Hakikat Bangsa dan Negara

Hakikat Bangsa dan Negara

Master
Saturday, July 13, 2019

Hakikat Bangsa dan Negara
Hakikat Bangsa dan Negara

Secara kodrati, manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Dalam kaitannya sebagai makhluk sosial, manusia tentu selalu berhubungan dengan sesama demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Oleh karenanya, terjadi interaksi dalam suatu wadah yang disebut masyarakat. Interaksi dalam masyarakat ini pun masih terpilah-pilah menjadi beberapa bidang, misalnya interaksi dalam bidang ekonomi, bidang hukum, bidang pendidikan, bidang politik, bidang spiritual, dan sebagainya. Untuk itu, setiap manusia akan tunduk pada bidang yang mewadahinya.

Terlebih lagi jika manusia itu berkedudukan sebagai warga negara. Manusia-manusia inilah yang disebut dengan rakyat. Mereka harus tunduk dan patuh pada kekuasaan negara. Dalam sekelompok manusia yang bernama rakyat, akan membentuk negara yang pada akhirnya disebut bangsa.

Jadi, apa hakikat bangsa itu? Untuk menemukan jawabannya, coba pelajari uraian materi dalam bab ini. Anda diajak untuk belajar memahami hakikat bangsa, di mana di dalamnya terdapat kelompok rakyat yang merasa senasib sepenanggungan untuk hidup bersama dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Hakikat Bangsa dan Negara

Pada uraian Pendahuluan di atas, tentunya Anda telah mendapatkan gambaran tentang sebuah bangsa. Adanya suatu bangsa, tidak lepas dari adanya sekelompok manusia. Manusia ini menduduki posisi sebagai rakyat dan warga negara. Dalam upaya mempertahankan identitasnya, setiap warga negara tentu memegang suatu prinsip dan sikap tertentu untuk mewujudkannya. Sikap itulah yang tercermin dalam sebuah semangat yang dikenal dengan nasionalisme dan patriotisme. Bagaimana perwujudan kedua sikap tersebut? Terlebih dahulu Anda akan diajak belajar mengenal hakikat manusia sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Selanjutnya, Anda akan diajak belajar untuk memahami pengertian sebuah bangsa dan negara. Berikut ini uraiannya.

1. Terbentuknya Bangsa
Secara etimologi, kata "manusia" berasal dari dua bahasa, yaitu bahasa Sanskerta dan bahasa Latin. Dalam bahasa Sanskerta, kata "manusia" berasal dari kata manu, sedangkan dalam bahasa Latin, kata "manusia" berasal dari kata mens. Kedua asal kata tersebut mempunyai arti berakal budi. Berdasarkan etimologi inilah, dapat memberi petunjuk tentang hakikat manusia yang sebenarnya. Petunjuk ini pula yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya sebagai ciptaan Tuhan. Secara kodrati, manusia dianugerahi akal, perasaan, pikiran, dan keyakinan, sehingga memiliki kualitas hidup. Manusia juga merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dengan derajat paling tinggi dibanding makhluk hidup lainnya. Dalam kehidupannya di masyarakat, manusia mempunyai kedudukan sebagai berikut.

a. Manusia sebagai Makhluk Individu 
Individu berasal dari kata individere artinya tidak dapat dibagi-bagikan atau sebagai manusia yang berdiri-sendiri, manusia perorangan. Manusia sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sejak lahir adalah merupakan makhluk pribadi yang tersusun atas jasmani dan rohani. Jasmani membutuhkan sandang, pangan dan papan, sedangkan rohani membutuhkan sesuatu yang tidak dibutuhkan jasmani seperti keamanan dari rasa takut, perlindungan dari rasa ketidakadilan, dan kepercayaan atau keyakinan terhadap Sang Pencipta ketika mengalami suatu kesulitan. Setiap individu memiliki kemampuan potensial kodrati untuk tumbuh dan berkembang, mulai sejak dalam kandungan ibunya, lahir dan kemudian tumbuh berkembang sampai dewasa. Pada dasarnya manusia merupakan Homo Sapiens (suatu makhluk yang berakal dan budi). Artinya bahwa manusia yang berpengalaman serta dikaruniai jasmani dan rohani, yang keduanya merupakan kesatuan dan perpaduan serasi yang disebut pribadi.

Manusia memiliki akal budi dan kehendak. Pada awalnya merupakan suatu potensi. Jika dikembangkan terus-menerus akan menjadi pribadi yang sempurna dan mencapai tujuan eksistensinya. Sehubungan dengan itu ia diberi hak-hak asasi, yaitu hak-hak asasi manusia sebagai manusia. Dia tidak hanya berhak menggunakan haknya-haknya itu, namun juga wajib menggunakannya karena hanya secara demikian manusia dapat mengemban tugasnya dan mencapai eksistensinya.

Sejak dilahirkan memang seorang manusia adalah sebuah makluk individual, namun kenyataannya dia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Sebagai contoh, seorang bayi senantiasa membutuhkan bantuan dan perhatian ibunya agar dia dapat terus tumbuh dan berkembang. Tiap-tiap individu mempunyai keunikan (spesifikasi) yang membedakannya dengan individu yang lain. Keunikan individu memuat (kelebihan dan kekurangan) pada tiap pribadi. Kekurangan manusia yang satu dapat diisi kelebihan manusia yang lainnya. Dengan demikian, maka kesemuanya itu akan mendasari rasa menerima keberadaan dan kebutuhan untuk menjalin kerja sama dengan manusia lain. Sebagai individu, manusia juga hidup bermasyarakat. Ia hidup, tumbuh, serta berkembang dalam masyarakat di mana dia berada. Hidup, tumbuh, serta berkembangnya suatu individu dalam masyarakat dihayatinya dalam kehidupan nyata dan spontan setiap hari. Segala yang dikerjakannya, akan merasa ditentukan oleh kehadiran manusia- manusia lain. Ia akan tetap membutuhkan kebersamaan dengan orang lain.


b. Manusia sebagai Makhluk Sosial
Berdasarkan pendapat Aristoteles dan Ibn Khaldun dalam buku “Ibn Khaldun, The Father of Economic” karya GN. Atiyeh, IM. Oweiss (1988), manusia tidak mungkin hidup tanpa bantuan orang lain dan selanjutnya dengan menggunakan daya pikirnya manusia berupaya agar dapat memenuhi kebutuhan pokok, tentu dengan memerlukan bantuan orang lain. Untuk menjalin hubungan satu sama lain memerlukan aktivitas komunikasi. Oleh karena itu, kecenderungan manusia berkeinginan untuk hidup serasi sebagai timbal balik satu sama lain karena manusia mempunyai dua hasrat yaitu berkeinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya dan menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.

Untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan alam sekitar tersebut, manusia mempergunakan akal, pikiran, perasaan dan kehendaknya. Dalam menghadapi alam sekelilingnya seperti udara yang dingin, atau alam yang kejam, maka manusia membuat pakaian. Manusia harus makan agar badanya tetap sehat. Mereka mengambil makanan dari alam sekitarnya dengan menggunakan akalnya. Kondisi dan situasi lingkungan alam merupakan faktor yang memotivasi untuk bekerja sama dengan orang lain. Secara modern dorongan tersebut menimbulkan kelompok sosial dalam kehidupan manusia ini karena manusia tidak mungkin hidup tanpa orang lain. Kelompok sosial tersebut merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama.

Naluri manusia untuk selalu hidup dengan orang lain disebut (gregariousress). Oleh sebab itulah, manusia juga disebut sebagai Social Animal (hewan sosial), atau hewan yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup selalu bersama. Naluri untuk hidup bersama tergambarkan dari hasrat manusia untuk selalu menjadi satu (berkelompok) dengan manusia lain dalam suatu masyarakat. Oleh sebab itulah manusia selalu mempergunakan pikirannya. Berpegang pada pendapat Aristoteles dan Ibnu Khaldun di atas,  muncul paham bahwasanya manusia adalah mahluk sosial. Sesungguhnya kemampuan manusia mengembangkan diirnya sendiri sebagai makhluk individu hanya dipunyai manusia karena ia berada dalam anggota masyarakat. Manusia hanya akan disebut manusia, jika ia berada dalam lingkungan manusia lainnya. Jadi, sifat sosial dari manusia bukan sekadar atribut tambahan, tetapi sesuatu yang mendalam dan hakiki yang menentukan kehidupan manusia.

Secara realitas, seorang manusia itu hidup bersama dalam berbagai kelompok yang beragamlatar bekalangnya. Mula-mula manusia hidup dalam sebuah keluarga. Lalu berdasarkan kepentingan dan wilayah tempat tinggalnya, ia hidup dalam kesatuan sosial yang disebut masyarakat (community) dan bangsa.


2. Memahami Hakikat Bangsa
Istilah bangsa merupakan terjemahan dari kata Nation (bahasa Inggris). Kata Nation berasal dari bahasa Latin natio yang artinya sesuatu telah lahir. Kata itu bermakna keturunan, kelompok orang yang berada dalam satu garis keturunan. Nation dalam istilah bahasa Indonesia, artinya bangsa. Kata nation berubah menjadi national yang artinya kebangsaan. Pahamnya dinamakan nasionalisme, yang artinya paham kebangsaan atau semangat kebangsaan.

a. Menurut Otto Bauer (Jerman)
Dalam buku “The Austrians: A Thousand-year Oddessey” karangan Gordon (1996), Otto Bauer mengatakan bahwa bangsa merupakan sekelompok manusia yang memiliki persamaan karakter atau perangai yang timbul karena persamaan nasib dan pengamalan sejarah budaya yang tumbuh dan berkembang bersama bangsa tersebut. Dalam Perancis, bangsa adalah suatu Charakter Gemeinschaft (persamaan nasib/karakter).

b. Menurut Ernest Renant (Prancis)
Dalam bukunya yang berjudul La Reforme Intellectuelle et Morale (1929), Ernest Renant berpendapat bahwa bangsa adalah kesatuan jiwa. Jiwa yang mengandung kehendak untuk bersatu, orang-orang merasa diri satu dan mau bersatu. Dalam istilah Perancis, bangsa adalah Ledesir d'etre ensemble. Bangsa dapat terdiri atas ratusan, ribuan, bahkan jutaan manusia, tetapi sebenarnya merupakan kesatuan jiwa. Apabila semua manusia yang hidup di dalamya mempunyai kehendak untuk bersatu maka sudah merupakan satu bangsa.

c. Menurut Hans Kohn (Jerman)
Menurut Hans Kohn dalam bukunya “Nationalism and Liberty: The Swiss Example” (1956), bangsa diartikan sebagai hasil tenaga hidup manusia dalam sejarah dan karena itu selalu bergelombang dan tak pernah membeku. Suatu bangsa merupakan golongan yang beraneka ragam dan tidak bisa dirumuskan secara eksak. Kebanyakan bangsa memiliki berbagai faktor obyek tertentu yang membedakannya dengan bangsa lain. Faktor-faktor itu berupa persamaan keturunan, wilayah, bahasa, adat istiadat, kesamaan politik, perasaan, dan agama.

d. Menurut Jalobsen dan Lipman
Menurut Jalobsen dan Lipman dalam buku “Politics: Individual and State” karya Robert Wesson (1998), bangsa adalah suau kesatuan budaya (cultural unity) dan satu kesatuan politik (political unity) . Dari beberapa pengertian bangsa oleh beberapa orang ahli yang satu denganlainnya berbeda. Hal ini disebabkan oleh sudut pandang mereka yang berbeda pula.


3. Unsur-Unsur Pembentuk Bangsa
Benedict Anderson dalam bukunya “The Nation as Imagines Community” (2001) mengartikan bangsa sebagai komunitas politik yang dibayangkan dalam wilayah yang jelas batasnya dan berdaulat. Definisi Benedict Anderson lebih menekankan pada faktor subjektif dimana menekankan pada faktor-faktor subjektif seperti sikap, persepsi dan sentimen. Secara garis besar Ada tiga unsur pokok dari pengertian itu, yaitu :

a. Komunitas politik yang dibayangkan
Anggota dari bangsa yang paling kecil sekalipun tidak saling kenal. Meskipun demikian, para anggota bangsa itu selalu memandang satu sama lain sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Perasaan sebangsa inilah yang menyebabkan banyak anggotanya rela mati bagi komunitas yang dibayangkan itu.

b. Mempunyai batas wilayah yang jelas
Bangsa dibayangkan sebagai sesuatu yang pada hakikatnya bersifat terbatas. Mengapa? Karena bangsa-bangsa yang paling besar sekalipun yang penduduknya ratusan juta jiwa mempunyai batas wilayah yang relatif jelas. Di luar perbatasan itu adalah bangsa-bangsa lain.

c. Berdaulat
Bangsa dibayangkan sebagai berdaulat. Ini karena sebuah bangsa berada di bawah suatu negara yang mempunyai kekuasaan atas seluruh wilayah dan bangsa tersebut.
Dari berbagai pengertian di atas, dapat diuraikan bahwa unsur pembentuk bangsa antara lain:
a. Ada sekelompok manusia yang mempunyai kemauan untuk bersatu.
b. Berada dalam suatu wilayah tertentu.
c. Ada kehendak untuk membentuk atau berada di bawah pemerintahan yang dibuatnya sendiri.
d. Secara psikologis merasa senasib, sepenanggungan, setujuan, dan secita-cita.
e. Ada kesamaan karakter, identitas, budaya, bahasa, dan lain-lain sehingga dapat dibedakan dengan bangsa lainnya.

Dari unsur-unsur tersebut, dapat disimpulkan bahwa bangsa merupakan sekelompok manusia yang berada dalam suatu wilayah tertentu yang mempunyai karakter, identitas atau budaya yang khas, dan bersatu. Selain itu mereka tunduk pula pada aturan tertentu karena persamaan nasib, tujuan atau cita-cita. Pengertian bangsa dan pengertian negara adalah dua hal yang berbeda karena keduanya memiliki unsur-unsur pembentuk yang berbeda.



DAFTAR PUSTAKA

Pendidikan Kewarganegaraan / penulis, Atik Hartati, Sarwono. — Jakarta : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional, 2011.