Biografi Pahlawan – Ilmu Pengetahuan

Biografi pahlawan
Biografi Pahlawan

Biografi Pahlawan – Ilmu Pengetahuan

Halo semua, pada kesempatan kali ini seperti judul yang sudah Anda lihat semua, kita akan membahas mengenai biografi pahlawan Indonesia. Namun, yang akan kita bahas kali ini tidak hanya mengenai satu pahlawan saja. Sebab yang akan kita bahas kali ini adalah 3 pahlawan besar Indonesia yang memiliki peran sangat penting, terkhusus dalam menyelenggarakan proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tiga pahlawan tersebut adalah Ir. Soekarno, Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo. Baiklah, untuk menghemat waktu, langsung saja simak biografi selengkapnya di bawah ini.

Biografi Ir. Soekarno

Biografi Ir. Soekarno – Saya rasa siapa pun diantara kita yang pernah mengecap bangku sekolah dasar pasti kenal dengan sosok Bung Karno. Benar! Beliau adalah Bapak Proklamator Ir. Soekarno. Keberhasilan beliau bersama segenap masyarakat Indonesia dalam meraih kemerdekaan adalah momen terbesar bagi seluruh masyarakat bumi pertiwi. Tentu saja, tanpa perjuangan Ir. Soekarno, mungkin saja saat ini kita masih bekerja keras dan berada dibawah kekuasaan Jepang 

Profil Biodata

Ir. Soekarno adalah anak dari pasangan Raden Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Beliau lahir di kota Surabaya, l6 Juni tahun 1901. Ir. Soekarno adalah seorang muslim. Beliau pernah menikah dengan beberapa orang wanita, mereka adalah : Fatmawati, Haryati Heldy Djafar, Hartini, Inggit Garnasih, Kartini manoppo, Yurike Sanger, Oetari, dan Ratna Sari Dewi. Pernikahan beliau dikaruniai beberapa orang anak, Adapun nama nama anak beliau antara lain: Megawati Soekarno Putri, Rachmawati Soekarno Putri, Mohammad Guruh Irianto Soekarno Putra, Sukmawati Soekarnoputri, Taufan Soekarnoputra, Bayu Soekarnoputra, Totok Suryawan, Kartika Sari Dewi Soekarno, Guntur Soekarnoputra, Ayu Gembirowati, Rukmini Soekarno.

Perjalanan Pendidikan

Bapak Presiden pertama kita Ir. Soekarno dikenal dengan riwayat pendidikan yang terbilang cukup baik selama hidupnya. Pada saat berusia 14 tahun, Soekarno ikut ke Surabaya bersama Bapak Oemar Said Tjokroaminoto, beliau adalah salah seorang teman ayahnya, sekaligus salah satu pendiri Sarekat Islam. Kala itu, Soekarno muda belajar di lembaga pendidikan Hoogere Burger School (H.B.S.) Surabaya. Akan tetapi sebelum itu, beliau terlebih dahulu belajar di  Eerste Inlandse School (Mojokerto), sekolah sekaligus tempat dimana ayahnya bekerja. Selepas dari Eerste Inlandse School, barulah beliau pindah ke Europeesche Lagere School (ELS), Mojokerto dan menyelesaikan pendidikan sekolah tersebut sekitar tahun 1915. Setelah menuntaskan pendidikannya di Hoogere Burger School (H.B.S.), Soekarno melanjutkan pendidikannya di Technische Hoge School atau yang kini lebih dikenal dengan sebutan Institut Teknologi Bandung (ITB). Bung Karno pun menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1925. Setelah menuntaskan pendidikannya di Technische Hoge School / ITB, Bandung. Soekarno dengan temannya saat itu, yaitu Ir. Anwari berinisiatif membentuk biro insinyur. Mereka pun berkolaborasi dan mengerjakan rancangan bangunan serta tata letak kota. Bahkan bukan hanya sekedar kota biasa, keahlian Ir. Soekarno sebagai Insinyur Tehnik Sipil juga memiliki andil yang sangat besar dalam pembangunan ibukota Indonesia. Saar itu Ir. Soekarno bekerjasama dengan beberapa arsitek tersohor seperti Frederich Silaban dan R.M Soedarsono. 

Perjalanan Politik

Sekitar tahun 1926, Bung Karno Terinspirasi dari Indonesische Studie Club, dan mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) di kota Bandung. Siapa yang menduga, pembentukan Algemeene Studie Club (ASC) inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Partai Nasional Indonesia. Selang setahun, sekitar tahun 1927 PNI pun dibentuk. Akan tetapi, aktivitas yang dilakukan oleh PNI saat itu cenderung memiliki kesan memberontak terhadap pemerintahan Belanda, hingga akhirnya Ir. Soekarno pun ditangkap. Sekitar tanggal 29 Desember 1929, Bung Karno di tangkap di Yogyakarta, dan sehari setelah penangkapan, beliau dipindahkan ke Kota Bandung. Kala itu Soekarno di tempatkan di Penjara Banceuy, Bandung. Dan pada tahun 1930, Ir. Soekarno pun di pindahkan ke wilayah Sukamiskin. Di akhir tahun 1930, Ir. Soekarno membacakan pembelaannya yang sangat fenomenal yaitu “Indonesia Menggugat” di kantor pengadilan Landraad, kota Bandung.
Setelah Ir. Soekarno bebas, bentuk penindasan yang dialami beliau pun seakan tidak ada habisnya. Pengasingan serta penangkapan terus dilakukan oleh pihak Belanda pada Bung Karno, karena dianggap melakukan aktivitas yang bersifat pemberontakkan terhadap pemerintah Belanda saat itu. Benar saja, saat itu Bung Karno kembali diasingkan ke wilayah Bengkulu, dan baru dapat merasakan kebebasan pada tahun 1942. Namun sayang, justru saat itu adalah hari yang lebih berat bagi bangsa Indonesia, berada di bawah penjajahan negara Jepang yang terkenal sangat keras. Meskipun begitu, perjuangan Ir. Soekarno dalam menyuarakan kemerdekaan dan membebaskan Indonesia dari jeratan para penjajah jepang tidak pernah berhenti. Hingga akhirnya, perjuangan panjang beliau pun terbayarkan. Indonesia mampu bangkit dan meraih kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus tahun 1945.  Tanggal 21 Juni 1970, Indonesia mengalami duka yang mendalam. Ir. Soekarno wafat dan meninggalkan bekas di hati jutaan masyarakat Indonesia. Hingga kini, nama beliau pun terus terukir di catatan sejarah, sebagai sosok pahlawan yang menghabiskan masa hidupnya untuk kemakmuran bangsa Indonesia. (Selesai)
___________________________________

Biografi Mohammad Hatta

Bila Anda mengenal sosok Bung Karno sebagai pahlawan, tentunya Anda juga mengenal sosok pria yang satu ini. Beliau adalah pria yang menjadi salah satu pencetus kemerdekaan Indonesia. Nama beliau pun kerap di sandingkan dengan Bapak Proklamator Ir. Soekarno dalam buku buku sejarah. Mohammad Hatta adalah pria kelahiran 12 Agustus 1902. Hatta lahir di salah satu kota di Provinsi Sumatra Barat, tepatnya di kota Bukit Tinggi. Mungkin tidak ada yang menyangka, anak yang lahir dari pasangan Haji Mohammad Djamil dan Siti Saleha, ternyata tumbuh dengan sangat baik dan menjadi sosok yang berpengaruh besar bagi Indonesia. Mohammad Hatta adalah sosok pria yang menjadi wakil gubernur pertama bagi negara Indonesia. 
Saat masih kecil, Hatta tumbuh di bawah pengasuhan ibunya Siti Saleha. Ketika Hatta berusia 8 bulan, ayahnya Bapak H. Mohammad Djamil pun meninggal dunia. Mohammad Hatta Kecil menjadi satu satunya anak laki laki, diantara 6 saudara perempuannya saat itu. Mohammad Hatta tumbuh menjadi sosok pemuda yang memiliki ketertarikan kuat dengan organisasi pergerakkan kala itu. Ketertarikan Beliau telah terlihat semenjak ia duduk di Meer Uirgebreid Lagere School (Sederajat Sekolah Menengah Pertama). Saat itu, Hatta memilih bergabung dan menjabat sebagai bendahara di perserikatan Jong Sumatranen Bond. Seiring berjalannya waktu, semenjak bergabungnya Mohammad Hatta di perserikatan, ia berubah menjadi sosok yang kian disiplin dan penuh dengan rasa tanggung jawab. Sehari hari, Mohammad Hatta adalah sosok pria yang memiliki ketertarikkan kuat dengan cabang ilmu perekonomian. Namun seiring waktu berjalan, kecerdasan dan ketelitian Hatta membuat ia peka terhadap hukum dan isu politik yang beredar di Indonesia kala itu.

Studi di Belanda

Mohammad Hatta melanjutkan studinya ke negara kincir angin, Belanda. Pada tahun 1932, Hatta menyelesaikan pendidikannya di Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda, dan berhasil meraih gelar Drs. Momentum perubahan di dalam diri Mohammad Hatta pun terjadi ketika ia bergabung dengan Indische Vereniging saat masih studi di Belanda. Bergabungnya Hatta dengan organisasi tersebut telah memicu ketertarikannya dengan dunia politik. Dan selang beberapa waktu, Indische Vereniging pun mengubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Waktu terus berjalan, PI yang sebelumnya merupakan organisasi mahasiswa biasa, pun berubah menjadi sebuah organisasi yang lebih besar dan memiliki andil dalam kancah politik di Indonesia saat itu. Pengaruh yang ditimbulkan PI kian massif, membuatnya di akui sebagai pos depan pergerakan nasional di wilayah eropa. Tidak sampai disitu saja, kepiawaian dan keahlian beliau dalam berorganisasi membuatnya sering ditunjuk sebagai pembicara dari Indonesia dalam berbagai konferensi yang bertaraf internasional. Sejak kecil, Hatta telah akrab dengan kegiatan membaca dan menulis. Bahkan, Mohammad Hatta adalah orang yang sangat rajin merilis artikel di harian nasional dan beragam majalan perhimpunan. Tentunya, potensi yang dimiliki Hatta tidak lepas dari kecerdasan linguistik yang di anugerahkan tuhan kepada beliau. Sekitar awal Agustus tahun 1945, Mohammad Hatta dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai wakil ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, di mana saat itu yang menjadi ketuanya adalah Ir. Soekarno. Setelah teks proklamasi kemerdekaan selesai dipersiapkan (16 Agustus 1946), 
Pada tanggal 17 Agustus 1945, berlokasi di Jl. Pangangsaan Timur Jakarta Pusat, Ir. Soekarno mengumumkan kemerdekaan Bangsa Indonesia kepada masyarakat dunia. Pada tanggal 18 Agustus masih di tahun yang sama, Ir. Soekarno pun dilantik menjadi Presiden pertama Indonesia, dan didampingi Bapak Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden Pertama Indonesia. 
Setelah Indonesia merdeka, Bung Hatta aktif mengisi ceramah di berbagai universitas di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, Bung Hatta juga berhasil meraih gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang ekonomi dan hukum dari berbagai universitas di wilayah Indonesia. Kegiatan beliau pun terus berlanjut. Beliau juga merilis sebuah buku ilmiahnya dalam bidang ekonomi dan koperasi.
Ditengah tengah kesibukkannya sebagai Wakil Presiden, beliau masih sempat memberikan bimbingan kepada gerakan koperasi, agar dapat mewujudkan cita cita ekonomi koperasi yang ia miliki. Tahun 1951, tepatnya tanggal 12 Juli, Bung Hatta menyampaikan pidatonya lewat radio sebagai bentuk penyambutan kepada hari koperasi Indonesia. Siaran lewat radio yang beliau lakukan berangkat atas kepedulian beliau terhadap gerakan koperasi yang ada di negara Indonesia. 
Sekitar 17 Juli 1953, Mohammad Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia yang diselenggarakan di Kota Bandung. 
14 Maret 1980, Mohammad Hatta wafat dengan meninggalkan Rahmi Rachim (Sang Istri) dan 3 putri kesayangannya, yaitu: Meutia Farida, Gemala Rabi’ah, dan Halida Nuriah. Bung Hatta dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta.

_________________________________________

Biografi Achmad Soebardjo

Sekilas 

Nama : Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo
Tanggal Lahir : 23 Maret 1896
Tempat Lahir : Karawang, Jawa Barat, Indonesia
Wafat : 15 Desember 1978
Jabatan : Menteri Luar Negeri Indonesia Pertama (dengan masa jabatan 2 periode)
Jabatan Lain : Duta Besar Republik Indonesia bagi negara Switzerland (1957 – 1961)
Almamater : Universitas Leiden Belanda

Bagi sebagian orang mungkin nama beliau tidak terlalu akrab sebagaimana nama Bung Karno dan Bung Hatta. Namun, meskipun tidak setenar nama Bung Karno atau Bung Hatta, bukan berarti jasa dan peranan beliau tidak bernilai bagi bangsa Indonesia. Achmad Soebardjo adalah putra dari pasangan Teuku Muhammad Yusuf dan Wardinah. Sebenarnya, nama yang disematkan sang ayah kepada Achmad Soebardjo ketika di awal awal kelahirannya adalah Teuku Abdul Manaf, adapun nama Achmad Soebardjo sendiri adalah nama yang diberikan sang bunda.

Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo lahir di Kabupaten Karang, Jawa Barat pada tanggal 23 Maret 1896. Di tahun 1917, Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo mengenyam pendidikan di HBS, singkatan dari Hogere Burger School, Jakarta. Selepas dari HBS (Hogere Burger School), beliau melanjutkan studinya di Universitas Leiden, Belanda. Pada tahun 1933, Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo pun menyelesaikan pendidikannya dan berhasil meraih gelar Meester in de Rechten. Gelar ini adalah sebuah predikat yang didapat seseorang ketika telah menyelesaikan studi ilmu hukum di sebuah universitas yang mengikuti sistem kurikulum pendidikan di Belanda.

Selama menuntut ilmu di Universitas Leiden, Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo dikenal aktif berorganisasi dan memperjuangkan hak penduduk Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Organisasi yang diikuti oleh beliau seperti Jong Java dan Persatuan Mahasiswa Indonesia Belanda. Bersama dengan Bung Hatta, Achmad Soebardjo bahkan sempat menjadi wakil Indonesia dalam konferensi antarbangsa Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajah (Organisasi Internasional) tahun 1927. Sidang pertama dari pertemuan tersebut diadakan di Brussels. Sedangkan sidang kedua dari pertemuan antarbangsa tersebut digelar di Jerman. Dalam sidang pertama, Perdana Menteri India saat itu, Jawaharlal Nehru juga turut berpartisipasi sebagai bentuk dukungan dari Negara India.
.
Setelah Achmad Soebardjo kembali ke Indonesia. Tanggal 29 April tahun 1945, BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) resmi dibentuk di Indonesia. Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo pun bergabung dan terlibat aktif di dalam organisasi tersebut. Akan tetapi, BPUPKI yang dianggap tidak dapat menunaikan tugas tugasnya dengan baik akhirnya pun dibubarkan pada tanggal 7 Agustus 1945. Namun, dihari dan tanggal yang sama, yaitu 7 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) resmi didirikan sebagai pengganti dari BPUPKI. Organisasi PPKI ini diketuai oleh Bapak Ir. Soekarno.

Dikenal Sebagai Peristiwa Rengasdengklok

Saat itu Indonesia sedang dalam kondisi darurat merdeka, para pejuang muda terpaksa membawa Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta ke kecamatan Rengasdengklok di Karawang, Provinsi Jawa Barat. Para pemuda yang membawa Ir Soekarno dan Bung Hatta antara lain; Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, Shodanco Singgih, dan para pemuda lainnya. Mereka “menculik” Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta dengan tujuan agar kedua tokoh utama dari PPKI tersebut tidak terpengaruh Jepang dalam menetapkan keputusan. Disamping itu, para pejuang muda tersebut terus mencoba menyakinkan kepada Ketua dan Wakil Ketua PPKI bahwa ketika itu Jepang sudah menyerah dan apapun resiko yang terjadi nantinya, para pejuang muda tersebut telah siap untuk menghadapinya demi meraih kemerdekaan.

Ditempat lain, di wilayah kota Jakarta, terjadi perundingan yang sangat serius antara Wikana, selaku golongan muda, dan Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo, selaku golongan tua. Dan setelah melakukan perundingan, mereka pun mengambil sebuah keputusan, dimana Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo atau yang dikenal dengan Achmad Soebardjo sepakat, bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan di selenggarakan di kota Jakarta. Beliau juga mampu meyakinkan golongan muda, agar tidak gegabah dalam memproklamirkan kemerdekaan. Kemudian, Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo pun bertolak ke Rengasdengklok untuk menjemput Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta, dan membawa keduanya kembali ke Kota Jakarta. Rangkaian dari kejadian ini pun dikenal dengan sebutan peristiwa Rengasdengklok.

Penulisan Naskah Proklamasi

Dari sekian banyak kontribusi yang dilakukan Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo bagi Indonesia, keterlibatan beliau dengan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta dalam penulisan naskah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia adalah yang paling historis yang telah beliau lakukan. Setelah melewati perumusan teks naskah proklamasi, naskah tersebut pun dibacakan di salah satu rumah orang jepang saat itu. Lalu, isi dari proklamasi tersebut pun disiarkan lewat Radio Jepang.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus 1945, pria yang bernama lengkap Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo diangkat menjadi Menteri Luar Negeri pertama negara kesatuan Indonesia. Dan pada periode kedua, tahun 1951 sampai 1952 beliau kembali dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia. Dan pada tahun 1957 sampai 1961, Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo di percaya untuk menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia di negara Switzerland.

Wafatnya Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo

Tepatnya tanggal 15 Desember tahun 1978, di Rumah Sakit Pertamina, Jakarta. Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo menghembuskan nafas terakhirnya di usianya yang ke 82 tahun. Beliau wafat akibat sakit yang dideritanya. Jenazah beliau pun dimakamkan di kawasan Cipayung, Bogor. Beragam jasa dan pengorbanan yang diberikan Achmad Soebardjo untuk Indonesia membuat Presiden mengeluarkan surat keputusan, dan menetapkan Achmad Soebardjo sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Kepres No. 58/TK/2009. (Selesai)

Biografi Pahlawan Indonesia – Ilmu Pengetahuan

Mungkin itu saja penjelasan biografi pahlawan pilihan situs ilmu Pengetahuan kali ini. Semoga bermanfaat. Jika Anda merasa tterbantu dengan artikel ini, sudi kiranya membagikan artikel ini disosial media Anda dengan mengklik button share artikel ini. Terima kasih.

By : Ilmu Pengetahuan