Penginderaan Jauh Part 1 – Ilmu Pengetahuan

Penginderaan Jauh
Penginderaan Jauh Part 1 – Ilmu Pengetahuan

Penginderaan Jauh –┬áHalo semua, balik lagi di situs ilmu pengetahuan. Kali ini seperti judul yang sudah kita lihat bersama, kita akan membahas mengenai penginderaan jauh. Dan untuk menghemat waktu kita mari langsung saja kita Singapura sama uraian selengkapnya di bawah ini. Baca Juga: Sistem Informasi Geografis

Penginderaan Jauh

A. Pengertian Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh adalah suatu ilmu, seni, dan teknik dalam usaha mengetahui benda dan gejala, dengan cara menganalisis objek, dan arah, tanpa adanya kontak langsung dengan benda, gejala dan objek yang sedang diteliti atau dikaji. Pengambilan data dalam penginderaan jauh biasanya dilakukan dari jarak yang jauh dengan menggunakan alat sensor buatan. Dalam proses pengkajian objek yang diteliti, sama sekali tidak terjadi kontak dengan objek. Sebab, penginderaan dilakukan dari jarak yang jauh, itulah mengapa proses ini dinamakan penginderaan jauh. Terdapat beberapa istilah dalam bahasa asing yang sering digunakan terkait penyebutan “penginderaan jauh”. Sebagai berikut:

  • Inggris : remote sensing
  • Prancis : teledection
  • Spanyol : sensoria remote
  • Jerman : femerkundung
  • Rusia : distansionaya
  • Indonesia : remote sensing

B. Komponen Dalam Penginderaan Jauh

1. Sistem Tenaga

Penginderaan jauh terjadi dengan menggunakan dua sumber tenaga, yaitu : sumber tenaga matahari dan sumber tenaga buatan. Sumber tenaga buatan biasa digunakan ketika di malam hari, saat sebuah wilayah tidak mendapatkan sumber tenaga matahari. Sumber tenaga yang dipakai pun biasanya berasal dari energi yang disebut dengan tenaga pulsa. Penginderaan jauh yang menggunakan tenaga matahari dikenal dengan sistem pasif. Sedangkan penginderaan jauh menggunakan tenaga buatan dikenal dengan sebutan sistem aktif.

2. Atmosfer

Energi yang masuk ke permukaan bumi tidak seluruhnya sampai ke permukaan bumi, melainkan hanya sebagian kecil saja yang berhasil masuk hingga permukaan bumi. Proses masuknya energi tersebut ke permukaan bumi terhambat oleh atmosfer melalui serapan, pantulan, dan diteruskan.

3. Interaksi Antara Tenaga Dan Objek

Dalam proses perekaman objek tentu diperlukan wahana, tenaga alami atau tenaga buatan, objek yang direkam, alat sensor dan Detector. Tenaga yang terpancar ke permukaan bumi atau objek akan memantul dan direkam oleh alat sensor. Di dalam alat sensor pun terdapat alat pendeteksi atau detektor. Detektor ini pun biasanya dipasang pada beberapa alat atau wahana, semisal: balon udara, pesawat, dan satelit.

4. Wahana Dan Sensor

Wahana yang dimaksud disini yaitu berupa kendaraan yang berfungsi untuk menyimpan alat perekam. Untuk merekam objek permukaan bumi bisa dilakukan di angkasa maupun di luar angkasa. Biasanya, wahana yang digunakan dalam penginderaan jauh yaitu berupa balon udara pesawat terbang pesawat ulang alik dan satelit. Masing-masing jenis wahana memiliki kerincian objek yang berbeda-beda pula.

Sensor yang dimaksud di sini adalah berupa alat yang berfungsi untuk menerima energi atau tenaga pantulan, serta pancaran yang direkam oleh alat pendeteksi / detektor. Alat sensor dalam penginderaan jauh biasanya juga dikenal dengan sebutan alat perekam. Ditinjau dari proses recording atau perekaman, alat sensor dalam penginderaan jauh terbagi menjadi 2 jenis, sebagai berikut

1. Sensor Fotografik
Sensor jenis ini biasa digunakan pada kamera. Sistem kerja sensor ini sangat bergantung pada pantulan Tenaga dari objek. Adapun Detector pada sensor fotografik berupa film, sehingga sensor fotografik dapat menghasilkan foto. Sensor fotografik yang dipasang pada Wahana pesawat udara akan menghasilkan Citra yang disebut dengan foto udara. Sedangkan sensor fotografik yang terpasang pada satelit biasanya akan menghasilkan foto yang disebut dengan citra satelit.

2. Sensor Elektronik
Sensor elektronik biasa digunakan dalam penginderaan jauh Non fotografik, sebab proses perekaman objek pada sensor ini tidak berdasarkan pembakaran, melainkan berdasarkan sinyal elektronik yang dipantulkan atau dipancarkan serta direkam oleh alat pendeteksi atau detektor. Detektor untuk alat sensor elektronik yaitu berupa pita magnetik. Proses perekamannya pun sangat bergantung pada energi yang dipantulkan dan dipancarkan. Sensor jenis ini akan merekam dengan menggunakan pita magnetik, kemudian diproses menjadi data visual dan data digital dengan menggunakan sistem komputer.

5. Perolehan Data

Data pengindraan jauh dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu : cara manual dan cara digital. Cara manual bisa dilakukan dengan cara interpretasi secara visual. Sedangkan cara digital bisa dilakukan dengan cara menggunakan komputer. Foto udara biasanya diinterpretasi secara manual.

6. Pengguna Data

Pengguna data adalah orang atau lembaga yang memakai data pengindraan jauh. Data pengindraan jauh dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Data pengindraan jauh yang memiliki kerincian dan keandalan sangat dibutuhkan oleh pengguna data.Pengindraan jauh melalui proses satelit seperti tampak pada gambar di atas, melalui berbagai proses berikut.

Penginderaan Jauh
Penginderaan Jauh

1. Spektrum Elektromagnetik
Sinar matahari sebagai spektrum elektromagnetik mengenai sasaran (objek) yang diinginkan.

2. Penyinaran
Matahari sebagai sumber energi alami digunakan dalam proses satelit sebagai sistem pasif (searah). Sinar yang masuk dihambat oleh atmosfir melalui serapan, pantulan, dan kemudian diteruskan.

3. Pemantulan dan Penangkapan
Hasil penyinaran dari sasaran (objek) yang berupa pantulan kemudian ditangkap oleh alat perekam data (citra satelit).

4. Perekaman
Hasil perekaman dari citra satelit diterima oleh piringan penerima data, dalam hal ini data secara digital, baru kemudian diolah (dicetak, disimpan, dan sebagainya) dan digunakan oleh pengguna data.

Tulisan mengenai penginderaan jauh ini bersambung ke bagian kedua.

DAFTAR PUSTAKA
Geografi 3 – Untuk SMA dan MA Kelas XII – Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.
Disusun : Nurmala Dewi
Editor : Sugeng Setyono