensi taktis, mengejutkan pihak lain, provokasi, dan intimidasi.

c. Pertikaian
Pertikaian merupakan proses sosial bentuk lanjut dari kontravensi. Artinya dalam pertikaian perselisihan sudah bersifat terbuka. Pertikaian terjadi karena semakin tajamnya perbedaan antara kalangan tertentu dalam masyarakat. Pertikaian dapat muncul apabila individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan atau tujuannya dengan jalan menentang pihak lain dengan cara ancaman atau kekerasan.

d. Konflik
Konflik secara umum memang sering terjadi di dalam masyarakat sebagai gejala sosial yang alami. Menurut Soerjono Soekanto, konflik adalah suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuan dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan. Konflik selama ini banyak dipersamakan dengan kekerasan. Namun sesungguhnya konflik berbeda dengan kekerasan. Kekerasan adalah perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau juga menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Konflik dapat berubah menjadi kekerasan apabila upaya-upaya yang berkaitan dengan tuntutan akan dapat menimbulkan gerakan yang mengarah pada kekerasan. Menurut Robert Lawang, konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan, dimana tujuan dari mereka yang berkonflik tidak hanya memperoleh keuntungan tetapi juga untuk menundukkan saingannya. Konflik sosial merupakan proses sosial antar- perorangan atau kelompok suatu masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara pihak yang bertikai.



Perubahan Dinamika Sosial Budaya

Sejarah tahapan perkembangan manusia selalu berubah-berubah dari masa prasejarah, feodalisme, pertanian, industrialisasi, sampai pada globalisasi yang sekarang berkembang. Karena untuk mempertahankan dan mengembangkan kelangsungan hidupnya, manusia mengalami dinamika perubahan yang bersifat dinamis. Manusia selalu berusaha untuk melakukan penyesuaian (adaptasi) dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya, penduduk Eskimo yang selalu menggunakan baju tebal untuk melindungi tubuhnya dari rasa dingin. Adaptasi menuntut pola-pola perilaku yang dapat membantu manusia mengatasi persoalan hidup, membantu mempermudah pekerjaannya dan melindungi diri dari bahaya. Teknologi yang semakin modern dan canggih mampu mengubah manusia dari kebiasaan dan budaya yang selama ini disepakati. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami dinamika kebudayaan manusia yang selalu berubah-ubah agar manusia mampu memperbaiki kualitas hidupnya.

Ketika manusia mengalami perubahan, maka masyarakat juga tidak terlepas mengalami perubahan. Perubahan dan dinamika merupakan akibat dari adanya interaksi antarmanusia dan antarkelompok. Perubahan dan dinamika yang terjadi berupa perubahan nilai-nilai sosial, norma- norma yang berlaku di masyarakat, pola-pola perilaku, perubahan susunan kelembagaan, dan masih banyak lagi. Perubahan sosial budaya adalah semua bentuk perubahan struktur sosial dan struktur budaya termasuk corak kebudayaannya sebagai akibat adanya ketidaksesuaian diantara unsur-unsur sosial budaya yang baru yang dianggap ideal.

Menurut Kingsley Davis, perubahan sosial diartikan sebagai perubahan-perubahan yang terjadi di dalam struktur dan fungsi masyarakat. Mac Iver menyebutkan perubahan sosial sebagai perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan dalam hubungan sosial. Perubahan sosial selalu terjadi di dalam masyarakat dan merupakan sesuatu hal wajar sepanjang manusia saling berinteraksi dan bersosialisasi. Beberapa teori menyebutkan mengapa terjadi perubahan sosial budaya dalam masyarakat.

1. Teori Evolusi
Durkheim berpendapat bahwa perubahan karena evolusi memengaruhi cara pengorganisasian masyarakat, terutama yang berhubungan dengan kerja. Ferdinand Tonies, memandang bahwa masyarakat berubah dari masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan yang erat dan kooperatif menjadi tipe masyarakat besar yang memiliki hubungan khusus dan impersonal. Tonies tidak yakin bahwa perubahan-perubahan tersebut membawa kemajuan. Bahkan dia melihat adanya fragmentasi sosial (perpecahan dalam masyarakat), individu menjadi terasing dan lemahnya ikatan sosial sebagai akibat langsung dari perubahan sosial budaya ke arah individualisasi dan pencarian kekuasaan. Gejala ini tampak jelas pada masyarakat perkotaan. Teori ini hanya menjelaskan bagaimana proses perubahan terjadi.

2. Teori Konflik
Konflik berasal dari pertentangan kelas antara kelompok yang tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini berpedoman pada pemikiran Karl Marx yang menyebutkan konflik kelas sosial merupakan sumber yang paling penting dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial. Ralph Dahrendorf berpendapat bahwa semua perubahan sosial merupakan hasil dari konflik kelas kepentingan di masyarakat. Konflik dan pertentangan selalu ada dalam setiap bagian masyarakat. Prinsip dasar teori konflik yaitu konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat dalam struktur masyarakat.

3. Teori Fungsionalis
Pemikiran ini berasal dari konsep goncangan budaya (cultural lag) dari William Ogburn. Meskipun unsur-unsur masyarakat saling berhubungan satu sama lain, beberapa unsurnya bisa saja berubah-ubah dengan sangat cepat sementara unsur lainnya tidak secepat itu sehingga tertinggal di belakang. Ketertinggalan ini menjadikan kesenjangan sosial dan budaya antara unsur-unsurnya yang berubah sangat lambat dan unsur yang berubah sangat cepat. Kesenjangan ini akan menyebabkan adanya goncangan budaya sosial budaya dalam masyarakat.

Misalnya perubahan teknologi biasanya lebih cepat daripada perubahan budaya nonmaterial seperti kepercayaan yang mengatur masyarakat. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa perubahan teknologi seringkali menghasilkan goncangan budaya yang pada gilirannya akan memunculkan pola-pola perilaku baru meskipun terjadi konflik dengan nilai-nilai tradisional.

4. Teori Siklus
Teori ini mempunyai perspektif bahwa perubahan sosial tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh siapapun bahkan orang-orang yang ahli sekalipun. Dalam setiap masyarakat terdapat siklus yang harus diikuti. Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu peradaban tidak dapat dielakkan dan tidak selamanya perubahan sosial membawa kebaikan.

Menurut Oswald Spenger, setiap masyarakat berkembang melalui empat tahap perkembangan pertumbuhan manusia yaitu masa kanak- kanak, remaja, dewasa, dan tua. Masyarakat Barat telah mencapai kejayaan pada masa dewasa yaitu selama zaman pencerahan abad ke-18. Sejak saat itu tidak terelakkan lagi peradaban Barat mulai mengalami kemunduran menuju ke masa tua. Tidak ada yang dapat menghentikan proses ini. Arnold Toynbee, menyebutkan bahwa kebangkitan dan kemunduran suatu peradaban bisa dijelaskan melalui konsep-konsep kemasyarakatan yang saling berhubungan satu sama lain yaitu tantangan dan tanggapan. Tiap- tiap masyarakat menghadapai tantangan alam dan sosial dari lingkungannya. Jika suatu masyarakat mampu merespon dan menyesuaikan diri dengan tantangan tersebut maka akan bertahan dan berkembang. Sebaliknya jika masyarakat tidak mampu maka akan mengalami kemunduran dan akhirnya punah. Apabila masyarakat telah mampu mengatasi satu tantangan maka akan muncul tantangan baru dan itu berulang sebagai akibat hasil interaksi antarmanusia dengan kelompoknya.

Untuk melihat suatu fenomena yang dapat mendorong terjadinya perubahan sosial budaya, dapat dibagi menjadi 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Ini untuk memudahkan dalam memberikan analisis suatu dinamika kebudayaan.

1. Faktor Internal
a. Faktor Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan dan penuru– nan jumlah penduduk secara radikal dapat menjadi faktor penyebab timbulnya dinamika budaya. Menurut Malthus, peningkatan jumlah penduduk cenderung mengurangi perse– diaan pangan, menciptakan kelebihan penduduk, dan penderitaan kecuali jika orang mampu mengendalikan pertum– buhan penduduk dengan cara menunda perkawinan. Hal ini yang terjadi di Indonesia dimana pesatnya pertumbuhan penduduk mengakibatkan berbagai persoalan sosial budaya seperti kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, dan lain-lain. Begitu juga sebaliknya, ketika terjadi penurunan jumlah penduduk juga dapat mengakibatkan kurangnya sumber daya manusia yang tentu saja akan memengaruhi sistem dan struktur sosial masyarakat tersebut. Misalnya, terjadinya urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota) secara besar-besaran menyebabkan kurangnya tenaga kerja di bidang pertanian yang menjadi komoditi utama daerah pedesaan. Tentu saja ini berpengaruh pada sistem sosial yang ada.

Perubahan penduduk juga dapat dilihat dari terjadinya migrasi penduduk yang banyak dilakukan oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Misalnya pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri merupakan suatu contoh kasus migrasi. Akibat dari migrasi ini, TKI mempunyai pola perilaku dan norma-norma yang sudah mengalami percampuran dengan buda-ya negara tujuan. Ini jelas memengaruhi sistem sosial budaya yang ada di masyarakat.

b. Adanya Penemuan Baru
Penemuan merupakan persepsi manusia yang dianut secara bersama, mengenai suatu aspek kenyataan yang semula sudah ada. Penemuan menambahkan sesuatu yang baru pada kebudayaan karena meskipun hal itu lama akan tetapi adanya penemuan baru ini akan memberi pengaruh yang luas pada berbagai kehidupan masyarakat. Pengaruh tersebut berdampak pada terciptanya perilaku sosial dan adat istiadat yang baru di antara golongan masyarakat tersebut selain menggeser nilai dan norma sosial yang lama.

Misalnya, penemuan teknologi komputer memungkinkan orang mengerjakan segala kegiatan lebih cepat dibanding dengan menggunakan mesin ketik manual. Adanya penemuan baru tersebut (termasuk nanti dalam hal gagasan) tentu pada akhirnya akan tersebar, sehingga menjadi dikenal, diakui bahkan juga akhirnya diterima oleh masyarakat. Kesemuanya itu tentunya dapat berdampak pada terjadinya perubahan sosial dan perbedaannya (termasuk perubahan-perubahan pada sistem nilai maupun norma-norma lama) yang terdapat dalam masyarakat.

c. Invensi
Invensi seringkali disebut sebagai suatu kombinasi baru atau cara penggunaan baru dari pengetahuan yang sudah ada. Invensi dapat dibagi menjadi 2 yaitu invensi material (misalnya, telepon, komputer, mesin fax,dan lain-lain) dan invensi sosial (misalnya, peraturan/UU, bahasa,dan lain-lain). Pada kedua ragam invensi tersebut unsur-unsur lama digunakan, dikombinasikan dan dikembangkan untuk suatu kegunaan baru. Dengan demikian invensi merupakan proses yang berkesinambungan, invensi baru diawali oleh serangkaian invensi dan penemuan terdahulu. Dewasa ini semakin banyak invensi yang ditemukan melalui upaya tim penelitian seperti pemerintah, universitas maupun pihak swasta. Misalnya penemuan handphone yang telah mengalami perkembangan pesat tidak hanya untuk berkomunikasi tetapi juga bisa digunakan sebagai kamera atau radio. Ini merupakan hasil dari penelitian yang telah ada dan dikembangkan menjadi lebih bermanfaat.

d. Sistem Ideologi
Merupakan keyakinan terhadap nilai-nilai dan sikap yang bersifat kompleks terdapat dalam masyarakat. Ideologi dapat dijadikan alat untuk memelihara tetapi juga dapat mempercepat terjadinya perubahan jika nilai- nilai yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk sistem ideologi ini akan sangat sulit mengalami perubahan di masyarakat yang masih memegang nilai-nilai nenek moyang dan terikat dengan adat istiadat yang berubah secara lambat dan terpaksa. Misalnya, suku Badui yang masih memegang nilai-nilai adat yang melarang semua bentuk teknologi masuk ke wilayahnya karena adanya keyakinan bahwa teknologi hanya akan membawa pada malapetaka.


2. Faktor Eksternal
a. Lingkungan Fisik
Sangat jelas bahwa lingkungan fisik mampu memberikan perubahan baik lambat maupun cepat pada masyarakat. Misalnya, bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, banjir, dan lain-lain) mengakibatkan manusia yang terkena musibah akan berpindah tempat untuk mencari tempat aman. Hal ini sangat jelas akan memengaruhi pola perilaku yang telah terbangun selama ini, misalnya, daerah pertanian yang telah berubah fungsi menjadi pabrik atau perumahan mengakibatkan perubahan pola perilaku masyarakat sekitar.

b. Peperangan
Peperangan antara satu negara dan negara lain bisa menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan baik pada lembaga kemasyarakatan maupun struktur masyarakatnya. Pada umumnya, yang menang akan memaksakan nilai-nilai dan cara-cara lembaga masyarakat yang dianutnya kepada negara yang kalah.

c. Pengaruh Kebudayaan Lain
Interaksi yang dilakukan oleh manusia di segala penjuru dunia telah mengakibatkan campurnya atau berbaurnya kebudayaan pendatang dengan kebudayaan asli. Sudah sejak lama, manusia di dunia melakukan perjalanan jarak jauh mengelilingi dunia dengan tujuan melakukan penyebaran agama, mencari sumber daya alam, daerah jajahan,dan lain- lain.

Menurut Soerjono Soekanto, apabila salah satu atau kedua kebudayaan yang bertemu mempunyai teknologi yang lebih tinggi maka yang terjadi adalah proses imitasi berupa peniruan unsur-unsur budaya lain. Peniruan ini juga dapat mengakibatkan hilangnya kebudayaan asli dan digantikan kebudayaan asing atau terjadi percampuran dua kebudayaan. Misalnya, kebudayaan Hindu yang datang lebih dulu dibanding kebudayaan Islam mengakibatkan percampuran dua kebudayaan itu menjadi satu melalui peran Wali Songo seperti wayang.


Rangkuman

1. Interaksi sosial adalah tindakan atau perilaku individu untuk berhubungan dengan individu lain dalam pencapaian pemenuhan kebutuhan di dalam lingkungan masyarakat. Interaksi sosial tidak lepas dari bentuk tindakan sosial yang mana ada 4 macam menurut Max Weber yaitu tindakan sosial instrumental, tindakan sosial berorientasi nilai, tindakan sosial, tradisional, dan tindakan afektif.

2. Syarat terbentuknya interaksi sosial adalah pertama kontak sosial yaitu gejala sosial yang saling berhubungan, berhadapan, bertatap muka antara dua orang individu. Kedua, komunikasi sosial yaitu suatu cara penyampaian pesan dari satu pihak ke pihak yang lain sehingga terjadi pengertian bersama.

3. Bentuk-bentuk interaksi sosial dalam masyarakat ada 2 yaitu pertama, proses asosiatif adalah interaksi sosial yang bersifat positif diantaranya kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi. Kedua, proses disosiatif adalah interaksi sosial yang bersifat negatif diantaranya persaingan, kontroversi, pertikaian, dan konflik sosial.

4. Teori perubahan sosial budaya ada 4 yaitu teori evolusi (bertahap), teori konflik, teori fungsional, dan teori siklus.

5. Faktor perubahan sosial budaya ada 2 macam, yaitu pertama, faktor internal terdiri atas faktor perubahan penduduk, adanya penemuan baru, invensi, dan sistem ideologi. Kedua faktor eksternal diantaranya lingkungan fisik, peperangan, dan pengaruh kebudayaan lain.



DAFTAR PUSTAKA

  • Sosiologi Kontekstual : Untuk SMA & MA Kelas X / Penulis, Atik Catur Budiati ; editor, Rudi Hermawan, illustrator, Adi Wahyono. — Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.